Sudirta Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan RI, Rakyat Sejahtera, Kearifan Lokal Bali Terjaga
Banner Bawah

Sudirta Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan RI, Rakyat Sejahtera, Kearifan Lokal Bali Terjaga

Admin - atnews

2025-03-01
Bagikan :
Dokumentasi dari - Sudirta Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan RI, Rakyat Sejahtera, Kearifan Lokal Bali Terjaga
Anggota DPR RI I Wayan Sudirta (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Kearifan lokal Bali kini memerlukan atensi serius untuk menjaganya, termasuk khususnya di bidang seni budaya. Namun, beragam seni budaya, termasuk di bidang ritual keagamaan, yang semakin terpublikasi melalui media sosial digital, menunjukkan perkembangan yang menarik. Seperti tradisi ritual ngaben atau kremasi, yang di masa lalu berkonotasi sebagai berbeaya mahal, boros tenaga, waktu dan melelahkan, dalam beberapa dekade belakangan, mengalami kemajuan, rasionalisasi, tanpa menghilangkan esensi dan substansi dari pengabenan. 

Sebab kalau tidak dilakukan penyesuaian dengan perkembangan jaman, orang Bali akan tersingkirkan dari persaingan ekonomi dan lapangan kerja kepariwisataan, karena adanya kompleksitas sistem ekonomi kapitalis yang mengejar efisiensi, termasuk dalam rekrutmen tenaga kerja. Diperlukan penyesuaian tanpa menghapus esensi ritual, dan juga regulasi-regulasi pemerintahan yang melindungi kearifan lokal dan masyarakat pendukung kearifan lokal tersebut. Dengan demikian, madu manis pariwisata Bali, jangan sampai tak memberi kesempatan bermatapencaharian bagi warga lokal.
 
Anggota DPR-MPR RI Dapil Bali, Dr. I Wayan Sudirta, SH, MH, menegaskan hal itu dalam sosialisasi 4 Konsensus Dasar Kebangsaan RI, yang diadakan di Denpasar, 27 Pebruari 2025, di hadapan peserta yang terdiri tokoh agama, tokoh adat, mahasiswa, aktivis ormas dan kalangan media. Selain melakukan sosialisasi secara formal, Sudirta juga turun langsung menyampaikan ide-ide kebangsaan ini, saat bertemu masyarakat maupun tokoh agama. Di masyarakat Sudirta menemukan realitas kongkret, dan mencatatnya untuk diperjuangkan di forum resmi DPR dan forum lainnya.

Seperti ketika melayat ke rumah duka warga di Desa Penebel Kabupaten Tabanan, atas wafatnya Jro Dasaran Nengah Mager, ayahanda dari Sekretaris PHDI Provinsi Bali, Putu Wirata Dwikora, SH, MH, Sudirta yang melayat bersamaan dengan Dharma Upapati PHDI Bali, Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, Sudirta berbicang serius dan mendengarkan berbagai masukan dari Ida Dharma Upapati dari PHDI Provinsi Bali tersebut. 

Wakil rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Bali itu, memang konsen dan getol mendorong reformasi PHDI dalam Mahasabha VIII tahun 2001, agar majelis Hindu tersebut memberikan atensi pada Pendidikan umat di bidang keagamaan dan menjadikan PHDI sebagai majelis keagamaan yang independen.

Selain Dharma Upapati PHDI Bali dan Wayan Sudirta, dalam rangkaian Pitra Yadnya almarhum itu juga hadir Prof. Dr. IGN Sudiana, MSi (Rektor Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa), I Nyoman Kenak, SH (Ketua PHDI Bali), Ketua Peradi Denpasar I Nyoman Budi Adnyana, SH, Ketua Paiketan Krama Bali Dr. I Wayan Jondra, Ketua Yayasan Sradha I Nyoman Mertha, Ketua LBH Paiketan I Wayan Gede Mardika, SH, MH, Pengusaha Jimbaran Hijau Putu Agung Prianta, Advokat I Nyoman Sunarta, SH, Anggota DPRD Bali Fraksi Gerindra I Gede Harja Astawa, SH, pengusaha muda Gede Mangun dan Putu Lenny, serta banyak aktivis LSM, tokoh agama dan masyarakat maupun kalangan wartawan, seperti Kadek Arminingsih (KORdEM Bangli), KORdEM Buleleng (Rusta Pandit, Sumertana, Wayan Purnamek dkk).

Tradisi pembakaran jenazah yang ritualnya dikenal sebagai kremasi ngaben, memang termasuk salah satu yang menarik wisatawan berkunjung ke Bali. Tradisi-tradisi ritual yang kaya akan ekspresi dan kreasi seni budaya yang penuh estetika, bersumber dari filosofi yang luar biasa, cipteaan para leluhur dan mewariskannya ke generasi sekarang, sebagai kearifan lokal yang diakui dalam kontitusi negara, yakni sebagai bagian dari bhinneka tunggal ika dalam 4 konsensus dasar kebangsaan RI.

Selain di rumah duka Jro Dasaran Nengah Mager di Penebel-Tabanan, Sudirta bersama pentolan aktivis yang selama Orde Baru berjuang dalam jaringan Ormas Pemuda Hindu, juga secara intens menghadiri rangkaian Pitra Yadnya almarhum I Made Sariyana, tokoh di Desa Tonja, Kota Denpasar, yang dikremasikan di Krematorium Setra Badung, pada 13 Pebruari 2025. 

Made Sariyana sendiri merupakan ‘’tokoh sunyi’’ bagi ormas Pemuda Hindu, karena di tahun 1990-an, almarhum Made Sariyana mempersilakan rumahnya di Jl. Nangka Denpasar, menjadi secretariat Pemuda Hindu, LBH Satya Yustisia, Ormas KORdEM Bali, LSM Bali Corruption Watch, Tim Advokasi Penolakan Pura Besakih dijadikan Cagar Budaya, Tim Pembela Pengungsi Timtim Eks Transmigran Bali, Tim Pembela Warga Pura Dasar Kerandan-Karangasem, dan berbagai tim advokasi lainnya.

Almarhum Sariyana yang di tahun 1965 menjadi Perbekel Tonja, dikenang sebagai tokoh yang berani dan menyelamatkan orang-orang yang dicap PKI dan hampir dieksekusi, selamat dari pembantaian tahun 1965 yang menjadi noda mengerikan itu. Tidak mengherankan, kalau di masa otoritarianisme Orde Baru era Soeharto, Made Sariyana berani memberikan rumahnya sebagai sektertariat perjuangan sejumlah tim advokasi, LSM dan juga ormas Pemuda Hindu yang didirikan oleh Wayan Sudirta, yang juga menjadi ketua umum-nya yang pertama.

Sosialisasi nilai-nilai 4 pilar kebangsaan ini, bisa lebih efektif dengan kombinasi paparan formal di kelas, dicampur dengan turun langsung ke masyarakat, mengapresiasi warga yang menjaga kearifan lokal sebagai salah satu elemen dasar consensus kebangsaan, dalam bingkai bhinneka tunggal ika, kata Putu Wirata Dwikora.

Bagi bangsa Indonesia, diantara tokoh penting pendiri bangsa, tentu Bung Karno, Bung Hatta, dan puluhan pahlawan bangsa. Namun, tokoh-tokoh seperti Pak Sariyana almarhum, serta pencipta dan pelestari kearifan lokal, memberi kontribusi penting untuk utuhnya Negara Republik Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila sebagai dasar negara dan UUD NRI 1945 sebagai konstitusi.

‘’Kami mencatat dengan baik kontribusi Pak Sariyana, karena kalau beliau tidak memberikan tempat mangkal para aktivis, kami-kami ini tidak bisa bertemu dan berperan seperti sekarang ini, walau betapa kecil pun kontribusi kami untuk bangsa,’’ kata Prof. Dr. IGN Sudiana, Nyoman Budi Adnyana, SH, Gede Harja Astawa, SH, Nyoman Sunarta, SH.

Sudiana pernah tiga periode menjadi Ketua PHDI Bali dan sekarang Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Budi Adnyana menjadi Ketua PERADI Denpasar, Putu Wirata Dwikora pernah menjadi Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat dan sekarang Sekretaris PHDI Bali, I Ketut Bagiada,SH yang menjadi pengacara LBH Satya Yustisia pernah duduk di DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dan juga kini Wayan Sudirta, SH menjadi Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.

Sementara Gede Putu Suta Legawa, SH, putra almarhum Made Sariyana, menjadi Ketua Umum kedua dari DPP Pemuda Hindu Indonesia.Ada pula aktivis Pemuda Hindu dan LBH Satya Yustisia yakni mendiang Putu Alit Bagiasna dan mendiang Wayan Nurja, ketika Orde Baru jatuh, sempat menjadi Anggota DPRD Bali Fraksi PDI Perjuangan. Semuanya adalah teman-teman seperjuangan yang sangat merasakan keterlibatan almarhum Made Sariyana dalam protes-protes melawan kediktatoran kekuasaan semasa Orde Baru,’’ imbuh Gede Harja Astawa, SH dan Nyoman Budi Adnyana, SH.

‘’Kini, setelah sebagian teman seperjuangan sudah duduk di legislatif, begitu juga di lembaga-lembaga lain seperti ada yang di KPU, Bawaslu, KPID, dan lainnya, pastilah mencatat dengan baik peran penting almarhum Pak Sariyana dalam perjuangan jaringan aktivis di lingkungan Pemuda Hindu dkk,’’ tambah Putu Wirata. (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : PLN Bali Ngaku Rugi Rp2 Miliar

Terpopuler

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

ARUN Soroti Wacana Devisa Pariwisata Bali Rp176 Triliun, Gung De Pertanyakan Besaran PAD

ARUN Soroti Wacana Devisa Pariwisata Bali Rp176 Triliun, Gung De Pertanyakan Besaran PAD