Oleh Prof. I Nyoman Sucipta
Sahabatku yang baik,
Memasuki usia senja ibarat matahari yang perlahan-lahan bergerak ke peraduannya. Sinarnya tak lagi terik dan menyilaukan, tetapi berubah menjadi keemasan, lembut, dan meneduhi.
Di fase hidup yang penuh ketenangan ini, kita diingatkan pada dua sikap yang mulia: "Humbel" (rendah hati) dan "Manat" (hati-hati, bersahaja).
Humbel di usia senja berarti menyadari bahwa hidup adalah proses belajar yang tak pernah usai. Kita mungkin telah melalui banyak pengalaman, tetapi masih banyak hal yang bisa dipelajari dari orang lain, bahkan dari yang lebih muda. Kerendahan hati membuat kita tetap terbuka, dicintai, dan bisa menjadi teladan tanpa merasa paling benar.
Manat adalah wujud rasa syukur. Bersikap hati-hati dan bersahaja bukan berarti takut, tetapi bijak dalam menggunakan sisa waktu, tenaga, dan berkat yang kita miliki untuk hal-hal yang benar-benar bermakna. Tidak berlebihan, tetapi penuh rasa cukup.
Dan di tengah kemantapan hati yang humbel dan manat itulah, semangat untuk "tetap berkarya" bersinar. Berkarya di usia senja bukan tentang prestasi yang gemilang, tetapi tentang kehadiran yang memberi arti. Senyuman tulus untuk keluarga, nasihat bijak untuk anak cucu, doa yang dipanjatkan dengan khusyuk, atau keterampilan sederhana yang diajarkan pada generasi penerus—itu semua adalah karya yang tak ternilai.
Karya terindah di usia senja adalah menabur kebahagiaan dengan tangan yang terbuka dan hati yang ikhlas.
Semoga di sisa perjalanan ini, kita semua diberikan kekuatan untuk terus menjadi berkat, tetap produktif dengan cara kita sendiri, dan mencapai kebahagiaan sejati yang tenang dan membumi.
Semoga kita semua berbahagia.
Terima kasih atas setiap karya dan kebaikanmu.
Salam hangat dan semangat selalu. (*)