Kemelut Sampah di Bali, Tapi Swedia Impor Sampah untuk Pabrik WTE
Kemelut Sampah di Bali, Tapi Swedia Impor Sampah untuk Pabrik WTE
Admin -
atnews
2025-06-03
Bagikan :
Praktisi Pariwisata Bagus Sudibya (Artaya/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Kemelut sampah di Pulau Dewata masih menjadi perhatian publik, karena Bali sebagai destinasi pariwisata dunia.
Namun Bali belum mampu menyelesaikan persolan selama bertahun-tahun. Apalagi TPA Suwung Denpasar Bali akan ditutup pada tahun 2026.
Untuk itu, Praktisi Pariwisata Bagus Sudibya mengharapkan sampah di Bali dikelola secara terpadu dengan sentuhan teknologi ramah lingkungan.
Ia mencontohkan negara maju yang sudah berhasil mengelola sampah seperti Jepang, Singapore hingga Swedia.
Swedia jadi salah satu negara maju yang memberikan perhatian perhatian khusus pada sampah. Sebanyak 99% sampah di Swedia didaur ulang hingga bersih tidak bersisa.
Saking banyaknya pabrik-pabrik daur ulang, mereka sampai sering kehabisan sampah.
Swedia tidak menghasilkan cukup sampah untuk menjaga agar pabrik waste-to-energy (WTE) miliknya beroperasi dengan kapasitas penuh.
Untuk mengatasi hal ini, Swedia mengimpor sekitar 1,3 juta ton sampah setiap tahunnya dari negara-negara seperti Inggris, Norwegia, dan Irlandia.
Negara-negara tersebut bahkan membayar Swedia untuk mengambil sampah mereka, menjadikannya usaha yang menguntungkan.
"Swedia juga datangkan sampah dari Denmark untuk diproses menjadi tenaga listrik tenaga sampah," kata Sudibya di Denpasar, Selasa (3/6).
Kebijakan itu diambil pabrik-pabrik pengolahannya sampahnya bisa berjalan. Pendekatan Swedia merupakan contoh nyata dari ekonomi sirkular yang sukses, di mana sampah tidak hanya dibuang, tetapi dimanfaatkan sebagai sumber daya yang bernilai.
Model itu pula menawarkan cetak biru yang menarik untuk pengelolaan sampah berkelanjutan di seluruh dunia.
Begitu juga Singapura sudah mengolah sampah menjadi WTE, termasuk limbahnya jadi beton, bahan pembangunan rumah. Justru kualitasnya lebih kuat.
Maka dari itu, pengelolaan sampah di Bali. Semestinya tinggal memilih teknologinya yang cocok. Sekaligus menjadi solusi kemandarian energi Bali dari listrik tenaga sampah agar tidak selalu bergantung listrik dari Jawa.
Semestinya Pemda Bali melalukan diplomasi kepada Dubes negara-negara maju tersebut. Dengan model pembiayaan grand cicilan jangka panjang.
Sebelumnya, Pengamat Kebijakan Publik Putu Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University menilai pariwisata Bali sudah mengalami keletihan.
Oleh karena trafik, macet, sampah, over tourism, jalan rusak (berlubang, retak, trotoar tidak memadai), alih fungsi lahan, sungai kotor, danau, kasus bunuh diri, dan tata kelola pariwisata autopolit.
"Kenyamanan sudah titik jenuh. Lihat Ubud kita, Sanur dan Denpasar. Grafiknya sudah melelahkan siapa saja. Makanya industri pariwisata harus dialihkan ke utara dan timur," harap Suasta yang kerap keliling dunia yang baru saja datang Laos, India dan Eropa.
Kebijakan mesti diambil supaya tekanan di Bali Selatan berkurang. Hal itu disampaikan disela-sela menghadiri Pengukuhan guru besar UNH I Gusti Bagus Sugriwa Prof Dr. I Gede Sutarya, SST.Par., M.Ag di Bangli beberapa waktu lalu. (GAB/001)