Denpasar (Atnews) - Intelektual Hindu Jro Gde Sudibya salah seorang Pendiri dan Sekretaris Kuturan Dharma Budaya angkat bicara soal Ogoh-Ogoh.
Semestinya PHDI Bali memberikan rujukan dalam proses pembuatan, prosesi Ogoh-Ogoh dan proses "mepralina"-nya, terhadap simbol Ogoh-Ogoh yang merupakan bagian ritual Tenget Sakral dari upakara pengerupakan.
Menyangkut: pasupati, proses menuju ke Prapatan Agung Desa dan kemudian "ategepan upakara mepralina" ring Uluning Setra.
Upakara itu direlasikan dengan upakara pecaruan Desa, yang bermakna, untuk sederhananya penyucian Desa dan lingkungannya, dan diakhiri dengan upakara bhakti nyomya, proses transformasi Bhuta menjadi Dewa, dan kemudian dengan keyakinan Alam Raya "terbersihkan".
"Dan krama mempersiapkan diri untuk memasuki masa Catur Bratha Penyepian," Sudibya alumni UI di Denpasar, Sabtu (22/3).
Ogoh-ogoh sebagai ekspresi berkesenian dari kaum muda Genzi, wahana mengembangkan kreativitas, membangun solidaritas di antara mereka, ekspresi diri dan bahkan aktualisasi diri secara sosial.
Memaknai perayaan Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Caka dengan suka cita dan kegembiraan, bagian dari kreativitas budaya masyarakatnya.
Setiap Banjar Adat, dan kemudian Desa Pakraman, melakukan perbedaan secara jelas, antara Ogoh-Ogoh sebagai bagian dari ritual upakara pengerupakan, simbol Bhuta yang akan "dipralina" ring uluning serta (kuburan), dengan ogoh-ogoh sebagai produk berkesenian dari kalangan muda.
Diperlukan distingsi, garis batas yang jelas, dengan kedua kategori Ogoh-Ogoh di atas, tidak tumpang tindih, "saru", yang bisa membawa implikasi yang tidak diharapkan.
Ogoh-Ogoh sebagai produk budaya berkesenian, tidak berelasi dengan upakara Pengrupukan, bisa saja sebagai produk tontonan yang menghibur, yang menggambarkan kreativitas dan kualitas berkesenian "sekehe" pendukungnya.
Tumpang tindih Ogoh-Ogoh sebagai simbol Bhuta, dengan produk berkesenian masyarakat, dalam lingkungan sosial yang kualitas moral sebagian masyarakatnya bermasalah, bisa terjadi "penghabluran" antara tabiat: Bhuta dengan Manusa, bisa membawa konsekuensi yang tidak diharapkan.
Bisa saja kekuatan Bhuta menguat, mendominasi kehidupan masyarakat, yang melahirkan anomali, kekacauan sosial.
"Akibatnya, nilai mulia laku dan ekspresi beragama bisa menjadi tidak tepat sasaran, 'nyaplir'," pungkasnya. (GAB/001)