Denpasar (Atnews) - Setelah dua puluh lima tahun, terus-menerus melakukan assesmen terhadap konsep Tri Hita Karana, kini kesadaran investor untuk memecahkan berbagai masalah tentang adat-budaya Bali mulai meningkat.
Seperti Hotel Melia Bali, saat merenovasi hotel, pihak manajemen melakukan kontak dengan yayasan tri hita karana, untuk mendapat masukan bagaimana memilih dan menempatkan patung- patung yang akan menghiasi kolam renang.
“Kami mendatangkan Prof. Ketut Sumadi untuk menjelaskan konsep budaya Bali dikaitkan dengan pemilihan dan penempatan patung, sehingga tidak terjadi kesalahan fahaman yang akan menjadi masalah di kemudian hari,” ujar Ketua Yayasan THK Bali, Ir. I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, Sabtu (6/9).
Hotel yang akan berganti nama menjadi Paradisus by Melia Bali tidak menginginkan, bila apa yang dikerjakan saat renovasi, kemudian menimbulkan masalah bahkan menjadi pelecehan oleh masyarakat Bali. Mengingat perancang dan kontraktor renovasi, berasal dari luar yaitu Jepang dan Vietman.
Hal berbeda juga dilakukan oleh hotel Alaya Resort Ubud. Hotel ini membuat kajian ‘Bali Darurat Sampah’ sebagai respon dari usaha Pemda Bali untuk menerapkan program sampah berbasis sumber.
Dimulai dari mengumpulan data volume sampah yang dihasilkan hotel Alaya, lanjut dilakukan penanggulangan sampah yaitu komposting, eco-enzym dan menjadikan sampah sisa dapur sebagai pakan ternak.
Ketua Yayasan Tri Hita Karana menambahkan, untuk tahun 2025, terdaftar 55 hotel dan dtw (daya tarik wisata) yang ikut THK Awards. Asesmen dimulai sejak Agustus dan penganugrahan THK Awards akan berlangsung awal Desember. “Baru sebulan, kami lakukan assemen sudah muncul aktivitas riil dari hotel dan dtw guna menaggulangi masalah palemahan, pawongan hingga spiritual (parhyangan), seperti yang dilakukan oleh Melia Bali. (Z/001)