Banner Bawah

Sudirta Ajak Mahasiswa Belajar dari Mahabharata, Bhagawad Gītā dan Bung Karno: Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di UHN IGB Sugriwa

Admin - atnews

2025-12-14
Bagikan :
Dokumentasi dari - Sudirta Ajak Mahasiswa Belajar dari Mahabharata, Bhagawad Gītā dan Bung Karno: Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di UHN IGB Sugriwa
Dr. I Wayan Sudirta (ist/Atnews)

Denpasar (Atnews) - “Bila belajar dari Pandawa dalam Mahabharata, yang awalnya kalah dan tertipu oleh Korawa dalam jebakan judi, lalu kehilangan kerajaan dan diasingkan di hutan selama 13 tahun, tapi akhirnya memperoleh kemenangan dan kejayaan setelah perang Bharata di Kuruksetra, syarat untuk menang itu terletak pada kejujuran, keberanian, pengetahuan, kerjasama dan dukungan logistik. Pandawa akhirnya menang karena ada Yudistira, Bhima, Arjuna, Nakula-Sahadewa, dan penasihat bernama Krishna. Nasihat Krishna kepada Arjuna di padang Kuruksetra itulah yang menjadi Bhagawad Gītā. Saya belajar dari filsafat Bhagawad Gītā itu dan berterimakasih bisa sampai pada pencapaian karir seperti sekarang. Dan kalau ditilik secara seksama, apa yang ada di Mahabharata, Bhagawad Gītā, ada pula pada nilai-nilai Pancasila, dasar negara Indonesia. Tidak mengherankan, kalau Bung Karno sebagai salah seorang pendiri bangsa, membaca Bhagawad Gītā,’’ kata Dr. I Wayan Sudirta, SH, MH, Anggota MPR/DPR RI saat memaparkan 4 konsensus dasar kebangsaan di hadapan mahasiswa PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa, di Gedung PHDI Bali, Denpasar, dalam sesi pagi dan sore, Sabtu, 13/12/2025.

Dalam berbagai referensi, diuraikan bahwa Bhagawad Gītā dan Bung Karno memiliki hubungan yang sangat erat secara ideologis dan filosofis. Bung Karno tidak hanya mengenal Bhagawad Gītā sebagai kitab suci Hindu, tetapi menginternalisasi ajarannya dalam pemikiran politik, kepemimpinan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dikutip bahwa Bung Karno secara terbuka mengakui bahwa Bhagawad Gītā adalah salah satu sumber inspirasi hidup dan perjuangannya. Ia sering menyebut Bhagawad Gītā sebagai kitab tentang kewajiban, keberanian moral, dan pengabdian tanpa pamrih.

Kutipan terkenal tentang perjuangan tanpa pamrih dari Bhagawad Ghita yang menginspirasi Bung Karno adalah Karma Yoga: “Laksanakan kewajibanmu, tanpa terikat pada hasilnya.” Bung Karno memimpin perjuangan tanpa memperhitungkan menang atau kalah, tetapi focus pada kewajiban. Dari filosofi tentang Dharma, dimana Arjuna berperang tanpa ragu setelah mendengarkan nasihat Krishna. Terinspirasi oleh Dharma, Bung Karno memaknai: bahwa Kemerdekaan adalah dharma bangsa Indonesia, dan menolak berjuang sama dengan menyerah pada ketidakadilan kolonial. Yang tercermin dari pidatonya yang sering dikutip: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah; perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Konsep lain dari Bhagawad Gītā adalah tentang Keberanian Moral (Ksatria), yang dalam perjuangan Bung Karno menjadi kepemimpinan revolusioner. Lalu kutipan Bhagawad Gītā tentang keberagaman, bhinneka tunggal ika; ‘’Semua jalan menuju Tuhan pada hakikatnya satu’’ menurun menjadi konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dan pluralisme. Bung Karno melihat Bhagawad Gītā sebagai jembatan antara agama, budaya, dan nasionalisme.
Bagi Sudirta dan kawan-kawan aktivis seperjuangan, advokasi dan pembelaan masyarakat marjinal, adalah wujud kecil perujudan nilai-nilai Pancasila dan kearifan leluhur tentang nilai dan moral dalam kehidupan sehari-hari, katanya, sembari menceritakan, bagaimana memperjuangkan pengungsi Timor Timor Eks Transmigran Bali, yang sepulang ke Bali dari terusir di Timor Timur yang merdeka menjadi Timor Leste pada tahun 1999, awalnya dirasakan mustahil.

