Denpasar (Atnews) - Ida Rsi Putra Manuaba, Peraih Padmashri Award 2020 dari Pemerintah India mengharapkan momentum Bali kembali menjadi tuan rumah World Water Forum (WWF) ke-10 diselenggarakan pada tanggal 18 hingga 25 Mei 2024 mendatang.
Diharapkan Bali mampu menata air begitu juga menata sungai di setiap Kabupaten dikenalkan sebagai sebuah Pilot Project ke dunia.
Sebelumnya, Bali juga telah sukses menjadi tuan rumah berbagai pertemuan pemimpin dunia baik KTT ASEAN 2023 dan KTT G20 2020 menekankan pada antisipasi perubahan iklim dan pembangunan
Menurutnya, air merupakan zat yang penting bagi kehidupan di Bumi. Secara kimia, air merupakan senyawa yang terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, dengan rumus kimia H2O. Air hadir dalam tiga bentuk utama: padat (es), cair, dan gas (uap air).
Air sangat penting dalam proses kehidupan, seperti fotosintesis, transportasi nutrisi dalam tubuh organisme, dan pengaturan suhu bumi melalui siklus air. Selain itu, air juga digunakan dalam berbagai kegiatan manusia, seperti minum, memasak, pertanian, dan industri.
Sedangkan pemanfaatan dan makna air dalam Veda yakni Air sebagai makna penyembuhan, makna
kesuburan, makna penyucian, makna keabadian, makna siklus, dan air sebagai makna
pelestarian.
Dalam ajaran kosmologi Hindu, alam semesta dibangun dari lima unsur, yakni: tanah (zat padat), air (zat cair), udara (zat gas), api (plasma), dan ether. Kelima unsur tersebut disebut Panca Maha Bhuta atau lima unsur materi. Untuk itu, unsur memegang peranan penting dalam Panca Maha Bhuta.
Menurut U.S. Geological Survey (USGS), sekitar 71% permukaan Bumi tertutup air dan 96,5% persediaan air di Bumi berada di lautan. Dengan persentase sekitar 70% di dalam tubuh manusia, air menjadi hal yang penting untuk keberlangsungan hidup.
Ia juga Pendiri Ashram Gandhi Puri mengatakan, "Tirta" adalah istilah dalam bahasa Sanskerta yang digunakan dalam agama Hindu, khususnya dalam konteks upacara keagamaan di Bali dan India.
Istilah ini mengacu pada air suci atau air suci yang memiliki kekuatan spiritual atau ritual. Tirta digunakan dalam berbagai upacara keagamaan Hindu, seperti dalam penyucian diri sebelum melakukan ibadah, upacara pernikahan, upacara kematian, dan ritual lainnya.
Air menjadi tirta ketika telah melewati proses penyucian atau ritual tertentu yang memberikan kekuatan spiritual atau keberkahan kepadanya.
Konsep Tirta umumnya terkait dengan praktik keagamaan Hindu, khususnya di Bali dan India, meskipun dalam konteks yang berbeda-beda.
Dalam praktik Hindu di Bali, misalnya, air dari sumber alam seperti mata air, sungai, atau laut dianggap sebagai tirta ketika telah melalui serangkaian ritual penyucian yang dipimpin oleh seorang pendeta Hindu.
Ritual ini melibatkan mantra, doa, dan penggunaan bahan-bahan tertentu yang dianggap memberikan energi spiritual pada air. Setelah proses ini selesai, air dianggap telah menjadi tirta yang suci dan dapat digunakan dalam berbagai upacara keagamaan, seperti penyembahyangan, upacara pernikahan, atau pengebumian.
Ida Rsi Putra Manuaba mengatakan air Tirta menjadi bagian terpenting dari Pandita di Bali dimana ketika Nyuryasewana hampir semua Pandita memuliakan air bagi kehidupan.
Sementara di India, air sungai yang dianggap suci, seperti Sungai Gangga, begitu juga dianggap sebagai tirta karena kekuatan spiritualnya dan perannya dalam membersihkan dosa-dosa manusia.
Mandi di sungai-sungai suci itu dianggap sebagai cara untuk mencapai kesucian dan keselamatan spiritual.
Jadi, air menjadi tirta setelah melalui proses penyucian atau ritual yang memberikan makna atau kekuatan spiritual kepadanya, sesuai dengan kepercayaan dan praktik keagamaan yang berlaku.
Konsep tirta mencerminkan keyakinan akan pentingnya air dalam membersihkan dan menyucikan secara fisik, emosional, dan spiritual. Air yang dianggap suci ini sering kali diambil dari sumber-sumber alam yang dianggap keramat, seperti mata air, sungai, atau laut, dan kemudian diolah melalui ritual tertentu sebelum digunakan dalam upacara keagamaan.
Dijelaskan, Sungai Gangga adalah salah satu sungai yang paling suci dalam agama Hindu, terutama di India. Sungai ini dianggap sangat sakral dan diyakini memiliki kekuatan spiritual yang besar bagi umat Hindu.
Gangga dipuja sebagai "Maa Ganga" atau "Ibu Gangga" dan dianggap sebagai peruwujudan dewi yang memberi berkah dan membersihkan dosa.
Konsep air suci Gangga adalah bagian integral dari kepercayaan dan praktik keagamaan di India, terutama dalam agama Hindu.
"Air Gangga dianggap suci karena asosiasi dengan dewi Gangga, yang dipuja sebagai ibu yang memberi kehidupan dan membebaskan dosa-dosa. Bagi umat Hindu, mandi di Sungai Gangga dianggap sangat suci dan dapat membersihkan dosa-dosa mereka," ungkap Ida Rsi.
Setiap tahun, jutaan orang dari seluruh India datang untuk mandi di sungai ini selama Festival Kumbh Mela, yang merupakan salah satu festival keagamaan terbesar di dunia.
Hal itu menjadi spirit sampai saat ini, kalau datang ke India dapat melihat semua Air Suci sungainya sudah ditata indah sekali. Mulai dari Sungai Gangga Yamuna Saraswati Sindu Kaveri Godavari Narmada Sarayu dan Mahanadi yang diluncurkan Pandita di Bali, semua sungai itu jauh lebih indah dan bersih.
"Menjelang World Water Forum di Bali kita perlu juga menata sungai disetiap Kabupaten dikenalkan sebagai sebuah Pilot Project ke Dunia bagaimana kita menata air," ujar Ida Rsi Putra Manuaba yang di anugrah PadmaShri Award 2020 dari Pemerintah India. (GAB/ART/001)