Banner Bawah

Ramayana, Mahabharata, Kaliyuga

Admin - atnews

2024-01-20
Bagikan :
Dokumentasi dari - Ramayana, Mahabharata, Kaliyuga
Slider 1

Oleh JMA I Ketut Puspa Adnyana
“Sebah sujud kepada Shang Hyang Embang, para Leluhur Suci, Ida Bhatara dan Para Rsi Agung yang telah melimpahkan rejeki tiada henti. Memohon ampunan kepada Sang Mahakawi Bhagawad Walmiki dan Maharsi Vedaviyasa yang telah menulis Ramayana dan Mahabharata serta Maha Purana agar tan keneng tulah, upadrawa dan pastu”.

Dalam kodifikasi ajaran Veda, Itihasa termasuk Smerti yang terdiri atas Kisah Ramayana dan Kisah Mahabharata serta 18 Maha Purana. Keduanya adalah sumber autentik ajaran Hindu. 

Ramayana ditulis oleh Bhagawad Walmiki, menjelaskan tentang Avatara Sri Wisnu yang lahir ke dunia untuk memurnikan ajaran Veda dalam wujud manusia yaitu Sri Rama pada jaman Tretayuga. 

Mahabharata ditulis belakangan yaitu pada jaman Dwaparayuga oleh Maharsi Vedaviyasa menjelaskan tentang Avatara Sri Wisnu ke dunia untuk menjaga kebenaran dan memusnahkan kebatilan. 

Delapan belas Maha Purana, khususnya Bhavisya Purana ditulis menjelang Kaliyuga oleh Maharsi Vedaviyasa, menjelaskan entang sejarah kuno, penciptaan, silsilah para Dewa, safta Rsi, Tatwa, Etika, ritual dan lainnya. 

Pada jaman Kaliyuga ini, pada Manwantara ke-7, dalam Bhavisya Mahapurana disebutkan Awatara Sri Wisnu untuk menegakkan dharma adalah Kalky Avatara yang akan muncul pada akhir jaman Kaliyuga. 

Dalam berbagai referensi dikabarkan bahwa Kalki Avatara sudah lahir dan bermukim di sebuah desa mistis di lereng Gunung Himalaya Bharatawarsa, India sekarang.

RAMAYANA
Tokoh sentral dalam Ramayana yaitu Sri Rama dan permaisurinya Dewi Sita. Antagonis Dasamuka atau Rahwana dengan permaisurinya Dewi Mindodari. Siapapun membaca dan melaksankan ajaran yang ada dalam Kisah Ramayana dibebaskan dari bencana atau hasil dari karma buruk. 

Mereka yang membaca Ramayana dijaga oleh Sri Hanuman bebas dari bencana dalam radius 720 meter. Para pemimpin (Ksatrya) yang mmpelajari dengan baik Ramayana akan menjadi emimpin yang dicintai rakyat, mendapat dukungan yang kuat dan mampu mensejahterakan rakyatnya sekala-niskala. 

Negara yang dipimpinnya aman, damai, subur dan Makmur. Negara kuat dan disegani lawan ataupun kawan. Para Brahmana (Sulinggih, Pandita) yang mempelajari Ramayana akan sangat pasih menjelaskan ajaran Veda dan susastra lainnya. 

Para pedagang, pebisnis yang berusaha di bidang ekonomi dan menggerakkan perekonomian negara yang mempelajari Ramayana menjadi orangorang yang kaya raya, hartanya melimpah dan dermawan serta suka berderma (dana punia). Para pekerja fisik, karyawan, petani, penyakap yang belajar dan mendengarkan kisah Ramayana akan menjadi sempurna. 

Mengenai kepemimpinan dijelaskan tentang Astha Bhrata, yaiut delapan sifat dewa yang menjadi teladan pemimpin. Ajaran Kepemimpinan Astha Brataha diajarkan oleh Sri Rama langsung kepada Bharata dan Gunawan Wibisana. 

