Badung (Atnews) - Putu Suasta, Seorang Pengelana Global, Pendiri LSM JARRAK yang Alumni UGM dan Cornell University mengatakan Veda hadir untuk universal, bukan hanya untuk mereka yang mengaku beragama Hindu.
Hal itulah yang disebut sanātana-dharma, sifat dan tugas abadi dan universal dari setiap makhluk hidup.
"Sifat dan tugas ini berlaku untuk semua entitas hidup, semua makhluk hidup. Itulah sebabnya agama ini disebut sanātana-dharma," kata Suasta ketika mengikuti acara Yoga di Monumen Perjuangan Bangsal sebagai Rumah Plularisme, Badung.
Acara Yoga itu digelar pada penghujung Tahun 2024 dalam rangka menyambut Tahun Baru 2025, sekaligus rangkaian HUT ke-6 Atnews di MPB Badung, Selasa (24/12).
Budayawan Suasta juga akan menghadiri Perayaan Maha Kumbh Mela yang merupakan festival keagamaan terbesar di Planet Bumi, umat Hindu seluruh Dunia akan merayakan Maha Kumbh Mela.
Bahkan, festival ini terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO yang akan berlangsung dari tanggal 13 Januari 2025 hingga 26 Februari 2025.
Perayaan Maha Kumbh Mela (Kumbha melā) adalah salah satu festival keagamaan terbesar dan paling sakral di India, yang diadakan setiap 12 tahun sekali secara bergantian di empat kota suci yakni Prayagraj (Allahabad), Haridwar, Ujjain, dan Nashik.
Suasta menjelaskan sanātana-dharma, belakangan dikenal sebagai Hinduisme. Sejauh menyangkut sanātana-dharma, itu berarti kewajiban abadi.
Sanātana-dharma tidak dimaksudkan untuk golongan manusia atau negara atau masyarakat tertentu. Sanātana-dharma berarti diperuntukkan bagi para makhluk hidup.
Sanātana-dharma juga berarti agama yang kekal. Agama umat manusia adalah satu. Itu disebut sanātana. Makhluk hidup digambarkan sebagai sanātana. Mamaivāṁśo jīva-bhūto jīva-loke sanātanaḥ dalam Bhagavadgita Bab 15, Sloka 7.
Bahkan Śrīpāda Rāmānujācārya telah menjelaskan kata sanātana sebagai "sesuatu yang tidak memiliki awal maupun akhir." Dan ketika kita berbicara tentang sanātana-dharma, kita harus menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah pasti berdasarkan otoritas orang suci bahwa itu tidak memiliki awal maupun akhir.
Sanātana-dharma berarti yang tidak dapat diubah, yang tidak dapat diubah. Sama seperti air dan likuiditas. Likuiditas tidak dapat diubah dari air. Panas dan api. Panas tidak dapat diubah dari api.
Untuk itu sanātana-dharma bukan sistem kepercayaan. Ini adalah ilmu seperti fisika, kimia, matematika dan lainnya. Maka dari itu, pihaknya memiliki beragam alasan untuk tetap tekun dalam jalan sanātana-dharma (Hinduisme).
Diantaranya, seorang Hindu karena itu memberi tahu tujuan hidup adalah untuk menyadari Tuhan.
Hinduisme mengajarkan adalah jiwa dan bukan tubuh, kebebasan mutlak untuk menyembah Tuhan dalam nama dan bentuk apa pun yang diyakini.
Dalam Hinduisme, Tuhan tidak hanya di luar tetapi juga di dalam diri. Hinduisme mengajarkan bahwa kebenaran saja yang menang. Orang-orang sadhu dan orang bijak adalah bukti hidup dari kasih dan belas kasihan Tuhan.
Hinduisme mengajarkan bahwa layanan tanpa pamrih adalah tugas tertinggi. Bahkan Hinduisme menganggap agama sebagai manifestasi dari rohani yang sudah ada di dalam diri, membantu melihat ketidakkekalan tubuh.
Hinduisme memberi kebebasan untuk mencintai Tuhan dengan cara apa pun yang cocok. Hinduisme mengakui bahwa tidak ada satu-satunya cara untuk mencapai Tuhan, Yang Maha Mengetahui.
Hinduisme membimbing untuk merayakan fase kehidupan yang berbeda. Membaca kisah-kisah Hindu Rishi dan penyembah membantu membentuk kepribadian dirinya dalam memahami tujuaan hidup. Termasuk Hinduisme mendorong pemikiran dan rasionalisasi.
