Denpasar (Atnews) - Guru Besar Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Udayana (Unud) Prof Dr Ir I Gusti Ngurah Nitya Shantiarsa MT menawarkan konsep hulu hingga hilir dalam memuliakan air.
Oleh karena semua peradaban di dunia berakar pada sumber daya air (tawar) aliran sungai dan danau, seperti peradaban Mesir Kuno dengan Sungai Nil, peradaban Harappa dengan Sungai Indus, peradaban Mesopotamia dengan Sungai Eufrat dan Tigris dan juga yang lainnya.
Bahkan Sungai Gangga mengalir 2.525 kilometer dari hulu Pegunungan Himalaya, dikunjungi jutaan umat dari seluruh dunia. Panjang Sungai Gangga yang paling diterima secara luas adalah 1.569 mil (2.525 km), dan daerah aliran sungainya diperkirakan sekitar 416.990 mil persegi (1.080.000 km persegi).
Sungai ini dipuja oleh umat Hindu yang mempersembahkan makanan dan bunga ke sungai sebagai sakramen.
Air Gangga sangat luar biasa hebat, bahkan dengan setetes air Gangga bila dicampur dengan air biasa maka air biasa tersebut menjadi air Gangga dengan segala kekuatan dan kesucianya.
Bahkan hasil penelitian dari para peneliti menemukan dan membuktikan bahwa air Gangga yang murni walaupun disimpan untuk jangka waktu yang lama akan tetap terjaga kemurnianya.
Selama festival besar keagamaan, jutaan umat Hindu dari seluruh posok India dan dunia melakukan perjalanan ke sungai untuk membenamkan diri di air untuk membersihkan jiwa mereka. Sungai ini juga diyakini memberikan perlindungan spiritual bagi orang yang meninggal.
Banyak kuil kremasi terletak di tepi Sungai Gangga, dan umat Hindu membuang abu orang mati ke sungai untuk memastikan jiwa memiliki jalan yang aman ke surga. Perairan Sungai Gangga diyakini menjadi jalur menuju Dunia para Leluhur (Pitriloka).
Untuk itu, Sungai menyediakan lapisan tanah subur di sepanjang aliranya yang tentunya sangat baik untuk pertanian dan peternakan yang sangat diperlukan untuk menunjang kehidupan banyak orang, disamping itu menyediakan air bersih untuk berbagai kebutuhan lain baik itu untuk minum, upacara keagamaan, transportasi dan lainnya.
"Dapat dikatakan sungai sangat banyak manfaatnya, sehingga tanpa air sungai kehidupan menjadi sulit dan peradaban pun tidak berkembang," kata Prof Shantiarsa di Denpasar, Jumat (10/5).
Hal itu disampaikan ketika momentum Bali kembali akan menjadi tuan rumah World Water Forum (WWF) ke-10 diselenggarakan pada tanggal 18 hingga 25 Mei 2024.
WWF 2024 itu mengusung tema “Water for Shared Prosperity”, forum sektor air terbesar di dunia ini yang membahas berbagai tantangan dan solusi global terkait air.
Menurutnya, peradaban Bali Kuno juga tumbuh dan berkembang pada simpul simpul sumber air yaitu Danau Batur dan Sungai Pakerisan serta sungai Petanu, Kerajaan Singhamandawa dan Kerajaan Singhadwara lahir di daerah ini, bahkan hingga sekarang daerah ini dikenal sebagai simpul simpul peradabaan ait di Pulau Bali.
Sumber air yang terkenal di daerah ini adalah Pura Tirtha Empul, Tampaksiring, menjadi tempat sudi wadani atau melukat serta toya tirha untuk upacara yadnya.
Salah satu kearifan lokal Bali terkait keagamaan dan spiritual adalah tirtha, yaitu air suci dan disucikan (Holy water) baik untuk simbol membersihkan dan menyucikan sebelum upacara yadnya maupun untuk simbol keberkatan/anugrah setelah upacara yadnya selesai Tirtha atau air mejadi anugrah kehidupan bagi oraang Bali.
Oleh sebab ini, Agama Hindu Bali sering disebut dengan Agama Tirtha, artinya semua upacara yadnya dan kebaktian ditandai dengan keberadaan tirtha atau air suci.
Kepercayaan lokal di Bali tentang tirtha ternyata ada “benang TriDatu” dengan kitab suci Veda, yang diketahui bersama sudah ribuan tahun yang lalu muncul di India. Salah satu ajaran Veda, terkait dengan lingkungan dan alam sekitar, dikenal dengan konsep Eco Veda, atau Eco Dharma. Konsep yang menyatakan bahwa agama (religion) mempunyai hubungan yang erat dengan alam lingkungan (ecology).
Dalam pandangan Veda, alam lingkungan adalah suatu sistem yang kompleks, dinamis dan hidup, yang harus dihormati sesuai etika (susila). Ajaran Veda bahkan menggambarkan bahwa bumi atau pertiwi bagaikan seorang Ibu (mother) bagi manusia, yang patut dijaga layaknya ibu sendiri.
Pada kitab Bhagawadgita, sloka III.10 yakni
saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā
purovāca prajāpatiḥ
anena prasaviṣyadhvam
eṣa vo "stv iṣṭa-kāma-dhuk
dinyatakan :
“Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan, Tuhan (Prajapati) setelah menciptakan manusia (praja) melalui yadnya, berkata: Dengan cara ini engkau akan berkembang, sebagimana sapi perah yang memenuhi keinginanmu (Kamadhuk)”
Berdasarkan sloka suci itu, diyakini ada tiga subyek utama dalam kehidupan, yaitu Prajapati (Tuhan), Praja (manusia) dan Kamadhuk (Alam lingkungan). Sloka inilah yang mengisnpiasi kearifan lokal Bali yang sangat termashyur, Tri Hita Karana (THK). Tri Hita Karana artinya tiga hubungan yang harmonis dan seimbang yang menyebabkan kebahagiaan hidup, tiga hubungan itu (1) hubungan manusia dengan Tuhan (aspek Perhyangan) (2)hubungan manusia dengan sesama (aspek Pawongan) dan (3) hubungan manusia dengan alam lingkungan (aspek Palemahan). Prinsip ini menyatakan jika ketiga hubungan diatas terjalin dengan selaras dan seimbang, yang mana manusia berbakti (Bhakti) kepada Tuhan, sesama manusia saling menghidupi (Punia) dan manusia memelihara alam lingkungan(Asih) , maka semua kebutuhan atau keinginan manusia terpenuhi (Jagadhita dan Moksa).
Dalam kosep yang lain, yaitu Rwa Bhineda, monodualitas, ada dua yang berbeda sesungguhnya satu, dinyatakan bahwa Tuhan/Prajapati ( Yang Mutlak Tunggal) untuk keberlangsungan dunia menciptakan dua hikmat yang berbeda namun saling melengkapi, yaitu Purusa( aspek maskulin) dan Pradhana/Prakerti (aspek feminin).
Keduanya bersinergi menciptakan beragam isi dunia, sekaligus memelihara keberlangsungan hidup sepanjang masa. Jika dianalogikan dengan THK, maka Pawongan adalah Purusa, sedangkan Palemahan adalah Prakerti. Prakerti, bermakna Kekuatan atau Sakti Tuhan yang dapat dirasakan sebagai kekuatan alam semesta, atau bisa dikatakan sebagai kekuatan energi dan materi, dimana sebagai lawan sekaligus pasangan adalah Purusha, kekuatan Ilahi yang bersifat spirit atau rohani.
Prakerti bisa dikatakan sebagai alam lingkungan yang ada di sekeliling manusia (Purusha), manusia tidak bisa hidup tanpa alam lingkungan, demikian juga alam lingkungan tidak bermakna tanpa kehadiran manusia. Prakerti, jika dikaitkaan dengan upaya menjaga kelestarian alam, ada enam bagian, tiga bagian pertama bisa dianalogikan dengan THK, yaitu Atma Kerti, displin rohani spiritual untuk berbakti kepada Tuhan, Jana Kerti, tatanan sosial untuk kerukunan hidup bermasyarakat, dan Jagat Kerti, upaya untuk menjaga kelestarian alam lingkungan secara luas.
Kemudian ada bagian tiga yang kedua, yang terkait dengan siklus air (Hidrocycle), yaitu Wana (Giri) Kerti, menjaga kehidupan di kawasan hutan dan gunung, kawasan ini diketahui sebagai zone penangkap air hujan utama, Danu Kerti, menjaga kelestarian sumber daya air tawar, baik yang ada di permukaan tanah seperti sungai dan danau, juga cadangan air yang di bawah permukaan tanah yang disebut air tanah ( lGround water), disini air hujan yang telah ditangkap hutan disalurkan ke berbagai wilayah dataran, kemuadian Samudra/Sagara Kerti, menjaga kehidupan di samudera atau lautan, daerah ini dipahami sebagai sumber air hujan/awan. Sudah dpahami bersama, bahwa siklus air terjadi seperti ini air laut dipanasi oleh sinar matahari, menguap menjadi awan, diterbangkan angin ke gunung, terjadilah mendung dan hujan, air hujan jatuh ditangkap oleh hutan, sebagian besar di masukkan ke dalam tanah menjadi mata air, setelah itu menjadi sumber bagi danau dan sungai, sebagian menjadi air tanah, aliran sungai kemudian menuju kembali ke laut dan samudra, demikian proses ini berulang sepanjang jaman.
Jika dikaitkan dengan peradaban air di atas, maka Danu Kerti memegang peranan yang penting, karena terkait langsung dengan penyediaan air tawar yang berkelanjutan, baik air tawar yang ada di permukaan (danau dan sungai) maupun dalam tanah ( lair tanah).
Demikian pula dengan keberadaan sumber sumber air suci (tirtha) yang menjadi elemen pokok dalam upacara-upacara yadnya di Bali. Salah satu ibadah unat Hindu, yaitu Tirthayatra, perjalanan menuju tempat suci terutama ke sumber air suci ( Holy water) seperti Pura Beji, Petirthan, dan Campuhan, untuk menyucikan diri ( melukat) atau menyehatkan diri melalui holistic healing ( terutama terapi air dan terapi spiritual ).
Semua ini adalah bagian dari kekayaan learifan lokal Bali/budaya Bali yang tidak ternilai harganya, yang mana bisa dikembangkan dan disebar luaskan sebagai hadiah atau berkat bagi seluruh umat manusia. (GAB/001)