Berbahan Utama Beras, Ngeliwet: Persembahan Makanan Terakhir Buat Pitara
Banner Bawah

Berbahan Utama Beras, Ngeliwet: Persembahan Makanan Terakhir Buat Pitara

Admin - atnews

2025-07-23
Bagikan :
Dokumentasi dari - Berbahan Utama Beras, Ngeliwet: Persembahan Makanan Terakhir Buat Pitara
Ngeliwet Karya Baligia Utama 2025 (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Sarana bekal terakhir  buat para Pitara yang disucikan menjadi Dewa Pitara menuju alam keabadian dipersembahkan dalam bentuk Ngeliwet.

Intinya, Ngeliwet itu berarti memasak untuk memberikan bekal berharga kepada para Pitara yang akan menuju alam nirwana.

Seperti layaknya di dunia nyata, Ngeliwet itu diartikan persembahan makanan terakhir bagi para Pitara, yang akan naik tingkat menjadi Dewa Pitara.

Demikian disampaikan  Pengelingsir, Pengerajeg Karya Baligia Utama 2025, sekaligus Manggala Puri Agung Karangasem, Anak Agung Bagus Parta Wijaya didampingi Prawartaka Karya, Anak Agung Made Kosalia, disela-sela upacara Ngeliwet, Selasa, 22 Juli 2025 tepat pukul 00.00 WITA. 

Menariknya, sarana Ngeliwet berbahan utama berupa  beras yang nanti dijadikan bubur  didalamnya mengandung makna spiritual.

"Saat itu, beras dibersihkan dan ditumbuk, masing-masing sebanyak 11 kali," kata Parta Wijaya. 

Menurutnya, pada waktu mengaduk beras itu  bersarana benang dan uang kepeng bolong. Benang mengandung makna melindungi areal disekitar Piyadnyan, agar tidak ada gangguan. Sementara, uang kepeng bolong bermakna kemakmuran.

"Jadi, didalam pengadukan ini ditambah simbol benang dan uang kepeng bolong untuk menjaga keselamatan dan menjaga dari gangguan-gangguan dari hal-hal yang tidak diinginkan," paparnya.

Didalam bubur itu, lanjutnya tercampur sarana  empehan lembu putih, yang sebelumnya ikut serta dalam upacara Mepurwa Daksina.

"Empehan itu artinya air susu yang diambil dari lembu putih itu dicampur didalamnya, begitu pula ada daging warak, salah satunya itu  diaduk didalam gendar itu  bĂ gian dari  bahan-bahan sakral untuk  bekal para Pitara menuju ke alam keabadian," urainya.

Setelah proses Ngeliwet, sarana bubur dipersembahkan kehadapan Ida Sulinggih selaku Pemuput Karya dilakukan  persembahyangan, yang kemudian  dibagi-bagikan ke setiap Puspa yang berstana di Bale Piyadnyan.

"104 Puspa itu diberikan jatah sesuai porsinya masing-masing, tapi itu diberikan mantra Ida Pendeta (Sulinggih) untuk diberikan bekal menuju ke alam keabadian," kata Parta Wijaya.

Setelah itu, dilakukan prosesi Ngeseng Puspa dengan rangkaian  upacara diawali dengan menurunkan Puspa dari Bale Piyadnyan, yang ditempatkan pada wadah berbahan tanah dengan pengadukan berbahan tebu, untuk melakukan proses pembakaran.

"Itu dibakar dan diaduk secara halus, ada proses pembakarannya, lalu dibungkus dengan kain kasa putih dibawa pada arak-arakan besok  nanti bakal dilarung ke segara," tambahnya.

Proses tahapan ini dikatakan berbeda dengan prosesi Ngereka, yang intinya hasil pembakaran tersebut dibentuk seperti badan manusia, meski berupa debu halus,  lalu dibungkus kembali  kedalam kain putih. 

"Itu tidak ada tulang dan sebagainya, sehingga benar-benar debu dan abu saja isinya. Nah, itu yang nanti menjalani prosesi Nganyut ke Segara Ujung, Karangasem," tandasnya.

Melalui semua rangkaian upacara ini, Parta Wijaya menyebutkan Karya Baligia Utama adalah penyucian badan halus, dalam arti peningkatan dari Pitara menjadi Dewa Pitara, yang selanjutnya ditempatkan di Merajan Puri masing-masing, yaitu Rong Tiga. 

"Itu yang akan disembah oleh para Keluarga Besar atau Pretisentana, saat telah distanakan di Rong Tiga," pungkasnya. (WIG/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : 21 Titik Gawat Darurat Sampah Plastik di Kawasan Pura Besakih

Terpopuler

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Atlet Woodball Buleleng Raih Emas di Jatim Open 2026, Danang Dibidik Perkuat Indonesia

Atlet Woodball Buleleng Raih Emas di Jatim Open 2026, Danang Dibidik Perkuat Indonesia

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Langkah Strategis 2026: Kementerian Pariwisata Siapkan 38 Provinsi, Keselamatan Wisata Jadi Prioritas

Langkah Strategis 2026: Kementerian Pariwisata Siapkan 38 Provinsi, Keselamatan Wisata Jadi Prioritas

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali