Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Di April 2026 ini saya kembali ke kota Thaif sesudah Umroh, dan ini berfoto dengan kereta gantung Telefric Al Hada. Wahana ini menghubungkan puncak Pegunungan Al Hada (~2.000 mdpl) dengan Al Kar Tourist Village di lembah, sepanjang 4-4,5 km, selama sekitar 20 menit.
Saya teringat tahun 1991 waktu saya bertugas sebagai Kepala Klinik Kesehatan Haji Indonesia di Mekkah, yang waktu itu namanya Poliklinik Medik Darurat (PMD). Diberi kata "darurat" karena memang secara resmi ketika itu negara-negara tidak boleh buka Klinik "beneran", semua ditanggung pemerintah Saudi Arabia.
Dalam perjalanan waktu maka ijin di perlonggar dan Klinik Kesehatan Haji Indonesia sudah punya peralatan lengkap, ICU dll. Belakangan saya kembali ke Klinik ini sebagai Ketua Pengawasan Pengendalian (Wasdal) Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan di tahun 2013 dan mengawasi semua pelayanan kesehatan Haji di tahun itu.
Saya pertama kali bertugas sebagai dokter Kesehatan Haji pada tahun 1990, ketika terjadi peristiwa menyedihkan di terowongan Mina dengan lebih seribu Jamaah Haji kita yang wafat.
Saya waktu 1991 itu ke Thaif bukanlah berwisata, dan tentu belum ada kereta gantung dan belum ada bangunan bagus dan jalan rapi seperti sekarang. Memang ketika itu Thaif tentunya sudah daerah dingin, dan saya lihat sayuran segar banyak dijual. Waktu 1991 itu saya ke Thaif untuk menengok jemaah haji kita yang mengalami gangguan jiwa dan dirawat di RS Jiwa di Thaif.
"Sedihnya", jamaah iti tidak tahu bahwa dia sedang berhaji, tidak tahu bahwa dia sedang di Saudi Arabia, dan tentu saja bicaranya masih sulit dimengerti. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya nasib pasien jemaah Haji itu ketika itu , mudah2an tertangani baik.
Waktu pulang dari tugas kesehatan Haji tahun 1991 itu saya naik Garuda. Di atas pesawat ada pengumuman, apakah ada dokter di pesawat. Waktu saya jawab iya maka ternyata ada Ibu Hamil di pesawat yang pilotnya khawatir kalau-kalau Ibu itu melahirkan di pesawat, jadi saya diminta siap siap membantu kalau diperlukan.
Awak pesawat kemudian memindahkan duduk saya ke Business Class, mungkin sebagai "reward" karena bersedia siap membantu. Alhamdulillah Ibu ini baik-baik saja sampai Jakarta, dan Alhamdulillah saya jadi terbang di Business Class Garuda...
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University. Dari kota Thaif, Saudi Arabia