Denpasar (Atnews) - Potensi cendikiawan Hindu dunia sangat besar untuk berperanserta dalam pembangunan masyarakat dunia yang lebih baik. Karena itu, Ikatan Cendikiawan Hindu Indonesia (ICHI) Bali bertemu Konsul India di Bali untuk merancang kerjasama Hindu dunia.
Ketua ICHI Bali, Dr.NLP Purnamawati, didampingi Wakil Ketua, Dr. I Gede Sutarya, Wakil Ketua, Dr. I Nyoman Ananda dan Dewan Pakar ICHI Bali, Dr. I Wayan Absir diterima Konsul Jendral India di Bali, Dr.Shashank Vikram dan Direktur Svami Vivekananda India Culture Centre (SVICCR), Dr. Naveen di Denpasar (25/4).
Purnamawati menyatakan, cendikiawan Hindu telah mengukir banyak prestasi besar di dunia. Kemajuan India dalam teknologi luar angkasa dengan bukti bisa mendarat di bulan, telah mengangkat citra cendikiawan Hindu dunia.
Cendikiawan Hindu dunia juga telah dipercaya menjadi pemimpin-pemimpin negara besar seperti Rsi Sunakh yang menjadi Perdana Menteri Inggris dan yang lainnya.
Prestasi ini menjadi inspirasi untuk melakukan kolaborasi research antar cendikiawan Hindu dunia. “Ini inspirasi luar biasa bagi kami untuk merancang kerjasama cendikiawan Hindu dunia,”jelasnya.
Sutarya menambahkan, kolaborasi cendikiawan Hindu dunia ini sangat menguntungkan bagi hubungan Indonesia dengan India.
Hubungan Indonesia dengan India adalah hubungan dari masa lalu yang panjang. Professor Ardika pada tahun 1991 telah menemukan temuan gerabah di Sembiran, Buleleng dengan gerabah di Kaminakedu, Odisha serupa, sehingga dapat disimpulkan terjadi perdagangan yang sangat intens dari India ke Indonesia dan sebaliknya pada awal-awal masehi.
“Itu bukti sejarah betapa hubungan ini telah terjalin sangat lama,”katanya.
Dijelaskan, secara mitologi, masyarakat Bali mengenal mitologi Rsi Markendya yang datang ke Bali dengan para pengikutnya. Rsi menyebrang dari India, ke Sumatra menuju Jawa dan terakhir menetap di Bali.
Rsi ini bersama pengikutnya dipercaya sebagai penduduk pertama pulau Bali sebelum kedatangan orang-orang Austronesia dan China. Rsi Markendya yang meletakkan pancadatu di Pura Besakih.
Menurut dosen UHN Sugriwa ini, mitologi ini diperkuat dengan tradisi upacara pada Purnama Kartika (Kapat) di Padmatiga Besakih dan Kartika Purnima di Odisha, India.
Upacara Baliyatra pada Purnama Kartika bersamaan dengan upacara di Padmatiga, Besakih. Hal ini menandakan sebuah jalinan tradisi upacara yang sangat kuat antara Bali dengan Odisha, tetapi memang telah terjadi berbagai perubahan sistem perhitungan kalender sehingga Purnama Kartika di Bali jatuh sebulan lebih awal dari Purnama Kartika (Kartik Purnima) di Odisha.
“Jadi lama Indonesia dengan India tidak kontak sehingga terjadi berbagai perbedaan dalam perhitungan kalender,” ujarnya.
Konjen Vikram menyambut baik gagasan tersebut. Pihak telah merencanakan konferensi untuk intelektual Hindu di Bali pada September 2024. Pada saat konferensi ini diharapkan para cendikiawan Hindu duduk bersama untuk merencanakan pekerjaan kolaborasi.
Universitas-universitas juga dipersilahkan untuk membangun kerjasama untuk melakukan berbagai kolaborasi. “Nanti akan ada delegasi bulan Juni datang, kita nanti duduk bersama,” katanya.
Dia menyatakan, pihaknya memerlukan berbagai kolaborasi untuk membangun kesejahteraan bersama, apalagi Bali dengan India memiliki hubungan yang sangat erat. Indonesia dan India memiliki akar kebudayaan yang sama.
Akar kebudayaan ini menjadi jembatan persahabatan yang semakin erat antara Indonesia dengan India.
“Bahkan Islam Indonesia juga berasal dari Gujarat, India. Itu menandakan perdagangan terjadi terus menerus antara Indonesia dengan India,”ujarnya.
Absir menambahkan, kerjasama ekonomi merupakan point yang sangat penting. Dia mengaku aktif dalam membangun ekonomi pedesaan di Desa Adat Batur.
Kerjasama antara desa-desa di Bali dengan desa-desa di India dalam pembangunan ekonomi juga menjadi hal yang penting, sebab tanpa ekonomi sulit bicara yang lainnya. “Persoalan-persoalan kerjasama ekonomi juga perlu diangkat,”katanya. (GAB/001)