Oleh Jro Gde SudibyaBoy Thohir, pengusaha tambang dari Adaro grup, dalam releasenya yang dimuat di Kompas TV, mengemukan ada sejumlah pengusaha besar yang bergabung dengan dia untuk mendukung paslon No.2 Prabowo - Gibran.
Menurut pengusaha ini, pengusaha yang bergabung ini, menguasai sekitar 1/3 perekonomian nasional, dengan target politik paslon no.2 menang dalam satu putaran.
Agak aneh bin ajiab, konglomerasi usaha powerful yang oleh pengamat disebut dengan oligarki, mengumunkan secara terbuka dukungannya, lengkap dengan target politik satu putaran.
Statement politik yang tidak lazim ini, menimbulkan berbagai macam spekulasi, menyebut beberapa, pertama, "vested interest"di kelompok oligarki ini, khawatir dan bahkan takut terjadi putaran ke dua,yang berisiko "jagonya" bisa kalah, sehingga kelompok usaha ini kehilangan patron politiknya, yang selama ini menjadi tempat mereka berlindung dan bersandar.
Kedua, pernyataan terbuka dari kelompok ini, lebih menkonfirmasi dari fenomena kuatnya kekuatan pengaruh dari oligarki dalam pengambilan keputusan ekonomi politik penting di negeri. Sebut saja tentang: pemberian izin pertambangan, konsesi lahan industri sawit, proyek berskala besar: PLTU, PLTA.
Hilirisasi tambang: tembaga, nikel dan produk tambang lainnya. Kegiatan ekonomi rente yang berkaitan dengan ekspor impor komodotas pertanian, terutama tanaman pangan. Proyek berskala besar yang berkaitan dengan EBT (Energi Baru Terbarukan): ekonomi hijau, zerro karbon, investasi di sektor sumber daya terbarukan.
Super kemudahan investasi, yang tergambarkan dengan transparan dalam UU Omnibus Law Cipta Kerja.
Dari perspektif ekonomi politik, untuk sederhananya Pilpres 14 Februari 2024, merupakan pertarungan antara kekuatan rakyat (yang punya kesadaran akan pentingnya demokrasi dirawat dan dijaga), dengan kekuatan lainnya, termasuk yang mewakili kekuatan konglomerasi dan oligarki di atas.
*) I Gde Sudibya, ekonom,pengamat ekonomi pembangunan dan ekonomi politik.