Banner Bawah

Saraswati, Lompatan Kecerdasan dan Generasi Emas 2045

Admin - atnews

2025-02-08
Bagikan :
Dokumentasi dari - Saraswati, Lompatan Kecerdasan dan Generasi Emas 2045
 Pengelana Global Putu Suasta (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta Alumnus UGM dan Cornell University mengatakan, umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Suci Saraswati.

Menurutnya, ilmu pengetahuan yang agung disimbolkan dalam wujud Dewi Saraswati. Perayaannya dilakukan setiap enam bulan sekali (dengan memakai perhitungan bulan Bali yang berumur 35 per bulan) dan jatuh setiap hari Sabtu (Saniscara). 

Masih dalam rangkaian hari Saraswati adalah Pagerwesi, jatuh pada hari Rabu. Semua umat di Bali, terutama pelajar, mahasiswa, guru/dosen dan kaum intelektual, merayakannya dengan khusuk dan kidmat. Semua buku dan bacaan lain pada hari itu didoakan (diupacarai dengan berbagai bunga yang disebut canang) dan dupa. Saraswati adalah perayaan untuk ilmu pengetahuan bagi orang Bali dengan memberi makna khusus pada pengupacaraan buku dan segala macam bacaan.

Kontribusi besar umat Hindu diharapkan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa menuju generasi emas Indonesia 2045.

Suasta juga semakin merasa spesial karena di tengah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menjadi undangan istimewa Perdana Menteri (PM) Narendra Modi untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia India.

Kunjungan kenegaraan itu merupakan yang pertama bagi Presiden Prabowo Subianto ke India sebagai Tamu Kehormatan pada perayaan Hari Republik India, dari tanggal 24 hingga 26 Januari 2025.

Hal itu juga menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan India. Kunjungan ini diadakan untuk memperkuat Kemitraan Komprehensif Strategis yang telah dibangun kedua negara sejak tahun 2018.

Indonesia dan India memiliki hubungan kerja sama yang sudah terbangun sejak Presiden Soekarno.

Sebelumnya juga Presiden Joko Widodo menjadi tamu kehormatan peringatan Hari Republik Ke-69 di New Delhi, India pada Tahun 2018, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Tahun 2011 dan Presiden Sukarno kala itu jadi tamu untuk peringatan Hari Republik Pertama pada Tahun 1950.

Sejarah panjang Indonesia (Nusantara) dengan India (Bharat) sudah terbangun lebih dari 5000 tahun.

Sementara, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, pada Sabtu, 25 Januari 2025. 

Apalagi Presiden Prabowo memiliki komitmen memperhatikan aset termahal banhsa Indonesia yakni SDM.

Dengan memperhatikan kesehatan dan gizi para siswa. Presiden Prabowo memiliki cita-cita memberikan makan bergizi gratis.

Dikatakan juga Saraswati (Sarasvatī) dalam bahasa Sanskerta adalah dewi pengetahuan, musik, seni, kebijaksanaan, dan pembelajaran Hindu . 

Saraswati adalah bagian dari trinitas (Tridevi ) Saraswati, Lakshmi dan Parvati. Ketiga wujud tersebut membantu trinitas Brahma, Visnu, dan Siwa untuk menciptakan, memelihara, dan menghidupkan kembali Alam Semesta . 

Kata paling awal yang diketahui untuk Saraswati sebagai dewi ada di Rgveda. Manifestasinya tetap menjadi simbul Dewi dari zaman Weda hingga zaman tradisi Hindu modern. Beberapa umat Hindu merayakan festival Vasant Panchami (hari kelima musim semi, kalender Magha (lunar), dan juga dikenal sebagai Saraswati Puja dan Saraswati Jayanti di banyak wilayah India) untuk menghormatinya,  dan menandai hari itu dengan membantu anak-anak belajar cara menulis huruf abjad pada hari itu. 

Bahkan Dewi Saraswati juga dihormati oleh penganut Jain dari India barat dan tengah  serta beberapa sekte Budha.

Dalam umat Hindu, pendidikan menjadi perhatian serius sejak kuno, karena memiliki peranan yang amat besar dalam memberikan pengetahuan kepada umat manusia baik untuk kehidupan di dunia material (bumi) dan alam rohani (spiritual).

Bahkan, pendidikan dianggap sakral sejak dahulu, sebuah kutipan Sanskerta kuno mengatakan "Swagruhe Pujyate Murkhaha; Swagraame Pujyate Prabhuhu Swadeshe Pujyate Raja; Vidvaansarvatra Pujyate" artinya (Orang bodoh disembah di rumahnya. Seorang pemimpin disembah di kotanya. Seorang raja disembah di kerajaannya. Orang yang berilmu disembah di mana-mana). 
 