‘’Belum ada contoh di dunia, pengungsi mendapat tanah dari negara. Tapi, pengungsi Timtim yang kami bela dengan kawan-kawan, di tahun 1999 tersebut, ternyata berhasil. Sekarang mereka tinggal di Desa Sumberkelampok, dikenal sebagai dusunnya pengungsi Timtim. Pak Wayan Sudirta langsung memimpin pembukaan semak belukar bersama para pengungsi dan tim pembela. Sekarang, di tahun 2025 ini, banyak mereka yang sudah sukses, ada anaknya yang sekarang menjadi mahasiswa di UHN Bagus Sugriwa, dan menjadi pengurus BEM,’’ jelas Putu Wirata Dwikora, yang memandu paparan 4 pilar kebangsaan tersebut.

Putu Wirata menjelaskan, sebagai anggota MPR periode 2019-2024, berlanjut periode kedua 2024-2029 ini, Sudirta sudah melakukan paparan di berbagai elemen masyarakat, mulai dari prajuru dan warga desa adat, Pinandita/Pemangku, pengurus PHDI, dan paling banyak dengan mahasiswa di perguruan tinggi. Sudirta senantiasa memaparkan esensi dan peran penting Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi dan pilar berdirinya bangsa. Walaupun kemakmuran dan keadilan sosial memang belum juga terwujud, karena korupsi dan perilaku tidak terpuji dari oknum elit kekuasaan, setidaknya NKRI tetap berdiri sampai sekarang. Tentu, aspirasi masyarakat agar negara bebas dari korupsi, menjadi semakin demokratis dan warganya semakin sejahtera, tetap harus diperjuangan, tanpa memberi ampun pada koruptor.

Sudirta menambahkan, Indonesia lahir dan tumbuh menjadi sebuah negara kesatuan yang berproses setidaknya sejak lama di era Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, serta tonggak-tonggak penting Sumpah Pemuda tahun 1928, perlawanan terhadap kolonialisme, lalu puncaknya pada proklamasi 17 Agustus 1945, dengan Pancasila sebagai dasar negara, paparnya.

Paparan yang disertai tanya jawab itu berlangsung 2 jam dengan penuh semangat. Sudirta memberikan contoh nyata, bagaimana dia dan teman-temannya yang aktif di Gerakan lembaga swadaya masyarakat, mulai di LBH Jakarta dibawah pimpinan Adnan Buyung Nasution, SH, lalu dia mendirikan ormas Pemuda Hindu, berbagai tim kerja untuk advokasi seperti membela Pengungsi Timtim Eks Transmigran Bali mendapatkan tanah untuk tempat tinggal dan tanah Garapan di Desa Sumberkelampok, Buleleng; Tim Advokasi untuk Warga Kerandan-Culik Karangasem yang dimarginalkan oleh kekuatan lokal yang bersandar pada otoritarianisme Orde Baru; lalu mendirikan juga lembaga anti korupsi Bali Corruption Watch, dan sebagainya.

‘’Kami berusaha menjadi aktivis dan berjuang dengan landasan nilai luhur Pancasila itu, kalau dilihat dalam perspektif negara, dan nilai-nilai luhur Hindu dan Bali dalam perspekfit kearifan lokal. Agar tidak berkecil hati dengan situasi yang tidak memuaskan masyarakat, mari kita merenungkan perjuangan para pendiri bangsa, dan memompa semangat untuk terus berjuang seperti perjuangan Pandawa dalam epos Mahabharata,’ paparnya.

Di akhir paparan, para mahasiswa tersebut membentuk ikatan alumni peserta sosialisasi 4 pilar yang disepakati diantara mahasiswa peserta acara tanggal 13 Desember 2025, dengan penasihat; I Nyoman Kenak, SH, Ir. Putu Wirata Dwikora, SH, MH dan I Nyoman Artana, S.Pd, M.Pd. (z/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Manfaatkan Tol Laut, Pastikan Stabilitas Harga Bahan Pokok

Terpopuler

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Faisol Nurofiq Ungkap TPA Suwung Overloaded dan Tengah Penyidikan Kementerian LH

Faisol Nurofiq Ungkap TPA Suwung Overloaded dan Tengah Penyidikan Kementerian LH

DPRD Buleleng Sepakat Tiga Ranperda Inisiatif Dilanjutkan Ke Tahap Pembahasan Berikutnya

DPRD Buleleng Sepakat Tiga Ranperda Inisiatif Dilanjutkan Ke Tahap Pembahasan Berikutnya

Gubernur Koster Dampingi Menteri LH Tinjau TPS3R di Badung, Minta Masyarakat Siapkan Teba Modern Tiap Rumah

Gubernur Koster Dampingi Menteri LH Tinjau TPS3R di Badung, Minta Masyarakat Siapkan Teba Modern Tiap Rumah