Peran Ibu-Ibu Bali Menyeberangkan Keturunannya dalam Mengarungi Suka - Duka Kehidupan
Admin - atnews
2024-10-11
Bagikan :
Putu Suasta (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Jro Gde Sudibya, Intelektual Hindu, Penulis Buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali merespon kisah menarik di tengah perjalanan ziarah Camino de Santiago, Oktober 2024 dariPutu Suasta, Seorang Pengelana Global bersama Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional SOKSI Valentino Barus.
Sebagaimana "Silih dan kaul" dari Isabela, barangkali mirip dengan sikap hidup "Mesangi" seorang Ibu-ibu di Bali, yang di tengah kediamannya terus bekerja dan berdoa "yasa kerthi" yang rela dan berjanji memukul beban "sekala lan niskala" dari keturunannya yang sedang ditimpa cobaan kehidupan.
Dalam ungkapan tetua Bali Pegunungan "meneng akena", di tengah kediaman terus berkarya, termasuk menanggung beban derita anak-anak tercinta.
"Apakah ini sebuah kemelekatan hidup?. Ibu-ibu Bali tidak memahaminya, yang jelas mereka menjalankan Dharma kehidupan," ujar Jro Gde Sudibya di Denpasar, Jumat (11/10).
Menurutnya, keseriusan, ketulusan doa ini, dalam sastra rohani bisa mencapai tingkat samadhi, dengan karya-karya "metaksu" dalam rutinas ke seharian.
Jejahitan canang burat wangi yang apik, jaja kupa yang uenak dengan tekstur yang indah, dodol yang nikmat, jaja uli yang manis legit, sampai ke simbol utuh jejaitan "Ardhananareswari" yang disakralkan dalam aed upakara piodalan.
Adalah fakta, di keluarga Bali yang berhasil (menurut ukuran otentik budayanya) selalu ada peran wanita yang super hebat.
Dalam bahasa ke kinian, sering disebut great women, grand ma dan sebutan lainnya yang menggambarkan kekaguman dan respek.
Pengamat otentik kebudayaan Bali paham, kebesaran budaya Bali (yang sekarang sedang memudar karena "dasa muka" permasalahan), fondasi kuatnya adalah "air mata" wanita Bali dengan suka dan duanya dalam sebut saja membangun "peradaban" keluarga, dengan tidak terlalu hirau (ignorance) dipuji dan dihargai.
"Mereka adalah pejalan yoga dalam artian sebenarnya," ujarnya.
Sementara itu, Putu Suasta, Seorang Pengelana Global yang Alumni UGM dan Cornell University bersama Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional SOKSI Valentino Barus kembali membagikan cerita dalam mengikuti Camino de Santiago, Oktober 2024.
"... Serahkan semua deritamu, sakit penyakitmu dan duka laramu. Berikan padaku ! Biar kutanggung, kupanggul, kubawa di sepanjang jalan pejiarahanku, di Camino de Santiago," pinta Isabel kepada Maria.
Sahabatnya itu telah lama menderita akibat ginjalnya yang rusak. Permintaan sama dia sampaikan kepada Lewanska, bapaknya yang menderita cancer, dan Rensia, ibunya yang menderita penyakit jantung.
Tak kuat melihat derita orang-orang terkasihnya, Isabel bertekad memberikan alternatif dukungan dengan cara dan keyakinannya sendiri.
Caranya ialah dengan melakukan silih. Silih adalah ganti, tukar atau "mengambil alih" persoalan atau derita orang lain dengan cara ber-camino.
Silih adalah salah satu motivasi orang berjalan di rute Camino de Santiago. Ada banyak motivasi lain, seperti; berziarah ke makam Santo Jakobus di katedral Santiago, alasan berpetualang, mendekat ke alam, olah raga, mengenal budaya dan sejarah, berkontemplasi atau laku spiritual.
Berbekal tekad kuat mengurangi sakit dan derita orang terkasihnya, "single parent" dua anak ini menyusuri rute berat Camino de Santiago lewat jalur utara.
Dia mulai start dari kota Bilbao dan naik menyusuri garis pantai terus ke arah barat, provinsi Galizia, dengan tujuan Katedral Santiago.
Rute Utara yang sepi dipilih berdasarkan saran dari seorang teman. Semenjak pamit dari rumahnya di Warsawa, tanggal 15 September 2024, Isabel berubah, bermetamorfosa menjadi pengelana.
Di keluarganya, di Warsawa, keseharian Isabel diwarnai sikap cerewet dan banyak mengatur. Namun, dalam perjalanan ini dia benar-benar sendiri. Mengelana sendiri di rute yang sepi.
"Berhari-hari saya jalan seorang diri. Bahkan pernah kehabisan bekal" kata Isabel. Kejadiannya bermula ketika di satu pertigaan Isabel "salah" memilih jalur.
Akibatnya dia "dituntun" mendaki bukit batu yang terjal. "Jalannya naik, terus naik, dan naik, dan naik terus. Saya berdoa dan berpikir kenapa saya harus merasakan ini," keluh Isabel.
Di ujung putus asanya, Isabel menemukan jalan turun ke desa di tepi pantai. Orang desa terkaget-kaget mendengar rute pilihannya.
Pejiarahan Santiago de Compostella yang legendaris senantiasa melahirkan cerita menarik, bahkan dari orang yang baru dikenal. Di tengah sunyi sepi sendiri, Isabel bersyukur bersua rombongan kami, "grup turtle" pimpinan Om Beben (dibantu asisten Milda, Lian dan Lani).
Momen peziarahan Santiago yang singkat mampu menjalin persaudaraan yang tak jarang ditandai deraian air mata syukur.
Dalam kesendiriannya, Isabel berhasil menerobos hujan angin badai dan cuaca dingin yang ekstrim. Keluar masuk hutan berlantai tanah becek berlumpur.
"Semoga silih dan doa untuk sahabat dan keluarga terkasih memperteguh tekad dan optimisme mereka untuk memenangkan pertandingan kehidupan," tutupnya. (GAB/001)