Banner Bawah

Perlawanan Tak Kenal Menyerah; Puputan Margarana, Bersama Kita Membela Kemerdekaan

Admin - atnews

2025-11-11
Bagikan :
Dokumentasi dari - Perlawanan Tak Kenal Menyerah; Puputan Margarana, Bersama Kita Membela Kemerdekaan
Made Dharma Putra (ist/Atnews)

Oleh Made Dharma Putra, Ketua Gerakan Nasional Pembudayaan Pancasila GNPP Prov. Bali yang juga Wakil Ketua DHD Angkatan 45 Prov Bali

Sudah 80 tahun yang lalu, pada 10 November 1945, pertempuran besar antara pasukan Republik Indonesia dan pasukan Sekutu terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Namun, pertempuran itu bukanlah satu-satunya perlawanan heroik yang terjadi di Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan. Setahun kemudian, pada 20 November 1946, pertempuran lain terjadi di Bali, yang dikenal sebagai Perang Puputan Margarana.

Puputan Margarana adalah perlawanan terakhir pasukan Republik Indonesia di Bali, yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai, seorang pahlawan nasional Indonesia. Perlawanan ini terjadi ketika pasukan Belanda, yang berusaha merebut kembali kekuasaan atas Indonesia, menyerang pasukan Republik di Margarana, Tabanan, Bali.

Dengan kekuatan yang tidak seimbang, pasukan Republik yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai, melakukan perlawanan terakhir mereka. Mereka bertempur dengan gigih, namun akhirnya, mereka dikalahkan oleh pasukan Belanda yang lebih kuat.

I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukannya gugur dalam pertempuran itu, namun perlawanan mereka tidak sia-sia. Perang Puputan Margarana menjadi simbol perlawanan rakyat Bali terhadap penjajahan Belanda, dan menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dalam mengenang peristiwa heroik ini, setiap tahun diadakan Napak Tilas Ngurah Rai, sebuah acara yang mengarak surat sakti Ngurah Rai ke seluruh kabupaten di Bali. Acara ini bertujuan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa I Gusti Ngurah Rai dan para pahlawan lainnya yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Isi  Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai.


Kepada Jth.
Toean Overste Termeulen

di
D E N P A S A R. M E R D E K A !

Soerat telah kami terima dengan selamat. Dengan singkat kami sampaikan djawaban sebagai berikoet:

Tentang keamanan di Bali adalah oeroesan kami. Semendjak pendaratan tentera toean, poelau mendjadi tidak aman. Boekti telah njata, tidak dapat dipoengkiri lagi.

Lihatlah, penderitaan rakjat menghebat. Mengantjam keselamatan rakjat bersama. Tambah2 kekatjauan ekonomi mendjirat leher rakjat. Keamanan terganggoe, karena toean memperkosa kehendak rakjat jang telah menjatakan kemerdekaannja.

Soal peroendingan kami serahkan kepada kebijaksanaan pemimpin2 kita di Djawa. Bali boekan tempatnja peroendingan diplomatic. Dan saja boekan kompromis. Saja atas nama rakjat hanja menghendaki lenjapnja Belanda dari poelau Bali atau kami sanggoep dan berdjandji bertempoer teroes sampai tjita2 kita tertjapai.

Selama Toean tinggal di Bali, poelau Bali tetap mendjadi belanga pertoempahan darah, antara kita dan pihak toean. Sekian, harap mendjadikan makloem adanja. Sekali merdeka, tetap merdeka

a/n. DEWAN PERJOANGAN BALI. Pemimpin: ( I Goesti Ngoerah Rai).


Surat sakti Ngurah Rai adalah simbol keberanian dan pengorbanan para pahlawan, dan menjadi inspirasi bagi generasi-generasi mendatang. Dengan mengadakan Napak Tilas Ngurah Rai, kita dapat terus mengenang dan menghormati jasa-jasa para pahlawan, dan memperkuat semangat perjuangan kita untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Dalam catatan Alm Prof Windia pada Pertemuan Bupati Badung dan  Tokoh Masyarakat di Bangsal,  Pak Djoko ( WijaKusuma) Wakil PImpinan Dewan Perjuangan Rakyat  Bali (DPRI) Sunda kecil meminta, Rumah Bangsal agar segera di Renovasi. Karena memiliki nilai sejarah yang heroik. 16 Agustus 45 di Rumah ini 
dilaksanakan  Puncak Pertemuan Gerakan Bawah Tanah dalam mengatur strategi perang melawan penjajah. 

Tempat pertemuan  ini baru bisa di renovasi 2007 . dan diresmikan menjadi
Monumen Perjuangan Bangsal, yang terletak di Pertigaan Gaji ,Sempidi, Dalung , Kuta Utara Badung oleh Gubernur Bali Mangku Pastika . 
Rumah ini menjadi saksi bisu pertemuan mengatur strategi perang  pada 16 Agustus 1945, ketika lebih dari 30 an para pemimpin gerakan bawah tanah berkumpul untuk membahas rencana merebut kemerdekaan  Indonesia. Monumen ini menjadi simbol keberanian dan pengorbanan para pahlawan, dan menjadi inspirasi bagi kita untuk terus memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.

Kita harus selalu mengenang dan menghormati jasa-jasa para pahlawan kita, yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. 

Semoga Bermanfaat Bagi Generasi Baru Indonesia.
Mari kita teruskan semangat perlawanan mereka, dan bekerja sama untuk membangun bangsa yang lebih baik.(*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sm@rtDesa Solusi Digitalisasi Pedesaan

Terpopuler

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Tengah Tekanan Global, Kemenpar Siapkan Strategi Jaga Target Pariwisata 2026

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif

Ari Dwipayana Raih Penghargaan Tokoh Hindu Inspiratif