Banner Bawah

NYEPI: Mahalnya Menghadirkan, Mudahnya Menghilangkan

Admin 2 - atnews

2026-03-08
Bagikan :
Dokumentasi dari - NYEPI: Mahalnya Menghadirkan, Mudahnya Menghilangkan
Gede Pasek Suardika (ist/atnews)

Oleh Gede Pasek Suardika

Sebuah renungan dan tolong dibaca dalam perspektif bagaimana sebuah tempat melahirkan keunikan hingga merawat keunikan itu tidak mudah, sangat mahal dan perlu pengorbanan kolektif. Keunikan apa itu yang dibahas? NYEPI. 

Iya nyepi kali ini bukanlah Nyepi yang dimaknai sebagai sesuatu yang unik langka, mahal dan tiada bisa menyamai dimanapun  dan hanya ada satu di dunia. 

Atas nama toleransi kini keunikannya hilang, atas nama FKUB kelangkaannya hilang. Atas nama menghormati hak asasi sudah tidak ada lagi Nyepi seperti yang dimaknai dunia di tahun ini. 

NYEPI yang unik langka dan satu saatnya di dunia itu kini sudah dimodifikasi atas nama toleransi, keberagaman, penghormatan dan lainnya.

Sekai lagi hanya satu pulau di Bali yang bisa membuat era modern yang penuh gemerlap, tiba - tiba lampu terasa gelap di malam hari, jalanan terasa sunyi sepanjang hari dan tiada aktivitas dalam sehari. Hanya Bali bisa melakukannya. Dan kelebihan ini menjadi buah bibir dunia yang membuat Bali sebagai Pulau yang begitu indah unik dan langka. Akhirnya jutaan orang berbondong bondong ingin melihat keunikan Bali. Sebab masih banyak keunikan Bali lainnya juga setelah mengetahui soal Nyepi. 

Ini bukan soal beragama, tetapi bagaimana momentum tradisi lalu dirawat keunikan langka, dimana dunia diajarkan untuk berhenti sejenak sehari dalam setahun di satu pulau di dunia. Banyak tafsir, renungan keanehan memahami dan disitulah kekuatan tradisi ini bagi dunia modern. Bandara tutup, jalanan kosong, udara bersih, seakan Bali dipilih menjadi refleksi dunia untuk merenung.

Ini bukan soal toleransi antar beragama tetapi bagaimana penghuninya yang beraneka macam suku, ras dan agama mau berikhtiar menjaga keunikan langka ini untuk diwariskan pada generasi baru nantinya. Bali hidup dari keunikan sehingga dibicarakan di manca negara. Apapun suku ras agamanya bisa hidup mencari makan dengan menjual aneka keunikan Bali. Rantai ekonomi bergerak sehat.

Kenapa toleransi tidak diarahkan bagaimana semua beradaptasi menghadapi dan merawat keunikan ini? Kenapa tidak diarahkan bagaimana semua agama bisa beradaptasi bersama merawat keunikan ini. Ini bukan soal persaingan eksistensi agama, karena dibelahan lain tidak ada pulau seperti ini. Ini hanyansoal wawasan memaknai toleransi dan meredam ego demi menjaga kelangkaan tradisi yang terancam punah ini. Jika didekati dengan ego beragama maka tidak akan pernah ketemu.

Sekali lagi, ini bukan sekadar soal saling toleransi agama, karena penterjemahan aneka tirakat dalam Hindu di Bali tidak ada dibelahan negara lain yang juga menganut agama Hindu. Fix dan nyata hanya mampu dijalankan maksimal di pulau yang bernama Bali.

Entah karena tahun hal ini terjadi, kemudian beberapa waktu lalu ada grand design mencoba memindahkan hari raya Nyepi dengan mencari cari alasan ke berbagai literatur dan alunan lontar pembenar? Tetapi karena gagal upaya itu walau sudah kerahkan daya upaya skenario, lalu ditempuhlah kebijakan seperti saat ini. 

Sekali lagi tidak mudah menjaga dan merawat keunikan. Perlu pengorbanan semua pihak yang merasakan hidup makan minum di tanah Bali. Jika hanya mengandalkan ego atas nama toleransi dan keberagaman beragama maka sejatinya hapuskan sudah tradisi Nyepi ala Bali ini. Karena sudah tidak bisa lagi menjual kelangkaan, keunikan dan menggerakkan manusia dunia untuk merenung. Sebab sekarang, Nyepi menjadi sepi disini, tapi berisik disana.

Toleransi yang tidak memahami hakekat dan esensi menjaga pulau ini yang justru digagas oleh pengambil kebijakan yang tidak bernyali. Hanya menang di jargon tapi kalau di mental. Menang dikewenangan tapi tidak bernyali menjaga tradisi.

Sandyakalaning Nyepi di Bali. Ke depan tradisi ini akan hilang karena pulau ini harus bertoleransi yang saat ini terhadap aktivitas agama, lalu menyusul pada penerbangan, toleransi terhadap aktivitas agama lain, toleransi atas hak asasi manusia yang ingin berlibur, berdagang, sekolah, dan beraktivitas lainnya. Akhirnya Nyepi ambyar karena sudah hilang keunikan, kelangkaan dan kelebihannya atas nama toleransi.

Kenusantaraan kita yang beragam untuk dipahami dan dihormati yang sebenarnya menjadi kekuatan Indonesia di masa depan. Kini satu persatu tergilas dan hilang, yang ujungnya nanti negeri ini tidak lagi memiliki keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika terkubur dalam dalam akibat pelaksanaan kata Toleransi yang salah tempat dan makna.

Satu hari yang dulu penuh makna itu akhirnya kini tereduksi menjadi sesuatu yang biasa biasa saja. 

Aaaahhhhh SUdahlahhhh..! (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bawaslu Temukan 93 pelanggaran APK di Bali

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius