Banner Bawah

Bela Kebenaran, Puri Agung Pemecutan Gelar Peringatan ke-118 Perang Puputan Badung

Admin - atnews

2024-09-21
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bela Kebenaran, Puri Agung Pemecutan Gelar Peringatan ke-118 Perang Puputan Badung
Peringatan ke-118 Perang Puputan Badung (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Puri Agung Pemecutan Badung menggelar Peringatan ke-118 Perang Puputan Badung yang betepatan di Denpasar, Jumat (20/9).

Dalam upaya penguatan kebudayaan dan tanda terima kasih kepada para pahlawan yang telah Puputan membela martabat bangsa maka diperlukan kegiatan kegiatan bernuansa kebudayaan dan patriotisme terutama yang dilakukan oleh generasi muda dan generasi penerus bangsa.

Dengan membentuk panitia pelaksana yang diketahui oleh Penglingsir Agung Puri Pemecutan Badung Agung Ngurah Rai Parwata bersama Anak Agung Ngurah Putra Darmanuraga.

Dengan menyelenggarakan kegiatan Donor Darah, Eduaksi Dejarah Kerajaan Badung, Lomba Mewarnai, Atraksi Permainan Pecut dan Pencak Silat, Menyanyikan Lagu Perjuangan dan Lagu Puputan Badung serta Pawai Budaya menuju Lapangan Puputan Badung.

Momentum itu mengenang tanggal 20 September 2024 ada peringatan yang dinamakan Hari Puputan Badung. Hari ini dikhususkan untuk mengingat peristiwa yang pernah terjadi di Badung, Bali.  Dimana para pejuang dan leluhur Puri Agung Pemecutan gugur dalam pertemuan melawan Belanda.

Perang itu terjadi dalam mengalahkan dan menaklukan Bali. Belanda berupaya berbagai cara meruntuhkan Kerajaan Badung yang kuat.  Namun kerap gagal karena Raja Badung memegang teguh kebenaran dan membela penuh rakyatnya.

Sementara itu, Pemerhati Prof AA Gede Nitya Shantiarsa didampingi AA Ngurah Agung menjelaskan kepada generasi muda tetang "Puputan Badung 20 September  1906, Satyam Eva Jayate, Akhirnya Moral yang Menang".

Acara itu melibatkan anak-anak sekolah dasar yakni SDN 1 Pemecutan, SDN 3 dan SDN 10 Pemecutan.


Dijelaskan, Hari Pertama pada tanggal 14 September 1906. Pada hari ini pukul 7 pagi, semua pasukan Belanda mendarat di Pantai Sanur, dan saat itu juga seluruh Desa Sanur,  Intaran, Sindu dan Delod Peken menyatakan takluk kepada Belanda. Kemudian, Belanda membangun bivak ( perkemahan pasukan) di pekarangan rumah orang Cina bernama Nyo Tok Swie dan Tjhoon.

Raja Badung merespon pendaratan ini dengan menyiarkan maklumat kepada seluruh rakyat Badung bahwa tidak boleh menyerang terlebih dahulu, sebaliknya harus melawan jika pasukan Belanda menyerang terlebih dahulu.

Hari Kedua Kedua pada 15 September 1906. Pada hari ini, pukul 7.30, Raja Badung mengirim pasukan Sikep Badung berkekuatan 1000 orang di bawah pimpinan 7 manca[ Jero Tegal, Jero Kaleran Kawanan, Jero Kaleran Kanginan, Jero Kawan Jambe, Jero Oka dan Jero Dangin) menyerang Desa Sanur, terjadi pertempuran besar yang berakhir dengan dipatahkannya serangan prajurit Sikep Badung. Dengan kekalahan ini, maka Desa Renon, Suwung dan Sidakarya menyatakan takluk kepada Belanda.

Hari Ketiga tanggal 16 September 1906. Pada hari ini, pukul 8.00 pagi hari, Raja Badung menyiapsiagakan 1000 prajurit Sikep di Desa Panjer, dan Raja Badung sendiri memimpin pasukan Sikep sebanyak 2000 orang di Desa Kesiman.

Pasukan Sikep berkekuatan 1000 orang  di bawah komando 7 manca di atas diperintahkan menyerang kembali Desa Sanur, sehingga terjadi perang dashyat di sekitar Desa Panjer. Sekali pagi, pasukan Sikep Badung kalah, sehingga Desa Panjer, Sesetan, Bekul dan Pedungan ditaklukkan oleh Belanda.

Hari Keempat, tanggal 17 September 1906. Pada hari ini tidak ada pertempuran, namun banyak terjadi kekacauan di pihak Kerajaan Badung, terutama akibat rasa ketakutan yang besar dan pengkhianatan akibat ketidakpuasan dan pembangkangan. 

Peristiwa besar hari ini adalah, menjelang malam, Manca Kesiman, I Gusti Ngurah Mayun, mati terbunuh oleh seorang Pedanda, Ida Wayan Meregog, yang sebenarnya penasehat manca sendiri, karena manca menjalankan perintah Raja Badung untuk merampas harta setiap orang yang tidak setia kepada Raja Badung. Brahmana ini akhirnya dibunuh oleh warga Kesiman keesokan paginya. Setelah ditemukan bersembunyi pada sebuah sumur dalam Puri.

Hari Kelima tanggal 18 September 1906. Hari ini tidak ada pertempuran, namun pasukan Belanda terus menembakkan Meriam ke posisi Puri Denpasar dan sekitarnya

Hari Keenam, 19 September 1906. Pada hari ini, pukul 7.00, pasukan Belanda berangkat dari Sanur menuju ke Desa Tangtu Kesiman, disini terjadi pertempuran dashyat, pasukan Sikep Badung akhirnya kalah lalu mengundurkan diri dari Kesiman. Pada pukul 12.00, pasukan Belanda berhasil memasuki Puri Kesiman yang sudah kosong.

Hari Ketujuh, tanggal 20 September 1906. Pasukan Belanda berangkat pukul 7.00 dari Puri Kesiman menuju Puri Denpasar, dimana disana Raja Badung sudah bersiap siap sejak pagi menunggu kedatangan pasukan Belanda. 

Perang mulai terjadi saat pasukan Belanda berada di dekat Kaliungu, kemudian pada pukul 11.00 pasukan Balnda berhasil memasuki desa Taensiat, pertempuran semakin sengit, selama 90 menit, akhirnya Raja Badung dan pasukan Sikep gugur di jalan depan Pura Satria, "Inilah peristiwa Puputan Badung yang pertama!," ujarnya.

Pada pukul 14.00 serangan dilanjutkan ke Puri Pemecutan yang terletak di sebelah barat Tukad Badung, pertempuran berlangsung dengan sengit selama 60 menit, dimana akhirnya Ide Cokorde Pemecutan X, Raja Pemecutan gugur bersama para parjurit SIkep yang setia.

Peristiwa ini terjadi di depan Puri Pemecutan, ini yang disebut dengan Puputan Badung yang kedua, sekaligus menandai berakhirnya kemerdekaan Kerajaan Badung!.

Total yang gugur dalam pertempuran besar ini ada sekitar 1200 orang, laki perempuan, tua muda, bahkan anak-anak,  dimana sekitar 800 orang di Puri Denpasar dan 400 orang di Puri Pemecutan. 

Sedangkan, Penancapan Keris Pusaka oleh Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Panglingsir Puri se-Kota Denpasar menjadi pemuncak Peringatan ke-118 Puputan Badung di Kota Denpasar. Dikemas dalam perpaduan Apel dengan Karya Mahabandana Puputan Badung, peringatan tahun ini berlangsung khidmat serta meriah di Kawasan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar, Jumat (20/09).

Rangkaian peringatan diawali dengan Pembacaan Sejarah Singkat Puputan Badung yang terjadi pada Tahun 1906. Dimana, peperangan tersebut terjadi atas perlawanan sengit Rakyat Badung kepada Kolonialisme Belanda. Hal tersebut dipicu atas Hak Tawan Karang yang bertentangan dengan Belanda kala itu. Rangkaian peristiwa heroik ini dikemas dalam sebuah garapan kolosal multidisipliner sebagai upaya penghormatan dan eksistensi sejarah Perang Puputan Badung yang menghadirkan 1.500 lebih seniman dari berbagai genre seni.

Karya kolaborasi ini tidak hanya memperkaya pemahaman tentang peristiwa sejarah, tetapi juga meningkatkan apresiasi terhadap budaya dan seni Bali. Melalui berbagai bentuk ekspresi artistik, kolaborasi ini menciptakan pengalaman yang mendalam, memicu refleksi, dan memperkuat penghargaan terhadap perjuangan dan keberanian yang ditunjukkan oleh para pejuang Bali.

Dalam kesempatan tersebut turut diserahkan Bantuan BKK dengan nilai Rp.59.980.302.341,- dari Pemerintah Kabupaten Badung kepada Pemerintah Kota Denpasar  dan Bantuan Hibah kepada 52 Kelompok Masyarakat Kota Denpasar yang diserahkan langsung Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta dan diterima Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama perwakilan kelompok masyarakat. Selain itu juga turut diserahkan Piagam Penghargaan Kepada Seluruh Kolaborator Penyaji Pementasan serta Rekor Dunia Indonesia (MURI) kepada Pemerintah Kota Denpasar dan NALURI MANCA sebagai pengkarya Pementasan Kolosal Multi Genre Seni di Lokasi Asli Peristiwa Heroik oleh Seniman Terbanyak.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Panglingsir Puri Agung Denpasar, AA Ngurah Oka Ratmadi, Panglingsir Puri Agung Pemecutan, AA Ngurah Putra Dharma Nuraga, Panglingsir Puri Agung Jrokuta, AA Ngurah Jaka Pratidnya serta panglingsir puri se-Kota Denpasar. Hadir pula Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Ketua DPRD Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Gede bersama Anggota DPRD Kota Denpasar, Sekda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana, Pj. Sekda Kabupaten Badung, Ida Bagus Surya Suamba, Forkopimda Kota Denpasar, LVRI Kota Denpasar, Pimpinan OPD serta undangan lainya.

Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara mengatakan, Perang Puputan Badung yang kita peringati saat ini didasari oleh peristiwa heroik Rakyat Bali, terutama dari Kerajaan Badung yang bertempur sampai titik darah penghabisan atau puputan melawan penjajah Belanda. Dimana, tanggal 20 september 1906 merupakan peristiwa yang memperlihatkan kepada dunia bahwa segenap Rakyat Bali yang dipimpin oleh Raja Badung yakni I Gusti Ngurah Made Agung dan juga Raja Pemecutan Cokorde Pemecutan IX yang memiliki dedikasi dan idealisme tinggi berjuang dengan segenap jiwa raga dalam menjaga setiap jengkal tanah kelahiran.

"Ini merupakan semangat sebagai bangsa besar yang tidak pernah melupakan sejarah perjuangan para pendahulunya, marilah kita maknai nilai- nilai kepahlawanan para pejuang kita yang patut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta dapat dijadikan inspirasi oleh generasi muda untuk mengisi pembangunan ini," ujarnya

Jaya Negara mengatakan, dalam Perang Puputan Badung itu terdapat sebuah bisama Mati Tan Tumut Pejah yang bermakna bahwa mati di medan perang, namun perjuangan tidak pernah mati. Inilah yang menjadi sejarah Pemerintah Kota Denpasar dengan motto Pura Dhipa Bara Bhavana yang menekankan kewajiban pemerintah untuk mewujudkan kemakmuran masyarakat. Hal ini diaplikasikan pemerintah dalam program priroritas pengentasan kemiskinan dan mewujudkan kemakmurahan masyarakat.

“Peringatan ke-118 Perang Puputan Badung, khususnya bisama Mati Tan Tumut Pejah menjadi inspirasi dan edukasi bagi kita semua, bagaimana para panglingsir puri dan pendahulu kita dalam meraih kemerdekaan. Dimana ini menjadi sepirit untuk memenuhi kewajiban dalam menjamin kesehatan masyarakat, memenuhi kebutuhan pendidikan dan lain sebagainya untuk kemakmuran masyarakat,” ujar Jaya Negara.

Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta yang bertindak selaku Inpsketur Upacara dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat Badung dan Kota Denpasar agar jangan sekali melupakan sejarah (Jas Merah). Hal ini lantaran para raja-raja, pahlawan dan pejuang terdahulu mempertahankan wilayah hingga titik darah penghabisan yang kini dikenal dengan istilah puputan.

“Hendaknya sepirit perjuangan para pendahulu kita dalam peristiwa Puputan Badung ini menjadi inspirasi, semangat serta tauladan dalam mengisi kemerdekaan saat ini,” ujarnya. (GAB/IBM/001).

Baca Artikel Menarik Lainnya : BPS Rilis Penurunan Desa Tertinggal

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng