Oleh Wayan Sayoga Kekuatan kebersamaan, persatuan dan kesatuan tlah terbukti sangat sulit dibendung, dilawan apalagi dikalahkan. Mungkin karena memahami dahsyatnya daya ledak dinamit persatuan makanya Bung Karno sangat gandrung akan cita cita Persatuan Nasional.
Dimana mana dan setiap ada kesempatan Dia mempropagandakan dan mengagitasi masyarakat dengan ide Persatuan.
"Hujan batu sekalipun jatuh dari kolong langit tidak mampu menghancurkan Persatuan Indonesia", katanya sengit.
Bahkan kemudian di dalam rumusan asli Pancasila 1 Juni 1945 Bung Karno menempatkan Persatuan Nasional sebagai sila pertama.
Sekarang beberapa tembok Fisik GWK sudah roboh. Ratusan Warga yang bertempat tinggal disana kini bisa bernapas lebih lega dan berakivitas dengan leluasa.
Namun warga Bali tidak boleh berpuas diri sampai disini. Sesungguhnya ada banyak hal yang mesti dirobohkan jika kita menginginkan Bali kedepan terhindar dari berbagai bencana. Menyebut beberapa contoh saja yang masih segar yang juga sudah banyak disuarakan ke publik seperti, pelanggaran terhadap sempadan sungai dan laut.
Hancurnya mangrove di Tahura yang menghasilkan 106 sertifikat lebih. Semua rongrongan ini telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat parah, traumatik dan harus dituntaskan dalam waktu singkat oleh pemerintah bersama warga Bali.
Harus disadari bahwa masih banyak "tembok-tembok" atau PR yang harus kita robohkan dan benahi bersama. Dan problem yang paling penting adalah mengakui dan menyadari betapa Watak perangai dan cara pandang kita yang sempit, khususnya para elit entah karena perbedaan warna baju maupun tetek bengek lainnya yang tidak penting, mesti dibuang jauh jauh.
Adanya Clash of ego dari elit Bali di masa lalu membuat GWK terlepas begitu saja. Kita hanya bisa mengelus dada dan menerima dengan pasrah GWK bukan milik Bali lagi. Kenyataan ini sungguh menyesakkan dan sebagian besar masyarakat Bali tidak tahu dan tidak mengira bahwa mereka sudah tidak memiliki GWK lagi. Ironis, bukan?
Terlepas dari semua cerita dan kejadian pahit di masa lalu, dimana mereka yang terlibat didalamnya tentu mesti mempertanggung jawabkan semua sepak terjangnya, entah saat ini atau next life.
Khusus hal yang mendesak saat ini, Bali sangat membutuhkan disiplin, komitmen, keteguhan dan kesadaran baru untuk menata ulang lingkungannya dan kesehatan warganya secara total dan menyeluruh.
Hanya dengan demikian Bali kedepan dapat memancarkan cahaya yang memberikan kesehatan dan kesentosaan pada warga Bali khusunya dan juga kepada para Atiti yang berkunjung ke Bali.
Semoga semua mahluk terbebas dari duka derita, sehat dan berbahagia senantiasa.
*) Wayan Sayoga, Seorang dokter dan Pemerhati Kehidupan