Festival Hindu menawarkan kegiatan yang menyenangkan untuk semua. Hinduisme mempromosikan makanan sederhana yang sehat.
Hinduisme mengajarkan untuk menghormati orang-orang yang belajar dan bijaksana. Kuil Hindu kuno memberi rasa kagum dan kebanggaan para leluhur.
Yoga membantu menjaga tubuh dan pikiran tetap sehat. Begitu juga Meditasi menenangkan pikiran dan memberikan ketenangan batin.
Diharapkan Yoga menjadi lifestyle dan cara hidup (way of life) semua orang, khususnya bagi umat Hindu. Mengingat Yoga warisan Kuno, kini sudah semakin populer di seluruh dunia.
Setiap 21 Juni diperingati sebagai International Yoga Day atau Hari Yoga Internasional, bahkan Hari Meditasi Dunia pertama sudah ditetapkan pada 21 Desember 2024. Hari itu telah ditetapkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi A/RES/79/137.
"Untuk itu, Yoga itu akan memberikan manfaat bagi individu, lingkungan maupun dunia. Vibrasi itu diyakini mampu memberikan kedamaian bagi alam semesta," ujar Suasta yang juga aktivitas sudah keliling India (Bharat) sejak muda.
Maka gerakan Yoga agar semakin digelorakan dan disemarakan di tengah memanasnya gepolitik maupun persaingan global, termasuk tingkat stress masyarakat tinggi dalam menghadapi arus peruabahan dan globalisasi. Dalam pengucapan mantra Veda menciptakan getaran positif secara internal dan eksternal.
"Hinduisme mengajarkan untuk melayani semua bentuk kehidupan, kecil atau besar seperti diri kita sendiri," imbuhnya.
Hinduisme menunjukkan bahwa manusia adalah yang terbesar dari semua makhluk. Hinduisme tidak pernah memaksakan apa pun pada siapa pun.
Menariknya lagi, Hinduisme mengajarkan untuk menghormati semua agama. Hinduisme memberikan jaminan bahwa tidak ada orang berdosa yang dikutuk selamanya.
Hinduisme memberi harapan bahwa saya selalu dapat mereformasi diri dan mencapai kesempurnaan. Hinduisme menyediakan berbagai disiplin ilmu bagi tubuh dan pikiran.
Hinduisme menunjukkan bahwa Tuhan pertamaku adalah ibuku. Hinduisme menunjukkan bahwa tidak ada pengetahuan yang diperoleh tanpa menghormati guru.
Hinduisme mengajarkan bahwa setiap pengetahuan, apakah yang suci atau sekuler (material) berasal dari Tuhan.
Hinduisme mengajarkan bahwa Tuhan adalah panduan batin dalam setiap orang. Hinduisme mengajarkan bahwa setiap wanita adalah perwujudan dari kekuatan Tuhan.
Hinduisme mengajarkan bahwa jiwa tidak memiliki jenis kelamin, ras, atau kasta. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sempurna dan tanpa pamrih akan membuatku sempurna.
Hinduisme memintaku untuk melihat seluruh dunia sebagai satu keluarga. Hal itu dikenal “Vasudhaiva Kutumbakam” adalah frasa bahasa Sansekerta yang berarti “Dunia adalah satu keluarga”.
Pepatah India kuno ini menyampaikan gagasan bahwa seluruh dunia saling terhubung dan semua orang adalah bagian dari satu keluarga global.
Pepatah ini mempromosikan nilai-nilai persatuan, kerja sama, dan gagasan bahwa kita harus memperlakukan semua orang dengan kebaikan dan empati, terlepas dari kebangsaan, ras, atau agama mereka. Pepatah ini sering digunakan untuk menekankan pentingnya perdamaian global dan pengertian di antara berbagai budaya dan bangsa.
Konsep "Vasudhaiva Kutumbakam" berakar pada filsafat dan teks-teks India (Bharatavarsa) kuno, khususnya dalam Maha Upanishad dan Hitopadesha. Teks-teks ini merupakan bagian dari warisan budaya dan filsafat India yang kaya, dan sudah ada sejak ribuan tahun lalu.
