Tanam Bambu; Restorasi DAS, Penyelamatan Alam dan Budaya Bali
Admin - atnews
2025-06-07
Bagikan :
Ketua KITA Indonesia Nyoman Baskara (ist/Atnews)
Gianyar (Atnews) - Ketua KITA Indonesia Nyoman Baskara mengatakan masalah lingkungan menjadi isu setrategis Bali, lebih dari dua dekade.
Jika dirunut, munculnya permasalahan lingkungan tersebut, dimulai dari luas hutan terus berkurang, sampah anorganik, kerusakan ekosistem di empat danau, krisis air bersih, irigasi pertanian kian buruk dan makin suramnya wajah subak, alih fungsi lahan pertanian, keberadaan daerah aliran sungai (DAS) kian memprihatinkan.
Daerah aliran sungai atau DAS, termasuk suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak sungainya.
Fungsi DAS menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan menuju danau atau menuju laut secara alami.
DAS adalah daerah yang dibatasi punggung punggung gunung, dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut, ditampung oleh punggung punggung tersebut dan akan dialirkan melalui sungai sungai kecil ke sungai utama.
Mengingat sedemikian strategisnya fungsi DAS, maka menjadi suatu keharusan bagi kita untk senantiasa menjaga dan merawat eksistensinya, sehingga tetap berfungsi optimal.
"Amat disayangkan, karena kondisi DAS di Bali, sebagian kian rusak oleh aneka bentuk pelanggaran secara terstruktur dan masif," kata Baskara Tepi DAS Pakerisan, Desa Mantring Petak Gianyar, Kamis (5/6).
Menurut Dr.Diah Kencana, Ketua Forum DAS Pakerisan, sangat perlu ada langkah nyata dari berbagai pihak untuk memperbaiki kondisi DAS di seluruh Bali.
Akan sangat baik, dimulai dari atensi berupa kebijakan pemerintah, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah di tingkat desa.
Sebagai seorang akademi senior berlatar belakang Ilmu Pertanian, Diah Kencana yang juga ahli bambu ini, sangat mengapresiasi ada inisiasitif yang lahir dari tokoh masyarakat untuk menghimpun diri dalam Komunitas Peduli DAS.
Oleh karenanya, secara spontan menyetujui, saat dia didapuk sebagai Ketua Forum DAS Pakerisan, oleh beberapa pendiri antara lain Ketut Sugata, Ide Bagus Sukarya.
Dan Baskara pun tidak ragu menjadi koordinator budidaya bambu di lembaga swadaya, yang telah dikukuhkan setahun lalu. Dalam setahun perjalanannya, Forum DAS Pakerisan bersinergi dengan Forum Komunikasi Pakaseh Agung DAS Pakerisan, telah banyak menggelar beberapa kali FGD, menghadirkan nara sumber yang mumpuni. Salah satu rekomendasi dari FGD adalah Program Restorasi DAS Pakerisan.
Memaknai Hari Lingkungan se Dunia, 5 Juni 2025, Diah Kencana yang sudah lebih 35 tahun menekuni dunia bambu, meracik sebuah gerakan kolaboratif bertajuk "Bambu Alam Semesta atau BAS", dan menjadikan kawasan DAS Pakerisan, Desa Adat Mantring, Desa Petak Kaja Gianyar sebagai pilot project.
Baskara didukung oleh Wayan Sumerta (tokoh Mantring), ikut menggawangi aksi tersebut, menjadi tukang kabel untuk menyambungkan semua stake holder DAS, mulai dari pemerintah, LSM, Mahasiswa, akademisi, tokoh pemerhati Lingkungan, warga masyarakat sekitar DAS.
Untuk menyambut acara Menyambut Hari Lingkungan Sedunia, sekaligus sebagai langkah awal dari agenda Restorasi DAS Pakerisan, diisi dengan kegiatan Menanam 3000 bibit Bambu.
Dipilihnya bibit bambu sebagai vegetasi utama di kawasan ini, dilatari oleh keunggulan fungsi atau manfaat bambu itu sendiri antara lain : manfaat/fungsi konservasi, manfaat sosial budaya dan manfaat/nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Kegiatan yang dijadikan agenda rutin tahunan ini, berjalan bersahaja dan penuh keakraban dari peserta yang terdiri dari asisten III Pemkab Gianyar, Pengurus Forkom DAS Pakerisan, Pengurus Forum Pekaseh Agung DAS Pakerisan, Pemeseton Mahasiswa Hindu Warmadewa, Wayan Sumerta sbg Koordinator Komunitas DAS dan anggota, serta belasan ibu ibu yang menjadi cikal bakal kelompok budidaya bambu di desa Mantring. (GAB/001)