Banner Bawah

Pasar Kreneng Kumuh: Potret Buram Pasar Tradisional Bali di Era Pasar Modern dan Retail Online

Admin - atnews

2025-05-16
Bagikan :
Dokumentasi dari - Pasar Kreneng Kumuh: Potret Buram Pasar Tradisional Bali di Era Pasar Modern dan Retail Online
Pasar Kreneng (Artaya/Atnews)

Denpasar (Atnews) - Rektor Universitas Dhyana Pura Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, S.E., M.MA., M.A.menyoroti kondisi pasar tradisional di Bali kini menghadapi tantangan yang sangat berat di tengah gempuran pasar modern dan penjualan retail online. 

Diperkirakan, jumlah gabungan gerai dua mini market populer “PALUGADA” (Apa Lu Mau Gue Ada) di Bali diperkirakan berada di kisaran 380 hingga 480 gerai. 

Pertumbuhan jumlah minimarket itu sangat signifikan dibandingkan dekade sebelumnya, yang berkontribusi pada persaingan ketat dengan pasar tradisional. 

Kehadiran minimarket modern ini memudahkan konsumen mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari dengan cepat dan nyaman, namun juga menjadi salah satu faktor utama menurunnya kunjungan ke pasar tradisional seperti Pasar Kreneng yang kebetulan lagi Viral.

Fakta lainnya, terjadi perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin praktis, kemudahan akses teknologi, serta promosi agresif dari pasar modern dan platform digital telah membuat eksistensi pasar tradisional semakin terpinggirkan. 

"Fenomena ini tidak hanya berdampak pada penurunan jumlah pembeli, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha ribuan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan hidup di pasar tradisional," kata Prof Rai Utama di Denpasar, Jumat (16/5).
 
Menurutnya, Pasar tradisional di Bali sejatinya memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ekonomi kerakyatan pada skala mikro dan kecil. 

Selain menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli, pasar tradisional juga menjadi ruang interaksi sosial, pelestarian budaya, dan penyerapan tenaga kerja yang signifikan. 

Namun, dalam satu dekade terakhir, pamor pasar tradisional terus merosot. Data dan riset menunjukkan bahwa jumlah pasar tradisional di Indonesia diperkirakan menurun hampir 3% setiap tahun, sementara pasar modern tumbuh pesat hingga lebih dari 40%.

Pergeseran perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup. Konsumen kelas menengah ke atas kini lebih memilih berbelanja di pasar modern yang menawarkan kenyamanan, kebersihan, dan suasana yang lebih aman. 

Sementara itu, pasar tradisional masih lekat dengan stigma kumuh, kotor, bau, dan tata kelola yang kurang profesional. Kelemahan inilah yang menjadi tantangan terbesar dan harus segera diatasi jika pasar tradisional ingin tetap relevan di masa depan.
Sementara gempuran pasar modern dan retail online. Maraknya pasar modern yang menjamur hingga ke pelosok desa, serta kemudahan belanja online yang menawarkan berbagai promo, diskon, hingga pengiriman gratis, semakin memperburuk posisi pasar tradisional. 

Konsumen kini dapat membandingkan harga, membaca ulasan produk, hingga memilih barang dari berbagai toko hanya dalam hitungan menit. Fleksibilitas dan kemudahan inilah yang menjadi daya tarik utama dan sulit ditandingi oleh pasar tradisional yang masih mengandalkan sistem jual beli konvensional tanpa promosi atau inovasi pemasaran.

Strategi promosi agresif dari pasar modern dan platform digital membuat konsumen semakin loyal pada sistem belanja baru ini. Akibatnya, jumlah pembeli di pasar tradisional menurun drastis, yang berdampak langsung pada anjloknya pendapatan pedagang kecil. 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin pasar tradisional akan semakin terpinggirkan dan akhirnya hanya menjadi bagian dari sejarah ekonomi Bali.
 
Prof Rai juga menyoroti salah satu contoh nyata buruknya kondisi pasar tradisional di Bali adalah Pasar Kreneng di Denpasar.

Pasar Kreneng yang kumuh telah mendapatkan sorotan dari Warga Denpasar Putu Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University, Ekonom Jro Gde Sudibya, Akademisi Guru Besar Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) Universitas Udayana (Unud) Prof Dr Ir I Gusti Ngurah Nitya Shantiarsa MT, Pengamat Kebijakan Publik Agung Wirapramana yang dikenal Agung Pram yang juga Pengamat Ecosystem yang juga Managing Director Satonda Reserve dan Anggota DPRD Denpasar Yonathan Andre Baskoro.

"Pasar ini dulunya menjadi salah satu pusat ekonomi rakyat yang ramai, namun kini kondisinya sangat memprihatinkan," ujarnya.

Fisik bangunan yang tidak terurus, sanitasi yang buruk, pengelolaan sampah yang tidak optimal, serta tata kelola yang kurang profesional menjadi gambaran sehari-hari di Pasar Kreneng. 

Banyak kios dan los yang kosong karena pedagang enggan berjualan di tengah kondisi pasar yang tidak nyaman dan tidak layak.

Penurunan jumlah pembeli dan pedagang di Pasar Kreneng semakin terasa terutama saat momen-momen tertentu, seperti saat libur panjang atau hari raya. Pendapatan pasar bahkan bisa anjlok hingga 25-30% dalam periode tersebut, dan kondisi ini telah berlangsung cukup lama. 

Tidak hanya itu, banyak pedagang dari luar Bali yang biasanya menghidupkan pasar, kini memilih mudik atau mencari peluang di tempat lain karena sepinya pembeli. Hal ini menunjukkan bahwa pasar tradisional tidak hanya kalah bersaing dari sisi fisik, tetapi juga dari sisi manajemen dan inovasi.

Pemerintah Kota Denpasar sendiri telah menyadari urgensi revitalisasi Pasar Kreneng.

Rencana perbaikan kios dan los sudah mulai digagas, namun revitalisasi fisik saja tidak cukup jika tidak diikuti perubahan tata kelola, budaya kebersihan, dan pelayanan yang lebih profesional. Program revitalisasi yang selama ini dijalankan masih bersifat parsial dan belum menyentuh akar masalah, yaitu perubahan pola pikir dan budaya pengelolaan pasar tradisional.
 
Akar masalah budaya, manajemen, dan regulasi. Permasalahan utama pasar tradisional di Bali sebenarnya bukan hanya pada fisik bangunan yang sudah tua atau fasilitas yang kurang memadai. Lebih dari itu, masalah terbesar terletak pada budaya pengelolaan, manajemen pasar, dan kurangnya inovasi dalam pelayanan. Banyak pengelola pasar dan pedagang yang belum memahami pentingnya menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan sebagai faktor utama daya tarik konsumen modern.

Selain itu, lemahnya regulasi dan pengawasan terhadap ekspansi pasar modern juga menjadi penyebab utama terpuruknya pasar tradisional. Pelanggaran aturan jarak minimal antara pasar tradisional dan pasar modern sering terjadi, sehingga pasar tradisional harus bersaing langsung dengan ritel modern yang memiliki modal dan strategi pemasaran jauh lebih kuat.

Sementara itu, edukasi dan pelatihan bagi pedagang pasar tradisional masih sangat minim, sehingga mereka sulit beradaptasi dengan perubahan zaman dan tuntutan konsumen yang semakin tinggi.
 
Revitalisasi pasar tradisional memang telah mulai dilakukan oleh pemerintah daerah, namun selama ini sebagian besar masih fokus pada perbaikan fisik bangunan. Padahal, perubahan mendasar yang dibutuhkan adalah transformasi budaya dan manajemen pasar. 

Revitalisasi harus dilakukan secara holistik, mulai dari tata kelola, kebersihan, keamanan, hingga pelayanan yang ramah dan profesional. Pengelola pasar harus dibekali dengan pengetahuan manajemen modern, sementara pedagang perlu diberikan pelatihan tentang pemasaran, penggunaan teknologi digital, dan strategi menghadapi persaingan pasar modern serta retail online.
Sinergi antara pemerintah, pengelola pasar, pedagang, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengembalikan pasar tradisional sebagai pusat ekonomi rakyat yang sehat, nyaman, dan berdaya saing tinggi. Program revitalisasi juga harus diiringi dengan kebijakan pengendalian ekspansi pasar modern dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya mendukung pasar tradisional sebagai bagian dari pelestarian budaya dan ekonomi lokal.
 
Maka dari itu, kondisi pasar tradisional di Bali, seperti yang tergambar jelas pada Pasar Kreneng, merupakan cerminan dari tantangan besar yang dihadapi ekonomi kerakyatan di era modern. Gempuran pasar modern dan retail online telah mengubah perilaku konsumen dan mempersempit ruang gerak pasar tradisional. Jika revitalisasi hanya dilakukan pada aspek fisik, tanpa menyentuh pola pikir, budaya, dan manajemen, maka pasar tradisional akan tetap tertinggal dan sulit bersaing.

Pasar tradisional harus segera berbenah, tidak hanya dengan memperbaiki infrastruktur, tetapi juga dengan melakukan transformasi budaya pelayanan, tata kelola profesional, dan adaptasi teknologi. 

Pemerintah, pengelola pasar, pedagang, dan masyarakat harus bersatu untuk menciptakan pasar tradisional yang bersih, nyaman, aman, dan ramah, agar tetap menjadi jantung ekonomi rakyat Bali di tengah arus modernisasi yang tak terbendung. Jika tidak, pasar tradisional hanya akan menjadi kenangan sejarah yang perlahan-lahan menghilang dari wajah Bali (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kemendagri Gelar KMF Cegah Ancaman Pemilu 2019

Terpopuler

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

Soroti Kasus Kekerasan Anak, Seniasih Giri Prasta Tekankan Pentingnya Ikatan Emosional Orang Tua dan Anak

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Dugaan Kekerasan Terhadap Anak, Pengelola Panti Asuhan di Desa Jagaraga, Buleleng, Bali Ditahan Polisi

Ribuan Siswa Kodiklatal Gelar Lattek Wira Jala Yudha, dan Aksi Bersih Pantai di Pantai Mertasari Sanur Denpasar Bali

Ribuan Siswa Kodiklatal Gelar Lattek Wira Jala Yudha, dan Aksi Bersih Pantai di Pantai Mertasari Sanur Denpasar Bali