Perdana Menteri India Narendra Modi menggunakan frasa ini dalam pidatonya di Festival Budaya Dunia, yang diselenggarakan oleh Art of Living, seraya menambahkan bahwa "Budaya India sangat kaya dan telah menanamkan nilai-nilai luhur dalam diri kita masing-masing, kita adalah manusia yang datang dari Aham Brahmasmi ke Vasudhaiva Kutumbakam, kita adalah manusia yang datang dari Upanishad ke Upgraha (Satelit)."
Logo itu digunakan dalam Olimpiade Sains Bumi Internasional ke-7 yang diselenggarakan di Mysore, India pada tahun 2013. Logo itu dirancang untuk menekankan integrasi subsistem Bumi dalam kurikulum sekolah. Logo ini dirancang oleh R. Shankar dan Shwetha B. Shetty dari Universitas Mangalore.
Selain itu, tema dan logo untuk Presidensi G20 India dari 1 Desember 2022 hingga 30 November 2023 menyebutkan “Vasudhaiva Kutumbakam” atau “Satu Bumi-Satu Keluarga-Satu Masa Depan”. Logo tersebut dipilih setelah peninjauan terhadap 2.400 kiriman dari seluruh India yang diundang melalui kontes desain logo.
Hinduisme mengajarkan untuk berlatih tanpa kekerasan (Ahimsa) dan tanpa melukai kepada orang lain.
Hinduisme mengajarkan untuk memberi makan yang lemah dan yang lapar. Hinduisme menunjukkan bahwa bahkan orang-orang berdosa dapat disucikan oleh rahmat Tuhan.
Hinduisme menunjukkan bahwa Tuhan menerima segala sesuatu dan apa pun yang diberikan dengan cinta. Tuhan berjanji dalam Bhagavad Gita untuk melindungi Dharma dari Adharma.
Hinduisme menunjukkan bahwa Tuhan berinkarnasi di bumi/Bharatavarsa (Avatara) untuk menunjukkan jalan kebenaran.
Di planet bumi disebut Ilā. Bumi ini sebelumnya dikenal sebagai Ilāvṛta-varṣa, dan ketika Mahārāja Parīkṣit memerintah bumi, bumi ini disebut Bhārata-varṣa. Sebenarnya, Bhārata-varṣa adalah nama untuk seluruh planet , tetapi secara bertahap Bhārata-varṣa berarti India. Karena India baru-baru ini terbagi menjadi Pakistan dan Hindustan, bumi ini sebelumnya disebut Ilāvṛta-varṣa, tetapi secara bertahap seiring berjalannya waktu bumi ini terbagi oleh batas-batas negara.
Namun dalam satu pengertian, Bhāratavarṣa berarti planet ini (bumi). Dahulu hanya ada satu bendera, Bhāratavarṣa, dan ibu kotanya adalah Hastināpura. Lambat laun kendali Pāṇḍava menurun. Hingga Mahārāja Parīkṣit, seluruh dunia adalah Bhāratavarṣa. Sekarang telah menjadi tanah kecil, semenanjung.
Sedangkan, doktrin Karma menunjukkan bahwa "aku adalah pencipta takdirku sendiri". Veda menyampaikan tentang keberanian. Bhagavad Gita adalah panduan terbaik tentang motivasi diri.
Para Purana memberikan kebenaran besar dalam cerita-cerita sederhana. Ramayana menunjukkan tentang cara hidup. Srimad Bhagavatam mengajari cara mati. Mahabharata menunjukkan kepada dirinya tentang cara mengalahkan kesulitan dalam hidup. Upanishad mengajarkan tentang kebenaran tertinggi tentang diri yang sebenarnya.
Hinduisme, Agama mengajarkan bagaimana menyembah Tuhan dengan berbagai cara. Itihasa dan Puranas membantu mengembangkan imajinasi dan kreativitas.
Hinduisme mengajarkan bahwa melukai orang lain berarti melukai diri sendiri. Hinduisme mengajarkan bahwa tidak boleh menginginkan milik orang lain.
Hinduisme mengajarkan untuk memperlakukan orang tua dengan hormat. Hinduisme memberi tugas yang berbeda pada tahapan kehidupan yang berbeda. Hinduisme memuji menyerahkan keegoisan demi orang lain.
Hinduisme menetapkan pernikahan sebagai sakramen untuk memurnikan tubuh dan pikiran. Hinduisme menyamakan kematian dengan mengganti kain lama.
Hinduisme menunjukkan bahwa siapa pun dapat mencapai kehebatan melalui usaha yang besar. Hinduisme menunjukkan bahwa setiap orang - pria, wanita, anak-anak, dan orang tua bisa menjadi orang suci dan bijak yang hebat.
