Istilah Sansekerta ‘sankranti’ diterjemahkan sebagai ‘perpindahan’ dan digunakan untuk menunjukkan pergerakan matahari dari satu rasi bintang ke rasi bintang berikutnya sepanjang tahun. Nenek moyang kita telah mengetahui seluk-beluk penciptaan, pergerakan matahari dan planet-planet, serta bentuk, ukuran, dan letak berbagai benda langit sejak ribuan tahun yang lalu. Perayaan dua belas sankranti dalam setahun adalah contoh yang tepat.
Namun, apa yang diketahui oleh nenek moyang kita, dan yang kini dilupakan oleh sebagian besar orang, adalah ilmu pengetahuan tentang energi, shakti dari berbagai benda langit dan perubahan pola energi penciptaan ketika benda-benda tersebut mengalami transisi.
Matahari atau Surya adalah shakti yang sangat penting bagi penghuni bumi. Ia merupakan sebuah energi yang menopang kehidupan di planet ini, sesuatu yang tak terbantahkan oleh ilmu pengetahuan modern. Kita semua pernah merasakan betapa cemerlangnya cahaya Matahari, begitu terang hingga mustahil untuk memandangnya dengan mata telanjang. Para resi pada zaman dahulu mengikuti matahari.
Gita menyatakan bahwa seseorang akan menjadi seperti apa yang ia ikuti. Karena itulah para resi bersinar seperti matahari dan memiliki kekuatan yang sebanding dengan matahari. Sebagai contoh, Resi Wiswamitra, yang mengikuti matahari dan kepadanya dikaitkan Mahamantra Gayatri, yang dikenal mampu menciptakan sebuah alam semesta paralel hanya dengan melantunkan mantra tersebut.
Surya adalah devata pengetahuan (gyan), pemilik pengetahuan tak terbatas dan rahasia-rahasia Penciptaan. Ia adalah Guru bagi Bhagwan Hanuman dan leluhur dari wangsa agung Suryavansha, tempat lahir para tokoh besar seperti Manu, Raja Bhagirath, Raja Raghu, dan Bhagwan Ram
Surya ada sebelum agama, dan ia memberikan panas dan cahaya kepada setiap mahluk di bumi tanpa memandang agama, ras, maupun kelahiran mereka. Dengan kata lain, Matahari tidak mengenal agama.
Menariknya, sebuah universitas di Barat pernah merekam suara Matahari dan bunyi yang dipancarkannya adalah suara Om (rekamannya dapat didengar di situs Dhyan Foundation). Bunyi inilah yang kemudian bermanifestasi menjadi beragam warna, yang selanjutnya berproses menjadi lima unsur yang membentuk segala sesuatu dalam ciptaan fisik. Para resi Bharatvarsha menangkap bunyi Penciptaan tersebut dan ribuan tahun silam mereka telah menganugerahkan kepada kita mantra om.
Makar Sankranti memiliki makna khusus di dunia kuno, karena peristiwa ini bertepatan dengan dimulainya pergerakan matahari ke arah utara (uttarayan dalam bahasa Sanskerta). Hal ini bukanlah sekadar takhayul. Para ilmuwan modern menamai garis lintang paling selatan dalam lintasan Matahari sebagai Garis Balik Selatan (Tropic of Capricorn), karena pada titik tersebut Matahari memasuki rasi Capricorn, yang dalam bahasa Sanskerta disebut Makar.
Peristiwa ini menandai awal periode yang dianggap suci, kerena sejak saat itu hari-hari akan menjadi lebih panjang dan lebih terang. Bhishma Pitamah, tokoh dari era Mahabharata, menanti hari ini untuk meninggalkan raganya guna mempermudah pencapaian moksha.
Matahari istimewa bukan hanya bagi Bharatvarsha, tetapi di seluruh penjuru dunia. Hingga saat ini, orang Inggris selalu mengucapkan ‘semoga harimu cerah’ setiap kali mereka saling menyapa.
Bangsa Mesir kuno menyembah matahari sebagai Atum dan Horus, bangsa Mesopotamia sebagai Shamash, bangsa Jerman sebagai Sol, serta bangsa Yunani sebagai Helios dan Apollo. Kekaisaran Romawi juga merayakan kelahiran Matahari yang tak terkalahkan pada titik balik musim dingin (uttarayan), yang pada saat itu bertepatan dengan tanggal 25 Desember.
Seiring dengan pergeseran sumbu bumi, fenomena uttarayan pun bergeser dari makar sankranti, (yakni saat matahari memasuki rasi Capricornus, sekitar tanggal 15 Januari menurut kalender India), ke tanggal 22 Desember, yaitu ketika matahari berada di rasi Dhanu (Sagitarius).
Perubahan-perubahan halus dalam pergerakan matahari dan dampaknya pada berbagai aspek Penciptaan secara rutin diamati dan dialami oleh para surya sadhak di Dhyan Ashram, lalu diterapkan melalui ilmu bunyi atau mantra di bawah bimbingan Guru demi kemaslahatan Penciptaan. Untuk pemula, saya menyarankan praktik sederhana untuk merasakan energi matahari pada hari Makar Sankranti.
Saat matahari terbit, duduk atau berdirilah menghadap ke arah matahari. Berikan penghormatan kepada Guru, lalu arahkan kesadaran Anda ke matahari dengan berfokus pada titik di antara kedua alis. Mulailah dengan melantunkan bunyi ram (panduan pelafalan dapat dilihat di dhyanfoundation.com).
Lanjutkan lantunan sambil mengarahkan kesadaran Anda ke bagian tengah dada dan akhirnya ke titik pusar. Pada saat itu, matahari biasanya sudah tampak di langit pagi dengan cahaya merah muda yang lembut. Di tahap ini, persembahkan air kepada Matahari, lalu pejamkan mata Anda.
Sebarkan energi (prana) matahari yang telah diperoleh ke seluruh tubuh Anda. Setelah beberapa saat, bukalah mata Anda dengan menatap telapak tangan Anda atau area berwarna hijau. Tuliskan pengalaman Anda kepada saya.
Peringatan: Jangan melihat matahari yang terang secara langsung. Berlatihlah di bawah pengawasan. Ashwini Guru ji adalah Cahaya pembimbing Dhyan Ashram dan pakar ilmu-ilmu Weda. Bukunya, ‘Sanatan Kriya: The Ageless Dimension’ adalah kajian tentang anti-penuaan yang telah diakui. Kunjungi www.dhyanfoundation.com atau kirim email ke dhyan@dhyanfoundation.com untuk informasi lebih lanjut.