Oleh JMA I Ketut Puspa Adnyana
Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri tahun 20126 menjadi pertanda waktu yang istimewa dalam kehidupan spritual bangsa Indonesia. Utamnya terkait dengan khebinekaan yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.
Pada tanggak 19 Maret 2026 umat Hindu melaksanakan Hari Raya Nyepi dalam keheningan total, sementara Umat Islam menyambut Hari Raya Idul Fitri, yang sebagaimana biasa didahului dengan gema Takbir yang menggetarkan langit. Memang nampak berbeda dan kontra, Nyepi---hening total dan Takbir---gema atau SUNYI dan SUARA, bertemu dalam satu ruang dan waktu yang sama. Perisitiwa ini bukan buatan manusia, tetapi kehendak Alam (Kosmologi) yang didasarkan pada perputaran planet di angkasa raya. Pertemuan ini bukan sekedar pertemuan kelander, namun lebih dari momentum reflektif tentang siapa kita sebagai bangsa.
Hening sebagai Jalan ke Dala, Takbir sebagai jalan ke Atas
Nyepi mengajarkan manusia untuk BERHENTI, yang dikenal dengan Catur Brata Penyepian. Umat Hindu, dan diketahui oleh pemeluk agama lain, melakukan hening dengan melakukan pengendalian semua keinginan indrawi. Dari berbagai aktivitas: tidak makan (puasa, amati lelanguan), tidak bepergian/tidak bersenang-senang (amati lelungan), tidak menyalan api (amati geni) dan tidak bekerja (amati karya). Dakam keheningan meditasi, melakukan komtemplasi diri dan samadi manusia menemukan dirinya sendiri. Kemuliaan Tuhan ada pada setiap manusia. Kejahatan iblis juga ada pada manusia. Manusa dewa ya, butha ya. Dalam perayaan Nyepi manusia mengembalikan sifat kedewatan.
Sementara itu, malam takbiran menjelang Idul Fitri merupakan suara memuliakan Allah SWT, dan bersukur karena sudah berhasil dalam melaksanakan puasa sebulan penuh dalam bulan suci Ramadhan. Dengan demikian ia adalah pengakuan akan kebesaran Tuhan dan sekaligus luapan rasa syukur manusia.
Lebih lanjut bila direnungkan secara dalam keduanya ada;aj ja;an menuju penyucian diri. Yang satu: Nyepi---DIAM, dan yang lain Takbiran---SUARA. Yang satu menundukkan ego dalam sunyi, yang lain melarutkan ego dalam pujian kepada Tuhan. Pada titik ini, kita dapat melihat bahwa spiritual tidak tunggal dalam bentuk tetapi satu dalam tujuan.
Moderasi Beragama: Nyepi dan Takbiran
Negara Indonesia tidak dibentuk dari nilai-nilai keseragaman, melainkan dari nilai-nilai keberagaman (kebinikaan) dari sekitar 800 suku bangsa di 17 ribu pulau. Dalam konstek ini moderasi beraga, bukan sekedar slogan tetapi kebutuhan hidup bersama sebagai anak bangsa. Waktu dan ruang, pertemuan Nyepi dan Takbir Idul Fitri dalam kerangka Moderasi Beragama menjadi ujian sekaligus peluang membangun harmoni, kerukunan dan toleransi umat beragama di Indonesia. Bagaimana Umat Islam menghormati Nyepi? Bagaimana Umat Hindu memahami gema takbik sebagai bagian dari ekpresi iman saudara sebangsa se tanah air.
Di Bali, yang 84 % penduduknya menganut Hindu, sering menemui umat Islam menyesuaikan diri dengan suasana Nyepi. Misalnya: tidak menyelakan pengeras suata, tidak melakukan aktivitas yang menganggu ketenangan. Di sisi lain, umat Hindu pun memahami bahwa Idual Fitri adalah monomen sakral bagi umat Islam. Kita menemukan mereka saling menjaga dan menghormati.
Dalam pertemuan---Nyepi dan Idul Fitri inilah menemukan bentuk moderasi beragama, yang paling kongrit: saling menahan diri, saling memahami, dan saling memberi ruang. Sebab moderasi berarti mengurangi keyakinan, tetapi mengelola ekpresi keyakinan agar tidak melaukai yang lain, sebagai anak bangsa yang sama -sama hindup di Indonesia yang berlandarkan UUD1945 dan Panca Sila.
Pertemuan Nyepi-Takbir Idul Fitri: Bingkai Kebangsaan
Bali, bukan saja terkenal karena budayanya yang betimbas pada pariwisata, namun menjadi etalase Indonesia. Apa yang terjadi pada tanggal 19 Maret 2026 adalah miniatur Indonesa, yang berbhinneka. Yang mana seluruh anak bangsa memahami bahwa perbedaaan tidak dimakani sebagai pertentangan dan harus dihapus tetapi diharmoniskan. Harmoni bukan menjadi sama, tetapi setiap perbedaaan menemukan tempatnya secara proporsional. Dalam Harmoni, hening tetap hening, takbir-tetap takbir, namun keduanya tidak saling meniadakan.
Inilah esensi Bhinneka Tunggal Ika; berbeda-beda tetapi tetap satu. Bukan satu karena sama, tetapi satu kerena mampu hidup bersama dalam perbedaaan, sebagaimana sesanti tat Twam Asi dan Vasudhaiva Kutumbhakam.
Pesan untuk Masa Depan
DI tengah dunia yang semakin kompes dan terpolarisasi oleh identitas dan keyakinan, Indonesia memeiliki kekayaan pengalaman yang sangat berharga untuk dibagikan ke dunia, dimana kita bersama hidup. Pertemuan Nyepi dan Takbiran idul Fitri, mengajarkan bahwa:
1. Keheningan tak terisahkan dengan suara sebagai bentuk dualitas yang saling melengkapi;
2. Perbedaaan dapat berjalan tanpa konflik; dan
3. Keyakinan dapat berjalan tanpa menjatuhkan yang lain.
Moderasi beragama pada akhirnya bukan hanya tentang toleransi, tetapi tentang kedewasaan spiritua;. Kedewasaan untuk memahami bahwa Tuhan tidak hanya hadir dengan cara kita sendiri, tetapi juga cara orang lain memuja dan memanggil-Nya.
Penutup
Pertemuan, ruang dan waktu Nyepi dan Takbir Idul Fitri, pada tanggal 19 Maret 2026, Indonesia tidak hanya meraakan dua Hari Suci, tetapi juga merayakan kemanusian itu sendiri. Sudah saatnya Dunia belajar dari Nusantara, bahwa kedamaian itu tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kemampuan untuk merawat perbedaaan dengan hati lapang dan kedewasaanspiritual.
Selamat Hari Raya Nyepi dan Selamat Hari Raya idul Fitri. Mohon maaf Lahir dan Batin.
*) JMA Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, MTP/Perencana Tata Ruang dan Lingkungan/Mantan Widyaiswara Ahli Utama/Alumni UGM.