Sedangkan dalam Ginada adalah jenis pupuh, tembang Bali yang tak lekang oleh waktu. Ia bukan saja indah di lagu, juga luhur dalam hal makna. Sebagai tembang pupuh, Ginada tak sendiri. Ada jenis yang lain seperti pupuh Sinom, pupuh Pucung, pupuh Ginanti dan bebrerapa yang lain. Semua punya cengkok irama yang tak sama, namun keluhuran maknanya setara. Pupuh menawarkan kekhasan irama, menawarkan kesyahduan dan kearifan makna yang terasa sangat lokal namun sesungguhnya—jika didalami secara literatif—ia bisa berlaku universal. 

Salah satu tembang Ginada yang sangat terkenal ialah bersangkutan dengan kerendahan hati dalam mencari tahu tentang ilmu pengetahuan, tentang mendalami arti diri dan kehidupan, tentang  menjauhi kesombongan. Tembang itu dibuka dengan: Ede ngaden awak bisa, dan diakhiri dengan: enu liu papelajahang.(jangan menganggap diri pintar, banyak yang perlu dipelajari di kehidupan ini) 

Generasi 60-an hingga 70-an di Bali sangat hapal dengan tembang Ginada tersebut. intinya, tembang tersebut menyuratkan kerendahan hati di depan keagungan ilmu pengetahuan dan karena itu jangan merasa sudah menguasai semuanya. 

Sementara rasa hormat orang Bali pada ilmu dengan memberi perhatian khusus pada buku tidaklah sendirian. Dunia juga memberi perhatian pada buku dengan menetapkah Hari Buku setiap 23 April. 

Di zaman Yunani, kesadaran pada teks sebagai medium pencatatan pemikiran-pemikiran para filsuf dan cendekia menjadi perhatian utama ketika itu. mereka meyakini pepatah Latin yang berbunyi verba volan scripta manent (yang diomongkan sirna, yang dicatat/ditulis abadi). Demikian pula India yang meletakkan segala filsafat dan agamanya di jalan sastra. Maka, secara historis, kedudukan ilmu menjadi sangat penting dalam perjalanan sejarah umat manusia. 

Hal menakjubkan ialah bahwa orang Bali, yang sehari-hari dikenal sebagai petani, mempunyai kearifan juga memberi rasa hormat kepada ilmu pengetahuan dalam bentuk perayaan hari Saraswati. Hari yang agung untuk ilmu pengetahuan ini, bagi orang Bali, bukan sekadar menyangkut cakepan (buku dan bentuk bacaan lain), tetapi juga melibatkan ke dalamnya ialah relevansi moralitas dalam ilmu. Bagi cendikian Bali, ilmu pengetahuan bukan dipahami sekadar bangku sekolah dan keterampilan, melainkan lebih dalam dari sekadar itu.

Bagi manusia Bali, dasar ilmu pengetahuan ialah moralitas. Belajar dan bekerja dengan kemampuan keterampilan yang dipunyai (bertani, melukis, menggambar, keahlian arsitektur dll.) adalah pertama-tama untuk rasa bakti, bahagia, bersahaja. Secara sosiologis, hal itu terciri dari kehidupan orang Bali masa lalu. Tak ada kesombongan sekalipun mereka menguasai beberapa keterampilan (melukis, undagi, menari, bermusik); tidak ada sikap yang berlebihan dalam pergaulanan antar mereka maupun kepada orang lain. Keahlian dan keterampilan yang mereka miliki bukanlah segalanya, mereka merasa masih jauh dari yang dipujikan kepada mereka. lirik awal dari pupuh Ginada: ede ngaden awak bisa, terlahir dari sikap manusia Bali ini. 

Inilah sesungguhnya bentuk kearifan yang paling indah dalam kedudukan manusia di depan ilmu pengetahuan. Dan leluhur orang Bali yang telah lama memahami hal ini. Mereka "mencatat" kearifan-kearifan itu dalam bentuk lagu, lontar dan literasi lisan, diwariskan dalam lagu tembang setiap malam atau upacara-upacara, menyimpan dalam lontar-lontar yang kelak dikaji para cendekia Bali, dituturkan dalam tradisi masatua (bercerita) oleh kakek/nenek sebelum anak-anak tidur. Dan pupuh Ginada menutup kearifan itu dengan lirik: enu liu papelajahanang (masih banyak yang harus dipejalari). Keutamaan ilmu bagi orang Bali adalah bhakti, sebagai bentuk sujud tertinggi kepada Dewi Saraswati yang  merupakan manifestasi Tuhan dalam "Dewi Ilmu Segala Ilmu”.

Tetaapi segala hal berubah. Tak ada yang menetap kecuali yang tercatat. Hari Saraswati juga selalu tercatat dalam ingatan dan sekarang dalam kalender Bangbang Gde Rawi. Tapi kita kini hanya sekadar merayakan hari Saraswati dan setelahnya kembali melangsungkan hidup dalam era gadget, smartphone, laptop dan segala modernitas fisik. Tak ada yang salah karena hal itu sudah ada dan terjadi hari ini. Hanya sayang bahwa ada hal-hal yang disebut di atas "menjebak" kita untuk menjauhi daya kontemplasi, yang vital dalam mengejar ilmu pengetahuan dan mengabaikan ketahanan intelektual.

Ironis bahwa kecepatan  kemajuan teknologi informasi justru menjauhkan kita dari sikap gairah belajar, mematikan kuriositas akan pengetahuan, merenggangkan tata adab pergaulanan dan sikap mawas diri. 

Teknologi informasi yang menawarkan produk-produk seperti WhatsApp, facebook, twitter dan banyak lagi, merampas hampir seluruh waktu senggang dan kerja kita, melupakan dunia nyata dan mengutamakan dunia maya. Ini sesungguhnya kelengahan yang sangat fatal dan jika hal itu terus terjadi, maka generasi hari ini akan sulit diharapkan untuk dapat menjadi generasi harapan di masa mendatang. 

Sejumlah studi dari berbagai belahan negeri telah banyak menunjukkan hasil penelitiannya betapa  dunia maya itu menyihir dan cenderung membodohkan. 

Mereka tak bisa lagi membagi waktu yang seimbang untuk kesenangan di dunia maya dari dunia nyata. Ilusi dunia maya demikian memabokkan dan merampas begitu banyak waktu belajar generasi muda khususnya. 

Dan jangan pula ditanya pengaruh-pengaruh "keberuntungan" ekonomi seperti Bali yang dimanjakan oleh kemakmuran turisme Bali. Maka sesungguhnya generasi muda Bali hari ini khususnya benar-benar sedang dihadapkan pada tantangan yang mengancam kualitas intelektual mereka nantinya, mengancam pula kutamaan adab yang telah tertanam dalam kearifan leluhur. 

Maka, gerakan spiritual Hari Saraswati bukan saja perlambang turunnya ilmu penghetahuan ke dunia,  melainkan juga semacam "teguran dari seorang Dewi Pengetahuan" tentang seberapa agung kita memperlakukan ilmu pengetahuan dalam hidup kita. Sudahkah ilmu kita pelajari dengan benar? Sudahkah pengetahuan memperbaiki cara kita berpikir? Sudahkah ilmu pengetahuan menuntun akal budi dan pekerti kita menjadi lebih baik ? 

Berbahagialah mereka yang merayakan Hari Saraswati dengan kesadaran baru untuk Maju, menjawab tantangan perubahan global. Secara tradisional dilakukan persembahyangan kidmat, namun juga tiada henti belajar dan menggali ilmu pengetahuan di  luar dan di dalam dirinya. Ketika mereka berhasil melakukan hal itu, maka mereka pantas merayakan Pagerwesi, rangkaian dari Hari Saraswati yang secara filosofis dan spiritual berarti: ketahanan yang kuat dalam intelektual dan ketahanan yang indah dalam aspek kerohanian/spiritual. 

Disamping itu, pendidikan sungguh-sungguh diperhatian sejak era Rāmāyaṇa dan Mahābhārata yang merupakan epos utama peradaban India kuno yang masuk dalam Itihasa. 

Nilai dan pengaruh dari kedua epos itu memang cukup besar karena kedua epos ini memberi  gambaran yang sangat jelas tentang peradaban India kuno yang sangat berkembang hingga saat ini. 

"Dalam Rāmāyaṇa dan Mahābhārata kita menemukan informasi yang sangat berguna mengenai cita-cita dan institusi pendidikan, hal ini penting bisa didiketahui dalam menambah wawasan dalam memajukan pendidikan," kata Putu Suasta di Jakarta, Sabtu (8/2).

Dalam Rāmāyaṇa dan Mahābhārata, sudah ada memiliki sistem penerimaan dan masa kemahasiswaan.

Pada masa usia tersebut pengenalan pertama siswa terhadap pendidikan dimulai melalui upacara Vidyārambha . Upacara ini dikenal sebagai upacara Upākrama pada zaman Rāmāyaṇa dan Mahābhārata. 

Setelah pertunjukan upacara itu, murid tersebut memulai studi Veda mereka. Dalam Mahābhārata Pāṇḍava memulai studi Veda mereka setelah melakukan upacara Upākarma atau Vidyārambha. 

Namun sebenarnya pendidikan para murid baru dimulai setelah dilaksanakannya upacara Upanayana. Dalam Rāmāyaṇa, Rāma dan saudara tirinya memulai pendidikan mereka setelah upacara Upanayana. 

Dijelaskan Śhānti Parva dari Mahābhārata disebutkan bahwa setelah pelaksanaan upacara Upanayana para putra Brāhmaṇa memulai pendidikan Veda mereka. Dṛtarāstra, Pāṇḍu, Vidura juga memulai pendidikannya setelah pelaksanaan upacara Upanayana.

Pada usia tersebut, masa kemahasiswaan juga tersebar selama dua belas tahun. Mahābhārata menyebutkan bahwa sampai usia dua puluh lima tahun Brahmacāri dapat melanjutkan studinya. 

Sedangkan para Naiṣṭhika Brahmacāri mengabdikan seluruh hidup mereka untuk mengejar pengetahuan. Untuk mengejar ilmu, siswa ideal bernama Utaṅka yang menyebarkan sebagian besar hidupnya di rumah pembimbingnya.

Pada masa sebelumnya disebutkan bahwa setelah upacara Upanayana, murid tersebut biasanya tinggal di bawah naungan pembimbingnya. Itu adalah syarat pertama mereka menjadi pelajar. 

Beberapa siswa tinggal bersama pembimbingnya dan beberapa siswa di bawah bimbingan guru yang ditunjuk setelah upacara Upanayana.

Dalam Ādi Parva Mahābhārata, pihaknya  mendapatkan kisah tentang pendidikan Korawa dan Pāṇḍava. 

Mahātmā Bhīṣma membawa sarjana Veda Droṇācārya ke tempatnya dan memintanya untuk mendidik cucu-cucunya dalam perilaku dan peperangan yang benar. 

Jadi pada zaman itu tidak diwajibkan bahwa setiap orang harus tinggal di rumah pembimbingnya. Namun sebagian besar siswa bersekolah di bawah bimbingan Guru yang tinggal bersama mereka di tempat tinggal mereka. Ini adalah praktik umum. 

Tetapi Shri Rāma setelah Upanayana tinggal bersama pembimbingnya dan menyelesaikan pendidikannya. 

Bhīṣma, Guru Droṇācarya Raja Draupad juga tinggal di rumah pembimbingnya untuk pelatihan yang tepat.

Mengenai tugas siswa, pada masa Rāmāyaṇa dan Mahābhārata juga disebutkan bahwa, seorang siswa yang ideal selalu mengabdi pada gurunya. 

Dia mematuhi semua peraturan dan perilaku gurunya. Dia selalu bangun pagi-pagi dan tidur setelah pembimbingnya. Setiap pagi dan sore dia harus melakukan pemujaan Sandhyā. 

Dengan tubuh yang bersih ia memulai kursus hariannya. Beliau biasa meminta sedekah kepada pembimbingnya dan menjaga rumah serta ternaknya.

Dia juga mengendalikan indranya dan menghindari mado, moha, dan capalatā. Ia biasa menghindari madu, parfum, karangan bunga. Selain itu, mereka juga menghindari kebersamaan dengan wanita. 

Melalui prāyaścita yang tepat dia memurnikan jiwanya. Inilah beberapa tugas penting dan batasan kesiswaan di zaman Rāmāyaṇa dan Mahābhārata. Tanpa tugas dan batasan ini, tidak seorang pun dapat menerima pelatihan atau pendidikan yang layak.

Rāmāyaṇa dan Mahābhārata memberikan silabus rinci dari berbagai mata pelajaran. Pada zaman Veda, Ānvīṣikī, Vārttā, Dandaṇīti, merupakan subjek studi utama.

Selain itu banyak mata pelajaran lain seperti Yuktiśāstra, Śabdaśāstra, Gandarvaśāstra, Purāṇa, Itihāsa, Ākhyāna , dan Kalāvidyā dimasukkan dalam kurikulum.

Pada masa spesialisasi usia, mata pelajaran apa pun adalah wajib karena semua kelompok kasta memiliki kurikulum khusus yang sesuai dengan pekerjaan mereka. 

Para Brāhmaṇa adalah pendetanya. Mereka mempelajari semua mata pelajaran. Namun mereka dilatih secara khusus dalam Veda. Para Kṣatriya adalah penguasanya. Mereka wajib mempelajari pendidikan militer, seni memanah, Dhanurveda ”. 

Rāmāyaṇa berisi referensi tentang pelatihan militer putra Raja Daśarata selama masa kanak-kanak mereka. Seperti halnya dalam Mahābhārata kita juga menemukan pelatihan militer Korawa dan Pāṇḍava.

Guru Droṇācārya memberikan pendidikan kepada Korawa dan Pāṇḍava dalam waktu yang sangat singkat. Para Vaiśya mempelajari semua Vārttāśāstras. 

Dalam Rāmāyaṇa, pihaknya menemukan bahwa Rāma dan saudara-saudaranya sangat ahli dalam semua Śāstra. Khususnya Rāma fasih dalam Veda, Vedāṅgas, Dhanurveda, Nītiśāstra, Vartta, Itihāsa, Purāṇa, Seni militer, Puisi, Filsafat, Arthavivāga, menunggang kuda dan gajah. Ia juga seorang kusir yang ahli. Ia ahli dalam penggunaan segala jenis rudal dan senjata yang dikenal sebagai Valā dan Ativalā. Dia juga sangat mahir dalam Musik.

Dalam Mahābhārata menemukan bahwa Pāṇḍava mempelajari semua Veda , berbagai Śāstra, Nīiti, Itihāsa, Purāṇa , Panahan, dan berbagai jenis seni militer. Ācārya Droṇa mengajari mereka Dhanurveda di semua cabangnya. 

Arjuna mengajarkan Abimanyu dan pangeran lainnya pada jalur yang sama. Jadi jelas bahwa Epic memperkenalkan kurikulum studi yang beraneka ragam. Namun penekanan utama diberikan pada studi ilmu militer.

Selama ini metode belajar bervariasi dari satu kelas ke kelas lainnya. Namun pembacaan dan rekapitulasi sangat populer pada periode ini.

Setiap hari siswa diharuskan menghabiskan sebagian waktunya di sekolah untuk bersama-sama melafalkan sebagian pekerjaan yang telah mereka ingat. 

Sebagai hasil dari pelatihan ini, daya ingat rata-rata siswa sangat berkembang. Pada zaman Tapasyā, Svādhyāya , Debat dan diskusi masih populer. 

Selain mendongeng dan mendengarkan, orang terpelajar juga sangat populer pada zamannya. Dalam Mahābhārata, Ugraśravā yang terpelajar pergi ke Naimisāranya, pertapaan Śaunaka, di mana ia menyampaikan ceramah di depan murid-murid Śaunaka tentang Brahmatattva. 

Ujian praktik adalah metode lain yang sangat populer pada masa itu. Pihaknya menemukan dalam Mahābhārata bahwa Droṇācarya sering mengikuti ujian praktik, untuk menguji kualitas pendidikan siswa.

Begitu juga Sri Krishna, Balaram dan Sudama mendapat pendidikan rutin di Ashram Guru Sandipani. Ujjain dimasa lalu dan kuno, terlepas dari kepentingan politik dan agamanya, merupakan pusat pembelajaran bergengsi pada awal periode Mahabharata. 
           
Pada masa itu, Guru juga memiliki kualifikasi moral dan spiritual tertinggi pada zamannya. Para guru umumnya disebut Ācārya dan Guru.  Menemukan tiga jenis Ācārya pada masa ini, yaitu Chandovit Ācārya, Vedavit Ācārya, dan Vedyavit Ācārya. Vedavit Ācārya adalah yang utama di antara dua jenis Ācārya.

Berbagai deskripsi ditemukan dalam Rāmāyaṇa dan Mahābhārata dari Guru terkenal seperti Vasiṣṭha, Viśvāmitra, Sandīpani, Droṇa, Parasurama dan Kaṇva. 

Dalam Mahābhārata menemukan beberapa kisah seperti – kisah Ekalavya , kisah Upamanyu, kisah Āruṇi dan Veda. Dari cerita-cerita ini kami menyimpulkan bahwa guru mendapat penghormatan yang tinggi pada zamannya.

Mengenai tugas guru dalam Epos juga disebutkan bahwa guru adalah penjaga kehidupan siswa. Dia mempunyai tanggung jawab moral yang sangat besar. Dia membangun kehidupan muridnya. 

Mahābhārata menyebutkan bahwa orang tua hanya menciptakan tubuh anaknya saja . Namun pembimbingnya melahirkan muridnya yang baru.

Institusi pendidikan pada masa Rāmāyaṇa dan Mahābhārata sebagian besar bersifat korespondensi dengan masa sebelumnya. 

Namun pada zaman pertapaan pendidikan sangat populer. Di padepokan para santri biasanya mempunyai suasana belajar yang sangat menyenangkan.

Rāmāyaṇa dan Mahābhārata menceritakan kepada banyak pertapaan tempat murid-murid dari pelosok negeri berkumpul untuk mendapatkan instruksi.

Sebuah pertapaan yang lengkap mempunyai beberapa departemen, yang disebutkan sebagai berikut: 1) Agnisthāna (Tempat pemujaan), Brhama sthāna (Tempat mempelajari Veda), Viṣṇu sthāna (Tempat untuk mengajar Rājnītividya), Mehandra sthāna (Bagian militer), Vivasvata sthāna (Bagian Astronomi), Soma sthāna (Bagian Botani), Garuḍa sthāna (Bagian yang berhubungan dengan Transportasi dan alat angkut), Kārtikeya sthāna (Organisasi militer).

Beberapa pertapaan terkenal pada masa Rāmāyaṇa dan Mahābhārata adalah 1) Pertapaan Vālmikī : Pertapaan Vālmīki yang terkenal terletak di bukit Citrakūta di tepi sungai Tamasā. Banyak siswa yang tinggal di pertapaan ini untuk menjadi mahir dalam ilmu Śāstrik. Putra kembar Rāma, Kuśa dan Lava diajari Veda, Vedāṅga dan seni musik di pertapaan ini. Keindahan pertapaan ini begitu mengagumkan sehingga banyak tamu terhormat yang ingin datang lagi dan lagi ke pertapaan ini. Itu adalah pertapaan paling terkenal selama periode Rāmāyaṇa dan Mahābhārata.

2) Pertapaan Bharadvāja : Pertapaan Bharadvāja terletak di dekat pertemuan sungai Gangga dan Yamuna. Ṛsi Bharadvāja adalah ahli dalam aśtravidyās. Itu sebabnya, pertapaannya pada dasarnya populer untuk pendidikan militer. Raja Drupada dan Droṇācārya, putra Ṛsi Bharadvāja mendapat pendidikan di pertapaan ini.

3) Pertapaan Agastya : Pertapaan Agastya terletak di Daṇḍakāraṇya. Beberapa siswa pernah tinggal di sini untuk mempelajari berbagai Śāstra . Mahābhārata menyebutkan bahwa raja Yudhiṣṭhira mengunjungi pertapaan ini. Di pertapaan ini para siswa melakukan berbagai jenis Yajña dan terus mempelajari Veda, Vedāṅga dan berbagai mata pelajaran lainnya.

4) Pertapaan Mahaṛṣi Kanva : Pertapaan Mahaṛṣi Kaṇva terletak di tepi sungai Mālinī. Ada banyak pertapaan kecil yang terletak di tepi sungai Mālinī tetapi pertapaan Maharṣi Kaṇva adalah salah satu yang terbaik di antara pertapaan tersebut. Seluruh lingkungan hutan di sekitar Mālinī dulunya berbau harum dengan nyala api altar pengorbanan dan bergema dengan nyanyian mantra Veda. Di pertapaan ini hiduplah ulama-ulama terkemuka Veda, Fikih, Filsafat, Smṛti dan sebagainya.

5) Pertapaan Śaunak : Pertapaan Śaunak terletak di hutan Naimiṣa. Ribuan murid tinggal bersama Saunak. Kepribadian Ketua Śaunak disebut Kulapati. Itu adalah sebutannya karena ribuan muridnya biasa belajar di bawah naungan Resi Śaunak . Berbagai macam mata pelajaran dipelajari di pertapaan ini. Pertapaan ini juga merupakan tempat suci ziarah .

Selain pertapaan ini, banyak pertapaan lain seperti pertapaan Vyāsa, Vaiśiṣṭha, Viśvāmitra, Paraśurāma , Dhaumya dan Kāśyapa juga dijunjung tinggi selama ini.

Pada masa itu pula, pendidikan perempuan masih luas namun pihaknya menemukan pandangan berbeda mengenai pendidikan perempuan. 

Beberapa pihak berwenang menyatakan bahwa perempuan tidak mendapatkan kesempatan yang memadai pada masa-masa tersebut. Namun ketika membahas status perempuan secara keseluruhan maka menemukan beberapa perubahan . 

Namun berkenaan dengan status pendidikan perempuan dalam Rāmāyaṇa dan Mahābhārata, menemukan nama beberapa ulama terpelajar. Hal ini menunjukkan bahwa pada usia tersebut perempuan juga mendapat pendidikan. 

Para orang tua sangat berkeinginan untuk mendidik anak perempuannya agar mereka dapat menjadi ulama yang terpelajar . Sitā, istri Rāma adalah seorang sarjana terpelajar. Setelah menikah dia terus mendapatkan pelajaran tentang Śruti dari para Brāhmaṇa terkenal . Selama masa pengasingannya dia bisa bangga menjadi Paṇḍitā. Seperti banyak wanita lain yang berkualifikasi tinggi pada usia tersebut. 

Mereka adalah Kauśalyā, Tārā, Śakuntala, Dropadi, Kuṇṭī, Gāndārī, Sāvitrī , Śhivā, Vidulā, Sulavā, Gautami, Arundati, Śāndili, Damayantī, Śikandī, Gañgā, Satyavati, Gāndhārī, Mādhavi, Subadrā, Citrāṅgadā, Śabarī dan seterusnya. Beberapa wanita seperti Yogiṇī Sula, Sidhi Shiva, Tapasviṇī, Śāndilyaduhitā menjalankan selibat permanen. Mereka adalah Naiṣṭhika Brahmacārini sepanjang hidup mereka.

Pada usia tersebut orang tua umumnya menunjuk guru privat untuk anak perempuannya. Dalam Mahābhārata  menemukan bahwa Dropadi bersama saudara laki-lakinya menerima pendidikan dari guru privat. Dalam Virāṭa parva dari Mahābhārata, menemukan bahwa sebagai guru privat Vṛhannalā Arjuna mengajar menari dan menyanyi kepada Uttarā.

Kemahasiswaan diakhiri dengan penampilan upacara Samāvartana. Tidak ada inovasi dan perubahan tambahan. Semua siswa, mempersembahkan gurudakṣinā yang tepat, melakukan upacara Samāvartana dan setelah itu memulai kehidupan keluarga mereka . 

Namun dalam Mahābhārata juga menemukan hal yang menarik bahwa kadang-kadang para guru merasa puas dengan pengabdian (murni) yang murni dari para siswanya, mereka menawarkan putri mereka sendiri untuk dinikahkan dengan para siswa setelah upacara Samāvartana dan dengan demikian menjadikan guru-murid tersebut sebagai guru. hubungan menjadi lebih dekat. Misalnya, orang bijak Uddālaka dan orang bijak Gautama menawarkan putri mereka masing-masing kepada Kahoda dan Uttanka untuk dinikahkan.

Untuk menyimpulkan sistem pendidikan pada zaman Rāmāyaṇa dan Mahābhārata,  menemukan bahwa pada zaman Brāhmaṇa, Kṣatriya dan Vaiśya menerima pendidikan yang sebenarnya. 

Pendidikan militer mendapat penekanan khusus. Metode pembelajarannya juga bervariasi dari satu murid ke murid lainnya. Para siswa menyelesaikan pendidikannya pada usia dua puluh lima tahun. Status guru juga tinggi. 

Dijelaskan pula, tiga jenis guru selama zaman ini. Pendidikan Hermitage sangat populer pada masa itu. Beberapa pertapaan sangat populer di mana ribuan siswa berkumpul di sana untuk mempelajari Veda dan Śāstra lainnya. 

Hal itu pula dibuktikan peradaban Bharatavarsa (India) telah memiliki universitas tertua dan terbaik di dunia bernama Universitas Taxila (Takṣaśilā Viśvavidyālaya).

Takṣaśilā sebagai, universitas internasional pertama di dunia kuno (sekitar 400-500 SM hingga 550 M), dinamai berdasarkan “Kota Batu Potong Taksha” di India Utara kuno. 

Institusi pendidikan tinggi kuno tersebut di Taxila, Gandhara Punjab Pakistan saat ini , dekat tepi Sungai Indus .

Takṣaśilā warisan zaman Ramayana berasal dari Raja Taksha, keponakan Shri Rama dan putra Bharata. 

Raja Taksha memerintah wilayah Taksha Khanda yang terbentang dari pinggiran Utara India hingga Uzbekistan modern. 

Faktanya, Tashkent, ibu kota Uzbekistan saat ini, juga mendapatkan namanya dari sumber yang sama.

Kota ini dinamai untuk menghormati Takas dan berarti "Batu Takas" dan terkenal karena kekayaannya. 

Dalam Ramayana, (Edisi Vangavasi-Uttarakandam-Bab XIV) Bharata, saudara laki-laki Sri Rama, dikatakan telah membangun dua kota, Takkhasila dan Puskalavata, dan mengangkat putranya, Takkha dan Puskala, menjadi penguasa masing-masing. 

Kota-kota tersebut digambarkan sangat makmur karena warganya saleh dan sejahtera. 

Ada referensi lain dalam Uttarakanda Ramayana yang sama bahwa Takkhasila adalah pusat pembelajaran dan bahwa orang-orang dari berbagai belahan negara menggunakan Institusi Pendidikan di sana untuk mengkhususkan diri pada Hukum (Vyavahara). Vayupurana Bab 88 mengacu pada Takkhasila, ibu kota Takka, sebuah kota yang indah.

"Brihatsamhita" menyebutkan Takkhasila sebagai kota yang paling terkenal, sehingga menyiratkan bahwa kota tersebut tidak diragukan lagi merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan kuno. 

"Aradanakalpalata" karya Ksemendra menyebutkan bahwa putra Asoka, Kunala, diutus oleh Asoka untuk menaklukkan Takkhasila yang diperintah oleh Kunjarakarna.

Dalam Mahabharata, Parikesit (Cucu Arjuna), pewaris kerajaan Kuru adalah penguasa Takṣaśilā. 

Menurut Mahabharat, Janmanjeya melakukan "Sarpa-Satra" (Pengorbanan Ular), di Takṣaśilā. Kemudian tempat itu, diyakini pembacaan Mahabharata pertama kali dibacakan di Takṣaśilā oleh Vaisampayana kepada Janmanjeya. Vaisampayana merupakan seorang murid Vyasadeva atas perintah Vyasa sendiri. 

Secara tradisional pun diyakini bahwa cerita ini pertama kali dibacakan oleh Vaishampayana atas perintah Vyasa selama pengorbanan ular yang dilakukan oleh Janamejaya di Takshashila. 

Penontonnya juga termasuk Ugrashravas, seorang penyair keliling, yang kemudian membacakan cerita tersebut kepada sekelompok pendeta di sebuah ashram di Hutan Naimisha dari mana cerita tersebut disebarluaskan lebih lanjut.

Pewaris Kerajaan Kuru, Parikesit (cucu Arjuna) konon bertahta di Takshashila.

Dhammapadadattahakatha menceritakan tentang seorang siswa yang pergi ke Taxila, jauh dari Benares, untuk mempelajari "Silpa" di tengah-tengah lima ratus teman sekelasnya. 

Di beberapa tempat, dalam Pali Jataka, terdapat referensi tentang guru-guru terkenal yang tinggal di Taxila dan berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sana.

Para penulis asing dari Yunani, Roma dan China telah meninggalkan catatan berharga tentang Taxila kepada Lind. 

Sedangkan Arrian menyebutnya sebagai kota yang besar dan berkembang pada zaman Alexander. 

Takshashila, atau lebih dikenal dengan Taxila, adalah lembaga pendidikan terbaik pada masanya. Itu berlanjut selama ratusan tahun di tanah umat Hindu.

Kampus itu didirikan sebagai pusat pendidikan dan pembelajaran Veda, agama dan sekuler. Sedangkan abad-abad awal Masehi, kota itu juga menjadi pusat keilmuan Buddhis yang terkemuka. 

Takshashila 2700 tahun yang lalu telah menawarkan kursus di lebih dari 64 bidang studi yang berbeda mulai dari bedah dan perdagangan hingga musik dan tari, dan dari filsafat dan Ayurveda hingga tata bahasa, politik, panahan, dan peperangan. 

Terlebih lagi, kursus diajarkan untuk menemukan harta karun dan mendekripsi pesan juga.

Apalagi proses penerimaannya juga cukup ketat dan murni berdasarkan prestasi. Dan, kompetisi ini akan diikuti oleh siswa yang memenuhi syarat di seluruh benua. Termasuk mereka juga harus menyelesaikan sekolah dasar dan berusia 16 tahun, sebelum mendaftar kursus di sini. Hal itu mirip seperti model pendidikan moderen sebelum masuk universitas.

Saat ini menurut Statist
a, peringkat pertama memiliki kampus terbanyak oleh India dengan total 5.349 universitas. Berikutnya Indonesia yang duduk di peringkat kedua dengan jumlah 3.277 universitas.

Lebih lanjut, Amerika Serikat menduduki posisi di bawah Indonesia dengan 3.180 buah universitas. Posisi keempat dipegang oleh China dengan total 2.495 universitas, disusul Brasil dengan 1.264 universitas, Meksiko dengan 1.139 universitas, dan Rusia dengan 1.010 universitas.

"Semoga simbol Saraswati terus menerus memberi inspirasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pencaharian pengetahuan baru untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia," pungkasnya. (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : SMA 2 Denpasar Dulu dan Kini

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng