Pasar Kreneng Semakin Meredup, Diharapkan Konsep Baru Pasar Semi-Modern
Admin - atnews
2025-05-12
Bagikan :
Prof. Dr. IB Raka Suardana (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undiknas Denpasar Prof. Dr. IB Raka Suardana, SE.,MM. mengatakan Pasar Kreneng sebagai salah satu ikon perdagangan tradisional yg melekat dalam sejarah Kota Denpasar sejak tahun 1960-an hingga 1990-an.
Pasar itu dahulu menjadi denyut nadi perekonomian masyarakat Denpasar, tempat bertemunya pedagang dan pembeli dari berbagai kalangan.
Pada masa jayanya, Pasar Kreneng bukan sekadar tempat bertransaksi, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial dan budaya.
Di pagi hari, hiruk-pikuk pasar rakyat menghadirkan dinamika yang hidup, di mana masyarakat membeli kebutuhan pokok, bahan makanan segar, hingga perlengkapan rumah tangga.
Menjelang sore hingga malam, suasana berubah menjadi pusat kuliner khas Bali dan pasar fashion yang terjangkau, menjadi destinasi favorit kalangan menengah ke bawah, pelajar, hingga wisatawan lokal.
"Namun dalam sepuluh tahun terakhir, kejayaan Pasar Kreneng semakin meredup," kata Prof Raka Suardana di Denpasar, Senin (12/5).
Citra yang dahulu melekat sbg pasar kebanggaan masyarakat Denpasar perlahan terkikis oleh kesan kumuh dan semrawut.
Kondisi fisik bangunan yang tidak terurus, sanitasi yang buruk, pengelolaan sampah yang tidak optimal, serta tata kelola yang kurang profesional, membuat Pasar Kreneng kehilangan pesonanya.
"Banyak kios kosong, pedagang tergusur oleh ketidakteraturan, dan pengunjung berkurang krn merasa tdk nyaman. Hal ini diperparah dengann persaingan pusat perbelanjaan modern yang menawarkan kenyamanan, kebersihan, dan penataan yang lebih menarik," bebernya.
Di balik kondisi tersebut, Pasar Kreneng sebenarnya sudah memiliki keunggulan yang layak dipertahankan dan dikembangkan. Lokasinya yang strategis di jantung kota Denpasar menjadi nilai plus.
Pasar itu sudah memiliki pelanggan loyal, terutama dari kalangan ibu rumah tangga, pelaku UMKM, dan wisatawan yang mencari suasana otentik pasar tradisional.
Ragam kuliner khas Bali, barang-barang lokal dengan harga terjangkau, dan nilai budaya dalam interaksi jual-beli tradisional adalah aset yang tidak dimiliki oleh mall atau supermarket modern.
Namun, kelemahan utama pasar ini terletak pada minimnya manajemen profesional, infrastruktur yang usang, serta minimnya pemanfaatan teknologi informasi.
Ini membuka peluang besar untuk merancang ulang konsep Pasar Kreneng menjadi pusat perbelanjaan semi-modern yang tetap mempertahankan tradisi pasar rakyat, namun dibalut dalam sistem pengelolaan modern.
Transformasi ity dapat dilakukan dengan mengusung konsep revitalisasi berbasis budaya dan ekonomi lokal, yang memadukan unsur kenyamanan, estetika, dan fungsionalitas.
Langkah strategis pertama adalah renovasi fisik bangunan dengan desain terbuka, ramah lingkungan, dan zona-zona yang tertata jelas: zona pasar pagi, zona kuliner malam, dan zona fashion.
Kedua, penerapan manajemen profesional berbasis digital, sprt sistem informasi kios, e-retribusi, dan promosi berbasis media sosial.
Ketiga, perbaikan fasilitas umum seperti toilet bersih, dan parkir yang teratur. Keempat, pelibatan pedagang dan masy sekitar dlm proses transformasi agar ada rasa memiliki.
Kelima, kolaborasi dgn investor, perbankan, dan pemda untuk dukungan dana dan perencanaan jk panjang.
Dengan langkah-langkah tersebut, Pasar Kreneng memiliki peluang besar untuk kembali menjadi simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan kota Denpasar: sebuah pusat perbelanjaan semi-modern yang tidak melupakan akar tradisi pasar Bali. (GAB/001)