Denpasar (Atnews) - Banjir bandang yang terjadi tanggal 10 september lalu menyisakan trauma dan penderitaan mendalam khususnya bagi keluarga korban dan Bali umumnya.
Mengapa banjir demi banjir yang terjadi sebelumnya tidak cukup menggugah kesadaran kita khususnya para pejabat publik yang memiliki kuasa dan kemampuan lebih untuk melakukan pembenahan?.
"Apakah dengan kejadian sangat luar biasa kali ini mampu membuka hati dan kesadaran kita?," tanya Pemerhati Kehidupan Dr Wayan Sayoga di Denpasar, Jumat (19/9).
Kali ini, pihaknya ngomong straight forward saja. Apa yang kita saksikan termasuk hingga banjir blabar terakhir sesungguhnya semua ini terjadi sebagian besar (90 % lebih) karena ulah, jika tidak mau disebut sebagai kesalahan manusia.
Termasuk disini adalah pejabat publik yang tidak mampu menjalankan peran dan swadharmanya dengan proper. Alam lingkungan menjadi baik dengan energy positif karena ulah manusianya.
Sebaliknya, bila penghuni bumi ini tidak menghargai dan tidak menyayangi sungai, hutan, gunung, laut, got, udara, dan lain lainnya, maka energinya akan surut dan rusak sehingga dengan mudah mendatangkan berbagai macam penyakit dan bencana.
"Kita tidak perlu berteori ruwet dan njelimet soal banjir. Sesungguhnya alam ini hanya merespon balik atas keserakahan dan kebodohan kita selama ini. Se-simple itu formulanya. Kita tabur kita tuai. Bisa secara personal dan bisa kolektif. Kita telah kehilangan kepekaan sehingga memperlakukan alam lingkungan sebagai benda 'mati' hanya karena ia tidak mampu bersuara atau protes. Sebetulnya tidak ada benda mati didunia ini. Semuanya energi yang memiliki tingkat kepadatan dan bergetar pada frekuensinya masing - masing," ujarnya.
Ia berharap kepada pejabat untuk tidak kompromi dan tegas menegakkan aturan. Lakukan pembenahan dan penataan semua aspek yang dibutuhkan agar banjir tidak terulang kembali.
Jika semua hidup selaras dengan alam maka yakinlah alam akan merespon dan memberikan jauh lebih besar dari upaya yang dilakukan. "Dan ingatlah selalu, kali ini tegurannya sangat keras dan barangkali untuk terakhir kali, karena itu mari cegah dengan segala daya jangan sampai terulang kejadian baru yang jauh lebih dahsyat," ungkapnya.
Ngiring sareng sami mulat sarira, introspeksi total sembari membuat komitmen baru untuk berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti dimasa lalu.
Wacana untuk memodifikasi cuaca maupun penggunaan laser secara masif selama ini untuk menghalau hujan harus dihentikan karena kegiatan ini bertentangan dan melawan hukum alam.
"Kita harus menghindari perbuatan yang hanya karena demi keuntungan sesaat namun mengabaikan kemungkinan bencana besar yang datang dikemudian hari," tegasnya.
Sayoga juga menyoroti wacana untuk memodifikasi cuaca maupun penggunaan laser secara masif selama ini untuk menghalau hujan harus dihentika.
Oleh karena kegiatan ini bertentangan dan melawan hukum alam. "Kita harus menghindari perbuatan yang hanya karena demi keuntungan sesaat, namun mengabaikan kemungkinan bencana besar yang datang dikemudian hari," tegasnya. (GAB/001)