Ramayana mengajrkan tentang ketaatan pada Ajaran Veda, pemujaan kepada para dewa, leluhur, para Rsi Agung, melaksanakan swadharma dengan teguh, pengabdian dan kesetiaan. Teladan tentang pengabdian dan kesetiaan adalah karakter Hanuman, yang patut menjadi panutan sepanjang sejarah yang selalu relevan dengan jaman apapun. Kejahatan pasti kalah dan kebenaran pasti menang.

Setidaknya ada sekitar 350an versi penulisan Ramayana di seluruh dunia, itulah sebabnya Sri Rama menugaskan Hanuman untuk menjaga Ramayana sehingga Hanuman menjadi seorang Ciranjiwi, yang hidup abadi samai saat ini. 

Demikian juga Gunawan Wibisana, Rsi Rama Parasu juga seorang Ciranjiwi. Hanuman dan Rsi Rama Parasu ditemukan dalam kisah Mahabharata. Untuk menjaga kemurnian Ramayana, Bhagawad Walmiki lahir lagi menjadi Sri Goswani Tul Sidas pada abad 11. 

Tul Sidas menulis 34 buku yang memuliakan Ramayana. Pustaka Hanuman Chalisa, 40 Sloka memuliakan Hanuman merupakan Karya Tul Sidas.
Menchantingkan mantra Rama-Sita atau Gayatri Rama-Sita: “Om Daserathaya Vidhmahe
Sita Vallabhaya Dheemahe, Rama Thanno Prachodayath”, akan memperoleh anugrah kesejahteraan dan kemakmuran dan dijaga oleh Sri Hanuman sehingga bebas dari bencana karma buruk.

KISAH MAHABHARATA
Kisah nyata ini ditulis oleh Maharsi Vedaviyasa (Rsi Krishna Dwipayana, putra Rsi Parasara dan Dewi Satyawati). 

Banyak tokoh hebat dalam Mahabharata, baik di pihak Pandawa maupun di pihak Kurawa. Raja Pandu bersaudara dengan Drestarastra dan Widura, yang menjadi Raja Hastinapura. 

Pandu adalah ayah Pancapandawa dan Drestarastra ayah dari Kurawa. Pandawa lima bersudara yang tertua dan menjadi pemimpinnya adalah Yudistira dan adik-adiknya: Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa. 

Kurawa dipimpin oleh Suyudana (yang dipelesetkan menjadi Duryadana), adiknya Susasana (Dursasana). Diyakini bahwa Yudistira adalah inkarnasi Dewa Dharma atau Yamaraja sedangkan Duryadana adalah inkarnasi Iblis Kali.

Pada pihak Kurawa ada tokoh besar, yaitu: Bhisma, Dronacarya, Kripacharya, Karna, Prabhu Salya, Aswatama pahlwan-pahlawan tanpa tanding, dan tentu saja Pangeran Gandara Sangkuni. 

Sangkuni adalah tokoh yang dapat dikaitkan sebagai perancang strategi jahat Kurawa. Jangan lupa ada juga Pangeran Widura, sang Mahamenteri yang sangat sakti mandraguna. Kurawa didukung oleh 12 Akshoini prajurit. Satu akshoini terdiri atas 21.870 kereta perang, 21.870 gajah perang, 65.610 prajurt berkuda (kavaleri), dan 109.350 prajurit darat berjalan kaki (infantri).

Pada Pihak Pandawa ada tokoh besar, yaitu: Sri Krishna, Raja Drupada, Drestajumna dan Srikandi. 

Namun adanya Sri Krishna (sang awatara Sri Wisnu) yang tidak berperang dan bersenjata memastikan Pandawa sebagai pemenang perang. 

Pandawa didukung oleh 7 Akshoini prajurit. Ada Drupadi dan Bima yang berumpah terkait nyawa Suyudana. Drupadi tidak akan menata rambutnya sebelum dikeramas dengan darah Suyudana. Bima bersumpah akan membunuh semua 100 Kurawa.

KISAH MASA KINI MENANTI KEHADIRAN KALKI
Jaman Kaliyuga ini sudah berlangsug 5000 tahun lebih setelaj Raja Parikesit dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Jaman Kaliyuga mulai pada hari Jumat tanggal 22 Februari pukul 00.02 tahun 3012 sebelum masehi. 

Raja Parikesit bertemu dengan Iblis Kali, yang menyepakati sebuah perjanjian terkait kewenangan Iblis Kali (Duryadana adalah Inkarnasi Iblis Kali). 

Tugas iblis adalah menggagallkan upaya manusia untuk mencapai keharmonisan hidup dengan memuja para Leluhur, Dewa dan Brahman. 

Pada zaman Kaliyuga yang tidak berhak menjadi raja menjadi raja (pemilihan langsung, asal ada uang bisa menjadi presiden atau kepala daerah). Orang yang tidak paham ajaran Veda menjadi seorang brahmana (pandita) yang kemudian memberikan tuntunan kehidupan yang menurutnya benar tetapi keliru. 

Harta menjadi tujuan hidup, karena dengan memiliki harta kekuasaan dan kehormatan dapat dicapai.
Salah satu perjanjian Raja Parikesit dengan Iblis Kali adalah dibenarkannya Iblis Kali dan krunya dapat tinggal pada harta manusia terutama emas.

Karena berdasarkan evaluasi keberhasilan kinerja Kerajaan Iblis dalam “mengganggu” manusia kurang berhasil dan Iblis Kali memandang bia harta manusia dimasuki, keberhasilan akan lebih baik. Faktanya manusia idup mengejar harta, maka dibuatlah ajaran Catur Purusa Artha, yang mana dhrma---jalan kebenaran sebagai yang pertama harus dijalani. 

Sampai sekarang Iblis Kali setelah 5000 tahun tidak complain lagi, atau bingung kepada siapa Iblis Kali meminta persetujuan dan Janji. Parikesit adalah Maharaja yang menguasai dunia, sementara dunia sekarang terpecah-pecah akibat idiologi, politik dan demografi.

PERBANDINGAN RAMAYANA DAN MAHABHARATA
1) Ramayana terdiri atas 7 kanda yang meliputi 24.000 sloka sedangkan Mahabharata terdiri dari 18 parwa yang meliputi 100.000 sloka. Ada sekitar 350-an versi Ramayaan di Dunia sementara ada 1250-an versi Mahabharata yang telah diterjemahkan ke berbagai Bahasa di Dunia.

2) Filsafat (tatwa) untuk kehidupan manusia. Ajaran yang terdapat dalam Ramayana dan Mahabharata bukan saja terbatas untuk umat Hindu tetapi juga untuk umat manusia secara universal. Adanya Rwa Bhineda yang selalu ada daalam semua aspek kehiduapn tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada dasarnya karmalah yang menentukan kualitas hidup seseorang di kemudian hari pada kehiduapan berikutnya. Perbuatan baik tidak selalu diterima dengan baik oleh seseorang, namun perbuatan baik kadanglaka dapat dimanfaatkan oleh orang lain untuk kepentingan dirinya. Karena itu manusia harus selalu waspada dan teliti dengan kesadaran yang tinggi bahwa dalam setiap Tindakan selalu ada Tuhan. Karenanya menyertakan Tuhan akan mengarahkan kepada kebenaran (penelanjangan Dewi Drupadi gagal karena adanya peran Tuhan/Sri Krisana sebagai avatara Sri Wisnu). Demikian juga Dewi Sita terlindungi oleh Ibu Bumi dan Dewa Api.

3) Mahayuga. Mahayuga terdiri atas: Satyayuga, Tretayuga, Dwaparayuga dan Kaliyuga. Trasformasi ketaatan pada tata aturan dan tata krama beradasrkan ajaran Veda. Ramayana mengisahkan perisitiwa yang terjadi pada jaman Tretayuga, yang mana meja kebenaran baru kehilangan satu kakinya, sehingga masih ditopang oleh tiga kaki kebenaran. Ketaatan terhadap ajaran Veda dan swadharma setiap orang dijaga. Sri Rama sebenarnya dapat menggunakan senjata Brahmastra untuk menghancurkan Alengka namun itu tidak dilakukan. Demikian juga pada saat perang melawan Pangeran Indrajit yang menggunakan Ilmu Gaib yang menjadi milik bangsa Asura, Sri Rama walaupun mampu tidak membalas dengan ilmu gaib. Hanuman dapat saja menghancurkan alengka dan Rahwana, namun ia tidak melakukan itu karena menghancurkan Rawana adalah kewajiban dari junjungannya Sri Rama. Kisah Mahabharata terjadi pada jaman Dwaparayuga, yaitu kaki kebenaran tinggal dua dan dua lagi sudah hilang. Hal tersebut dapat dilihat perubahan tingkah laku dan kejadian yang sebelumnya tidak ditemukan pada Ramayana. Banyak kejahatan dan tipu daya yang telah dilakukan pada Mahabharata. Kebohongan Yudistira adalah contoh yang sangat sering disebutkan dalam diskusi. Yudidstira mengatakan bahwa Aswatama sudah gugur. Tapi yang dimaksud adalah Aswatama Gajah. Dendam Aswatama, mengakibatkan ia lupa peraturan bahwa sangat pengecut membunuh orang sedang tidur (membunh Panca Kumara dan Drestajumna). Pangeram Gandara adalah biang dari segala kejahatan Kurawa. Namun demikian Bhisma membiarkan itu terjadi. Sikap Bhisma ini dapat dipandang gagal memahami arti keadilan dan sikap seorang ksatrya, karena ia hanya menjaga keluarga Kuru bukan kemanusian secara luas. Kematian Bhisma dan Dronacarya karena penyesalan atas sikapnya yang dibuka oleh Sri Krishna, dan menemukan jalan yang benar.

4) Kesamaan Ramayana dan Mahabharata. Beberapa tokoh hebat dalam Ramayana masih ditemukan dalam Mahabharata, yaitu ciranjiwi (manusia abadi) Hanuman dan Rsi Rama Parasu. Bhagawad Valmiki juga masih ditemukan yaitu pendeta sudra yang memimpin upacara agung Aswameda. Dalam kedua kisah ini masing-masing ada dua perempuan patibratha, yaitu Dewi Sita dan Dewi Drupadi.

5) Moral yang merosot dan pembiaran kejahatan. Pada Ramayana ada Dewi Sita yang diasingkan atas kehendak rakyat Ayodya. Sita kemudian ditampung di Ashram Bhagawad Walmiki, Bersama perempuan lain yang dicampakkan keluarganya. Dalam Mahabharata ada Dewi Drupadi yang ditelanjangi pleh Susasana. Para tokoh kerajaan dan sang raja membiatkan kejahatan itu berlangsung, yang seharusnya bereaksi atas ketidakadilan tersebut. Ada Dewi Kunti yang melahirkan di luar pernikahan. Dalam Ramayana ada Dewi Keikeyi yang menyebabkan Sri Rama diasingkan, karena meminta janji yang belum dipenuhi kepada Dasarata. Pembantaian Abimanyu yang tidak mampu keluar dari formasi perang Cakrawayu. Dalam Ramayana hamper tidak ditemukan pelanggaran dalam perang alengka.

6) Tipu Daya. Dalam Ramayana, Rahwana membunuh dua anaknya untuk mengelabui bahwa Rama dan Laksamana sudah gugur. Namun Dewi Sita tidak percaya, meskipun dua jazad tersebut mirip. Indrajit menggunakan ilmu gaib. Pangeran Gandara Sangkuni sepanjang kisah Mahabharata selalu merancang tipu daya: meracuni Bima, Rumah Kardus, perhitungan dan penanggalan terkait berakhirnya masa pengasingan Pandawa. Penangkapan Sri Krishna sebagai duta perdamaian Pandawa. Kebohongan Yidistira atas kematian Aswatama. Gugurnya Karna yang tidak bersenjata. Kematian Barbarika yang mempunyai tiga panah sakti. Kemunduran Mahamenteri Widura dan mematahkan panah Siwa.

