Buleleng (Atnews) - Prosesi ritual upacara Yadnya Homa Patidana, Pemahayu Pengenteg Jagat Menuju Kejayaan Nusantara digelar, menindaklanjuti acara doa bersama antar umat beragama di Bali pertama kali yang telah dilaksanakan pada tgl 12 Oktober 2009 yaitu 15 tahun yang lalu digagas oleh Yayasan Bali Organic Associatin (BOA), dan tokoh tokoh masyarakat Bali di Monument Bajra Sandi Denpasar ditandai dengan ngelinggihang Batu Penekek Gumi Bali Bajra Sandhi.
Ketua Yayasan Bali Organic Associatin (BOA), Prof. Dr. Ir. Luh Kartini, MS. kepada Atnews di sela-sela upacara mengemukakan, ritual upacara ini, juga menindaklanjuti doa bersama antar umat beragama yang dilaksanakan oleh Yayasan BOA dan dan Asta Taksu Dewata dalam rangka upacara Yadnya “Upakara Pemahayu Pengenteg Jagat” dihadiri pula oleh para Rohaniwan Umat Budha, Rohaniwan Umat Muslim, Rohaniwan Umat Hindu, Rohaniwan Umat Kristen, Tokoh Puri Pemecutan, dan tokoh masyarat Bali untuk memohon kerahayuan jagat ring rahina Suci Tumpek Pengarah tgl 03 Februari 2024 di Batu Penekek Gumi Bali Bajra Sandhi Denpasar.
Ritual khusus ini digelar, juga terkait telah berdirinya Pura Pelantikan sebagai pura Pengenteg Jagat Bali, Nusantara dan Dunia, pada Sabt, 3 Februari 2024 di Puri Kasih, Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng Singaraja yang sudah ditindaklanjuti dengan upacara pada hari Minggu,11 Februari 2024 dipuput oleh Ida Nabe Geria Agung Natha Kaba Kaba, yang hadir Yayasan BOA, Asta Taksu Dewata dan tokoh masyarakat Bali.
Saat ini, kondisi alam tidak baik baik saja terjadi pemanasan global dan perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan suhu rata rata 1,5
o C (BMKG,2024) serta terjadi elnino yang musim kering berkepanjangan menyebabkan kekurangan air sehingga menyebabkan gagal panen yang berdampak pada kehidupan, baik dari sisi pangan, ketersediaan air bersih dan kesehatan, dan juga berpotensi terjadi bencana. Indonesia (Nusantara) yang merupakan negara kepulauan,terdiri dari pulau pulau kecil seperti pulau Bali yang sangat rentan,dengan terjadinya pemasan global dan perubahan iklim. Semua wilayah harus dijaga kelestarian lingkungan dari hulu (gunung) tengah (beraktivitas ) dan hilir (laut) secara skala dan niskala, ujar Prof. Kartini.
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana ini juga memaparkan, sesuai bhisama Batur Kelawasan dan Tri Hita Karana. Konfrensi danau tahun 2009 menetapkan 15 Danau prioritas yang harus diselesaikan permasalahannya dan 2019 menambah danau prioritas sebanyak 18 danau yang harus diselesaikan permasalahannya. Danau merupakan tower air tawar untuk kehidupan yang jumlahnya hanya satu persen dari jumlah air keseluruhan. Dikatakannya, pertemuan WWF ke 10 tahun 2024 yang dilaksanakan di Bali tgl 18-25 Mei 2024 menyimpulkan, bahwa kondisi air kita tidak baik baik saja karena dunia sudah kehilangan air 50% dan banyak danau, sungai, dan mata air sudah mengering jumlahnya hanya 1 (satu)% dari keseluruhan jumlah air di dunia yang merupakan sumber air tawar.
Berdasarkan Rekapitulasi Tutupan lahan di seluruh Indonesia (Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan, 2020) banyak daerah yang hutannya ada, tapi luas tutupan lahan tidak sesuai dengan luas hutannya. Contohnya pulau Bali tahun 2020 tutupannya lahan hanya 18% tapi luas hutannya 23% yang seharusnnya tutupan lahannya 30%. Hal ini sangat penting karena HUTAN adalah IBUNYA AIR dan DANAU Rumahnya AIR.
Lebih jauh ia mengemukakan, leluhur kita sejak jaman dulu selalu mengajarkan kepada kita semua, jika ada sesuatu permasalahan sulit diatasi dengan teknologi modern (skala) agar diatasi secara niskala (sesuai dengan kearifan lokal atau kembali ke "peta lama" ( kepercayaan dan budaya) dengan "upakara" dan berdoa memohon kepada Ida Hyang Prama Kawi/Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa untuk mendapatkan jalan keluarnya.
Menurut Prof. Kartini, berdasarkan hal tersebut di atas dan berdasarkan diskusi dengan berbagai kalangan, sepakat melaksanakan Doa Bersama dalam upakara “Yadnya Homa Patidana Upakara Pemahayu Pengenteg Jagat Menuju Kejayaan Nusantara “ yang bertujuan berdoa bersama melakukan penyucian, dan membawa Sang roh ke alam sunia, guna menghilanglang pengaruh-pengaruh buruk dari roh roh yang gentayangan untuk ketentraman dan keselamatan serta Kejayaan Nusantara. Demikian juga meningkatkan kebersamaan dalam sebuah kesadaran bahwa betapa pentingnya penyelamatan tanah/Ibu Pertiwi dan air untuk semua kehidupan di alam ini.
Perjalanan ritual upacara yadnya yang digelar bertepatan dengan, Sabtu 03 Agustus 2024 di Pura Pelantikan, Puri Kasih, Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng Singaraja, Bali, diawali persembahyangan mohon waranugraha di titik nol Bali ditandai sebuah pohon beringin besar lengkap dengan pelinggihnya berlokasi di Desa Bulian, tepatnya di Banjar Dangin Bingin, dipimpin oleh seorang Jero Mangku Istri.
Pohon beringin yang sangat dikeramatkan masyarakat sekitar, dari penuturan salah seorang tokoh masyarakat setempat, I Gede Suardana Putra, ditanam pada tanggal, 20 Nopember 1398, (pada Tumpek Kuningan Sasih Kelima).
Pohon beringin ini sebagai simbul ditanamnya kebenaran dan keadilan di Desa Bulian. Saat itu juga diresmikannya awig-awig Desa Bulian, tahun saka 1320. Di perempatan jalan tetsebut. setiap Tilem Sasih Kepitu digelar upacara pecaruan sapi jantan selem injin (sapi hitam sampai kulit, bulu dan kuku bahkan sampai darahnya berwarna hitam, ujar Gede Suardana Putra.
Sementara Upacara Yadnya Homa Patidana, sejatinya adalah suatu ritual upacara kuno Siwa Budha agni mandala, pengabuan pada gni kunda/ api oma, (suatu tempat perapian berbentuk segi delapan) guna melebur dosa dosa sang atman pembebasan para preta, roh roh gentayangan sekalian ritual penyucian roh atman lanang/ istri ,termasuk juga roh ikan burung binatang melata & binatang kaki empat. Roh-roh gentayangan, baik dari manusia (Wong), sato mina manuk taru wuku yang belum dapat tempat, dijadikan atma lingga, semua diabukan disucikan dalam gni kunda api oma, yang dipuput tiga pendeta diantaranya, Ida Bhagawan Arga Sagening Gria Magelung Sanggulan Tabanan didampinĺgi juga tiga orang pinandita. Ritual upacara ini pada prinsipnya melakukan tiga langkah upaya yakni; "Mengabukan, menyucikan, dan nyekah membawa Sang roh ke alam sunia", guna menghilanglang pengaruh-
pengaruh buruk dari roh roh yang gentayangan.
Prosesi ritual upacara yang berlangsung sekitar 3 (tiga) jam, berakhir hingga hampir tengah malam itu berjalan hidmat, nampak kebersamaan dan persahabatan terjalin erat untuk pengabdian demi kedamaian serta ketentraman jagat nusantara khususnya Bali dengan suatu ritial upacara yang terpusat di Pura Pelantikan, Puri Kasih, Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng Bali. Tentram dan damailah Nusantara-ku. Swaha. (IBM/001).