.
Festival Sastra Saraswati Sewana 2025 merupakan penyelenggaraan kelima yang digagas oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud. Tahun ini, festival mengangkat tema: “Brahmasara Bhawana Mukti: Teknologi untuk Kemajuan Peradaban.”
Tema ini dipilih sebagai respons terhadap lompatan mutakhir dalam sains dan teknologi yang telah mengubah — bahkan mendisrupsi — cara hidup, cara bekerja, berkomunikasi, dan berinteraksi. Kemajuan teknologi, khususnya melalui Revolusi Industri 4.0, telah memicu perubahan signifikan dalam lanskap sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat global, termasuk masyarakat Bali.
Masyarakat Bali kini hidup di era baru: era disrupsi teknologi. Teknologi seperti cloud computing, Internet of Things, Artificial Intelligence, Big Data Analytics, advanced robotics, dan virtual reality telah membawa transformasi di berbagai bidang kehidupan.
Dalam konteks ini, muncul sejumlah pertanyaan penting:
• Apa dampak gelombang disrupsi teknologi terhadap budaya Bali?
• Strategi kebudayaan seperti apa yang perlu dirancang?
• Apa pegangan kita sebagai orang Bali?
• Bagaimana budaya Bali dapat bertahan, beradaptasi, bahkan berkembang di tengah
kemajuan teknologi?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Yayasan Puri Kauhan Ubud berupaya menjadi simpul — semacam “melting pot” — yang mempertemukan berbagai pihak untuk duduk bersama dan berdiskusi. Mereka yang terlibat antara lain para wiku/sulinggih (sebagai guru loka dan patirtan jagad yang seharusnya memberi tuntunan kepada umat), budayawan, guru besar, undagi, sangging (teknolog atau pencipta teknologi tradisional Bali), pande, seniman, penggiat AI, serta para arsitek.
Sebagai langkah awal, Festival Sastra Saraswati Sewana 2025 diawali dengan Dharma Panuntun pada 27 Juni 2025. Acara ini menghadirkan para Wiku untuk memberikan tuntunan berdasarkan sastra agama. Adapun narasumber dalam Dharma Panuntun adalah:
• Ida Pedanda Gede Purwa Dwija Singarsa
• Ida Pedanda Gede Swabawa Karang Adnyana
• Ida Pedanda Gede Nyoman Putra Talikup
Acara ini dimoderatori oleh Ida Bagus Oka Manobhawa.
Tujuan Dharma Panuntun:
1. Menggali nilai-nilai luhur budaya Bali terkait sains dan teknologi dari manuskrip
maupun sumber lisan warisan para leluhur/Ida Bethara Kawitan.
2. Mengkaji relevansi nilai-nilai tersebut dalam penciptaan dan penerapan teknologi
masa kini.
3. Mengadaptasi dan merevitalisasi nilai-nilai luhur budaya Bali sebagai pedoman etika
dalam pengembangan sains dan teknologi.
Festival utama akan digelar pada 10–14 Juli 2025 di Taman Sanggingan Ubud, dan akan dibuka pada 10 Juli 2025 oleh Bapak Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (dalam konfirmasi). Festival ini juga akan menganugerahkan Sastra Saraswati Sewana Nugraha 2025 kepada:
• (Alm.) I Gusti Nyoman Lempad
• (Alm.) Ir. Tjokorda Raka Sukawati
• (Alm.) Ir. Ida Bagoes Oka (insinyur pertama di Bali)
• (Alm.) Ida Bagus Putu Tugur
• Nyoman Nuarta
Kelima tokoh tersebut merupakan sosok-sosok kebanggaan Bali yang telah memberikan kontribusi besar dalam pelestarian, pengembangan, dan pemajuan budaya Bali, terutama dalam bidang teknologi.
Festival dan Pameran Brahmasara Bhawana Mukti akan menjadi ruang berbagi perspektif antara seniman, undagi, sangging, pande, dan penggiat teknologi AI demi pelestarian dan pengembangan budaya Bali. Festival ini juga diharapkan dapat meneruskan nilai-nilai luhur budaya Bali terkait sains dan teknologi kepada generasi muda, khususnya generasi milenial dan Gen Z. Pameran ini akan menggandeng Pangusada Bali, universitas, UMKM, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang memiliki kepedulian serupa.
Sebagai bagian dari rangkaian acara, akan diselenggarakan pula Kompetisi Seni Pertunjukan dengan Inovasi Teknologi, yang memberi kesempatan kepada seniman Bali, khususnya dalam seni pertunjukan, untuk berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Seluruh rangkaian festival akan ditutup pada awal Desember 2025 dengan peluncuran buku "Brahmasara Bhawana Mukti" serta pementasan karya seni pemenang kompetisi pertunjukan berbasis teknologi.