Banner Bawah

Risiko Anomali dalam Berpolitik, Menjelang Pilkada Serentak 27 November 2024

Admin - atnews

2024-10-31
Bagikan :
Dokumentasi dari - Risiko Anomali dalam Berpolitik, Menjelang Pilkada Serentak 27 November 2024
 I Gde Sudibya (ist/Atnews)

Oleh I Gde Sudibya
Dari para perintis pendiri bangsa, Kita bisa belajar banyak tentang kejernihan dalam  berpolitik, cerdas, bervisi, penuh dedikasi, politik  adalah panggilan kehidupan untuk mengabdi.

Tulisan Soekarno muda dalam harian Soeloeh Indonesia dasa warsa tahun 1920-an, dengan merujuk pemikiran ternama India Cri Aurobindo, tentang politik tanpa pamrih, totalitas pengabdian buat bangsa, politik sebagai panggilan jiwa untuk mengabdi pada kemanusiaan. 

Tulisan Soetan Sjahrir dalam bukunya Demokrasi Kita yang terbit di awal dasa warsa tahun 1940-an, mengulas tentang panggilan kemanusiaan dalam berpolitik, humanisme universal sebagai sumbu dalam totalitas berpolitik.

Berbeda jauh, kontras dengan prilaku politik yang berlaku umum dewasa ini, dengan sejumlah cirinya, pertama, politik sebatas instrumen dari sebuah industri kekuasaan, kekuasaan yang cendrung korup, sehingga upaya pelanggengan kekuasaan, "power feed to power", menjadi tak terhindarkan. 

Kedua, politik menjadi sangat transaksional, menjadi proses "jual beli" dalam pasar politik yang yang nir etika dan "rimba raya"  nyaris tanpa aturan hukum, "Lawless Society". 

Ketiga, Prilaku politik, didominasi oleh prilaku untuk mengendalikan bawah sadar rasa takut kehilangan dan kesempatan menikmati privilege (hak istimewa kekuasaan), sehingga lahir prilaku ngawur dalam berpolitik, demagogi politik, amat banyak mengumbar janji, yang nyaris tidak mungkin untuk dipenuhi. Janji ini menemukan "lahan suburnya", dalam realitas politik, dengan 80 persen pemilih yang  tingkat pendidikannya setingkat kelas 7, tidak tamat SMP. 

Keempat, terjadi "social distrust" pada mayoritas pemilih, sehingga bisa timbul bawah sadar pada mereka, untuk memanfaatkan kesempatan setiap momen politik, untuk memberikan "harga ekonomi" terhadap kegiatan mereka memasuki bilik suara. 

Kelima, biaya politik menjadi sangat mahal, secara makro terjadi demokrasi prosedural, demokrasi "seolah-olah" yang tidak membawa perubahan buat massa rakyat. Bahkan terjadi proses "pembunuhan" demokrasi, hasil demokrasi "seolah-olah" melahirkan pemerintahan otoriter, semi otoriter, dan bahkan prilaku despotik di sejumlah daerah. 

Buah dari nepotisme politik yang merambah luas, mengkhinati sistem meritokrasi dalam berpolitik. Secara mikro, politisi yang kalah dalam pertarungan bisa jatuh miskin, dan punya risiko mengalami tekanan mental yang akut. Biaya sosial dari pragmatisme politik yang sangat besar.

Diperlukan kecerdasan dan kejernihan dalam berpolitik untuk meminimalkan biaya sosial yang besar  dari prilaku politik yang menghalalkan semua cara.

*) I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur Koster Sebut Akulturasi Budaya Bali dan Tiongkok Sudah Turun Temurun

Terpopuler

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

Wali Kota Denpasar Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Bale Kulkul Banjar Panti Gede, Pemecutan Kaja

Wali Kota Denpasar Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Bale Kulkul Banjar Panti Gede, Pemecutan Kaja