Kagumi Gamelan Bali, Mangku Pastika akan Pertemukan Maestro JM Wayan Pager dan Nyoman Nuarta
Admin - atnews
2024-02-17
Bagikan :
Slider 1
Gianyar (Atnews) - Anggota DPD RI Dapil Bali Made Mangku Pastika mengagumi kemampuan Jero Mangku (JM) Ir. I Wayan Pager selaku Maestro kerajinan gamelan Bali yang mirip dengan Nyoman Nuarta, Penggagas Garuda Wisnu Kencana (GWK) pernah meraih penghargaan Padma Shri Award 2018 dari Presiden India.
Mangku Pastika semakin bangga menjadi DNA orang Bali yang memiliki tokoh-tokoh hebat yang memadukan Sains dengan seni, apalagi Nuarta yang kini tengah mengharap megaproyek IKN di Kalimatan Timur.
Untuk itu, kedua tokoh tersebut bisa bertemu dan melakukan kolaborasi seni, sains dan teknologi untuk menghasilkan mahakarya.
Dengan semangat perajin gong dan gamelan “Sidha Karya” yang terus berinovasi sehingga budaya Bali ini tetap eksis dan berkembang.
Apalagi Kecamatan Blahbatuh dikenal dengan industri kerajinan gamelan Bali “Sidha Karya” telah berdiri selama 170 tahun lebih menjalankan industri kerajinan gong dan gamelan.
Gamelan Sidha Karya secara turun temurun dijalankan oleh keturunan Pande Gambleran (I Made Layar) yang ke-7. Bisnis ini telah dilakukan dari keluarga Pande Gamelan yang berasal dari daerah Klungkung.
Selama ini, ratusan barung gamelan telah dihasilkan setiap bulannya dan telah tersebar hingga seluruh daerah nusantara, mulai dari Bali, Kalimantan, Sulawesi, Lampung dan kota-kota besar di Indonesia lainnya.
Selain itu, gamelannya berhasil memasuki pasar internasional hingga negara Perancis, Amerika Serikat, Jepang, dan Swiss, Belgia, Australia. Bahkan pihaknya membuat gamelan milik Maestro Musik Bona Alit.
“Tempat ini luar biasa dan ada maestro yang secara turun temurun dan terus berinovasi untuk mengembangkan kerajinan gong dan gamelan yang sangat dibutuhkan. Selain seniman, Jro Mangku Pager ini scientist, ahli metalogi,” ungkap Mangku Pastika saat mengunjungi pusat produksi gong dan gamelan Sidha Karya di Desa Babakan, Blahbatuh, Gianyar, Sabtu (17/2).
Dalam kunjungan dengan tema “Melestarikan Budaya, Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat”, Mangku Pastika didampingi Tim Ahli Nyoman Baskara, Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja. Juga turut serta IBG Budi Hartawan, Bendahara Yayasan Bali Binar Bhakti (B3).
Mangku Pastika mengatakan potensi yang dimiliki Blahbatuh tidak kalah dengan daerah lain.
“Blahbatuh ini potensinya besar, kekayaan alamnya lengkap. Ada laut, sungai, peninggalan budaya dan ada tempat-tempat kerajinan yang sangat besar, seperti workshop Sidha Karya ini, ” jelas mantan Gubernur Bali dia periode 2008-2018.
Sementara itu, Owner Kerajinan Gong Sidha Karya Jro Mangku Pager menceritakan workshop gong dan gamelan yang ada sudah dirintis oleh buyutnya.
“Saya sejak kecil juga sudah tekuni ini. Dan dalam perkembangannya kami berinovasi pada beberapa bagian gamelan,” jelas insinyur alumni ITN Malang ini.
Di tempat produksinya yang luas itu, Jro Mangku Pager juga memproses (smelter) bahan baku logam yang didatangkan dari luar Bali seperti tembaga dan timah. Ia juga melakukan pergantian bahan baku bambu dengan pipa besi agar mendapatkan ukuran yang sama dan sesuai kebutuhan.
“Kalau bambu sulit mencari ukuran yang sama dan besar yang dibutuhkan. Juga terkendala musim (tebang),” jelas Jro Mangku Pager yang mempekerjakan puluhan tenaga ini.
Ia mengaku bersyukur usaha turun temurun yang digelutinya bisa terus berkembang. Selain mengisi pasar di Bali dan Nusantara, produksi gong dan gamelan Sidha Karya ini tembus ke Amerika, Belgia, Jepang dan beberapa negara lainnya.
Jro Mangku Pager menjelaskan ada beberapa syarat untuk mendapatkan hasil suara gamelan yang bagus. Di antaranya bahan gamelan harus bagus, skill (garapan) dan ada perlakuan. Untuk seperangkat gamelan (barung) rata-rata dikerjakan oleh 30 tenaga selama 3-4 bulan. Hingga saat ini ratusan barung gamelan telah dihasilkan dan didistribusikan hingga ke berbagai tempat. Selain memproduksi, workshop ini juga memberikan jasa perbaikan gamelan.
Pihaknya tetap mengedepankan kualitas, Gamelan yang standar bisa dipakai PKB. Inovasi terus dilakukan agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Diceritakan pula, Gamelan itu sejarahnya datang dari Jawa. Namun Bali memiliki karakter, apalagi masing-masing daerah di Bali meskipun asal gamelannya dari tempat produksi yang sama. "Itulah keunikan gamelan di Bali," ujarnya.
Selain perlengkalan gamelan diproduksi secara mandiri, pihaknya datangkan K Kendang dari Getas (Bali) dan Gong dari Solo (Jawa).
Jenis gamelan yang dihasilkan oleh gamelan “Sidha Karya” beragam seperti Gong Kebyar, Semara Dahana, angklung, dan Gong Gede. Dengan kisaran harga Rp Rp 300-400 juta satu set Gamelan Bali ditawarkan. (gab/ART/001)