Oleh Jro Gde Sudibya
Dalam fenomena dan realitas kehidupan dewasa ini, revitalisasi ethos kerja berbasis Catur Purusha Artha: Dharma, Artha, Kama dan Moksha menjadi tidak saja relevan, tetapi semakin penting, sebagai rujukan prilaku, "sesuduk kayun" dalam menapaki dan memaknai kehidupan.
Catur Purusha Artha, tujuan holistik kehidupan yang membumi, mempersyaratkan kesadaran yang melahirkan tuntunan prilaku, yang antara lain bercirikan, menyebut beberapa, pertama, prilaku berkehidupan: ekonomi, politik, dan sosial kultural, tidak menjebak manusia menjadi "binatang" ekonomi dan politik -economic & politic animals-, menjadi srigala ke selamanya -homo homini lupus-.
Tetapi sebaliknya, Dharma kehidupan yang mewajibkan insan manusia menuju pencerahan, kebebasan rohani (Moksha).
Kedua, menjadi pribadi kuat, STITHA PRAJNA, punya kecerdasan seimbang, terus berkarya, tidak terikat pada hasilnya, pancaran dari Karma Yoga. Bukan sebaliknya, menjadi pribadi rapuh, tunduk takluk pada keinginan tanpa batas, yang menjadi pangkal penyebab penderitaan di dunia kesementaran (maya).
Ketiga, belajar dari keteladanan Mahatma Gandhi, negarawan, bapak pendiri India, "guru" politik Soekarno dan juga Gus Dur, sikap hidup dalam ke seharian, berbasiskan kepada apa yang disebut Gus Dur tentang Gandhiji sebagai: self control (kemampuan ketat pengendalian diri), self help (mandiri) dan self sufficiency (kehidupan bersahaja).
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.