MANFAAT ITIHASA UNTUK KEHIDUPAN
1) Itihasa Ramayana dan Mahabharata adalah kisah nyata tentang awatara dan perbuatannya untuk kemanusiaan. Itihasa adalah ajaran Veda itu sendiri sehingga bagi umat Hindu dan umat manusia kebenaran Itihasa tidak perlu diragukan. Sruti dan Smerti kedudukannya sama adalah kebenaran. Itihasa sebagai bagian dari Smerti adalah praktek Veda agar apa yang dipahami dalam sloka-sloka Sruti dapat dengan jelas dipahami lewat mempelajari Itihasa. Dalam Itihasa dijelaskan preketk ajaran Veda dengan sangat mendetail. Karena itihasa adalah bhasya dari ajaran Veda, maka dianjurkan mempelajari Itihasa pertama. Kedua mempelajari 18 Mahapurana dan selanjutnya Catur Veda, Upanisad dan Nibandasastra.

2) Dalam Itihasa Ramayana dan Mahabharata dijelaskan siapapun mempelajari kedua atau salah satu dari itihasa tersebut akan bebas dari hasil karma buruk dan hidup damai, aman sejahtera dan Makmur. Demikian juga bagi penekun 10 Maha Purana atau salah satu dari Maha Purana tersebut akan bebas dari dosa. Tetuah para bijak sejah dahulu hendaknya orang belajar dari kehidupan sehari-hari, belajar dari orang sukses dan berlajar pula dari kegagalan.

3) Bila telah mempelajari itihasa, seseorang akan mengidolakan tokoh-tokoh dalam Ramayana atau Mahabharata: Hanuman yang perkasa, Kesetiaan Laksamana, Keperkasaan Arjuna, Patibratha Dewi Sita, Dewi Kunti, Dewi Drupadi.

4) Bila telah mempelajari Itihasa seorang pemimpin akan memperoleh keberhasilan dalam organisasinya dengan menerapkan kepemimpinan Astha Brataha, dicintai oleh bawahannya. Bla Ia seorang kepala daerah akan berhasil dalam membangun daerahnya dan dicintai rakyatnya.

5) Yakinlah bagi yang mempejari Itihasa, Purana dan Catr Veda akan hidup Bahagia sekala dan niskala.

PERENUNGAN
Mengapa ada orang yang meragukan kebenaran Itihasa? Para ilmuwah dari seluruh duania telah membaca Itihasa dan mencari kebenarannya. Sedikit demi sedikit mereka menemukan bukti-bukti adanya kebenaran. Misalnya situs jembatan Situbanda yang membentang dari daratan India kea rah Srilangka. Ditemukannya situs kerajaan Dwaraka di dasar laut India. Indrapastha di New Delhi. Dan lainnya. 

Ditemukannya Sri Hanuman di jaman modern ini. Ditemukannya Aswatama dalam sebuah kuil dan lainnya. Bila ada orang Hindu yang tidak meyakini kebenaran Itihasa, sama saja dengan tidak meyakini kebenaran ajaran Veda.

Para elit, di Jaman Kaliyuga ini, seseorang yang diberi wewenang untuk memimpin wajib membaca Itihasa dengan cermat agar berhasil dalam kepemimpinannya. Rakyat juga wajib mempelajari Itihasa agar dapat memilih pemimpin yang baik yang dapat membawa negara pada kemakmuran, kesejahteraan,aman dan damai. Swaha. (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Jalan Tol Bali Mandara Ditutup 32 Jam

Terpopuler

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Ribuan Siswa Kodiklatal Gelar Lattek Wira Jala Yudha, dan Aksi Bersih Pantai di Pantai Mertasari Sanur Denpasar Bali

Ribuan Siswa Kodiklatal Gelar Lattek Wira Jala Yudha, dan Aksi Bersih Pantai di Pantai Mertasari Sanur Denpasar Bali