Hinduisme menunjukkan bahwa pecinta Tuhan tidak termasuk ras atau kasta mana pun. Hinduisme mengajarkan tidak hanya toleransi tetapi penerimaan universal.
"Hinduisme melihat persatuan dalam keragaman. Sanatan Dharma (Hinduisme) adalah ibu dari semua agama" ujarnya.
Suasta banyak belajar dari India, bahkan sudah tujuh kali keliling negara tersebut dalam kurun waktu 30 tahun lebih. Bahkan tinggal di tempat-tempat suci bagi umat Hindu yakni Punjab, Varanasi disebut juga Benares, atau Benaras, atau Kashi atau Kasi, adalah kota suci agama Hindu di tepi Sungai Gangga yang terletak di negara bagian Uttar Pradesh di India bagian utara.
Varanasi, bagi umat Hindu, adalah seperti Mekkah bagi umat Muslim atau Vatikan bagi umat Katolik. Ketika berada di India, Putu Suasta bergaul dengan para orang suci atau sadhu.
Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University melakukan perjalanan spiritual ke India (Bharat) mengunjungi secara khusus tempat suci Jyotisar, Kurukshetra di negara bagian Haryana, India Utara.
Termasuk mengunjungi Akshardham yang merupakan kompleks kuil Hindu yang luasnya kira-kira 200 hektar di pinggiran metropolitan Delhi, India. Termasuk Sungai Gangga di Haridwar, Rishikesh dan Mathura.
Begitu juga Angkor Wat di Siem Reap Kamboja komplek Candi Hindu yang luasnya 100 km persegi yang di bangun 1000 tahun yang lalu, juga sempat mengunjungi Batu Caves Temple Hindu Malaysia beberapa waktu lalu.
Putu Suasta pernah belajar di UGM, Universitas New York, dan Universitas Cornell. Pernah menjadi asisten peneliti Prof. Hildred Geertz di Universitas Princeton di New Jersey, menjadi asisten Prof. Ben Anderson dan Prof John Wolf di Univesitas Cornell.
Saat ini, mengajar paruh waktu di Pasca Sarjana UNDIKNAS. Pernah jadi dosen tamu di Universitas Kebangsaan Malaysia, universitas Songkhla,Thailand universitas Thaksin. Thailand.
Pernah menjabat sebagai Ketua Litbang dan Ketua Bapilu DPP Partai Demokrat.
Menjadi penulis, sekaligus editor/kontributor beberapa buku antara lain: 1) Ideologi, Pembangunan dan Demokrasi (1986), 2) Made Wianta: His Art and Balinese Culture (1990), 3) Hutan Rakyat: Hutan untuk Masa Depan (Jakarta, 1997), 3) Staying Local in the Global Village: Bali in the Twentieth Century (University of Hawaii Press, Honolulu, 1999), 4) Bali Living in Two World (Schweben Basel,2001), 5) Kembara Budaya (BMF 2001), 6) Mendobrak Kebekuan : dari Pentas LSM ke Panggung Politik (Wijaya press, 2003) ; 7) Otonomi Daerah dan Kebijakan Publik (Jakarta, 2003), 8) Indonesia in the Soeharto Years: Issues, Incident and Image (Lontar, 2005); 9) Mengapa Harus SBY (Wijaya press, 2009); 10) Menegakkan Demokrasi, Mengawal Perubahan (LKT, 2014), 11) Indonesia Through Stamps (LKT, 2014), 12) Konvensi dan Perkembangan Demokrasi (LKT, 2014), 13) Laboratorium Pendidikan Politik (2015), 14.AHOK Adalah Kita (2016), 15.Twitter SBY (2017), 16) Gung Rai: Sang Mumpuni (2017), 17) Sanur: Merawat Tradisi di Tengah Modernitas (2017), 18) Demokrasi Milenial :Potret Demokrasi Indonesia di Era Digital (LKT 2020), 19) HAM dan Demokrasi (LKT 2020), 20) Lompatan Kultural (2021), 21) Canthelan : Kisah Kasih di Masa Pandemi (LKT 2023), 22) Suara Milenial:Jokowi Dicinta-Prabowo Dinanti (LKS 2024), 23) Ajaran dan Peribadatan Hindu (LKS 2024) serta 24) Relasi Sosial 420 halaman, segera terbit. (GAB/ART/001)