Oleh Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR.
Di sebuah senja di pelataran Prambanan, seorang pemuda Jawa menatap menara Candi Siwa yang menjulang, sementara jauh di India menara ramping Kandariya Mahadeva di Khajuraho berdiri dengan keheningan yang serupa, seakan keduanya adalah dua bait dari satu mantra yang sama.
Di balik batu-batu itu bergaung ajaran Trimurti dan Siwaisme, pola mandala, serta kosmologi Meru yang dirumuskan dalam Wastuśāstra dan Silpaśāstra, diterjemahkan ke dalam bahasa arsitektur yang di Jawa terasa lebih lembut dan agraris, sementara di India lebih padat dan penuh figur.
Relief Ramayana di Prambanan dan kisah-kisah suci di dinding kuil India menjadikan keduanya bagai kitab terbuka, tempat doa, sejarah, dan estetika dipahatkan bersama.
Berabad-abad kemudian, ketika peziarah Nusantara menapak jalur “From Prambanan to India’s Sacred Temples” dan wisatawan India datang untuk “Discover India’s Sacred Architecture in Java”, jembatan lama itu hidup kembali sebagai perjalanan spiritual; bukan sekadar wisata foto, melainkan ziarah batin yang menegaskan bahwa Hindu Nusantara adalah bagian kreatif dari jejaring besar peradaban Hindu dunia.
Hubungan budaya antara daratan India dan Tanah Jawa tercermin sangat jelas dalam kemiripan arsitektur dan ikonografi keagamaan antara Candi Prambanan dan berbagai kompleks kuil Hindu di India. Kesamaan-kesamaan ini tidak hanya menyentuh aspek bentuk fisik bangunan, tetapi juga konsep kosmologi, sistem simbol, hingga tradisi sastra keagamaan yang melatari pembangunannya.
Candi Prambanan, sebagai salah satu mahakarya arsitektur Hindu di Asia Tenggara, sering dibandingkan dengan kompleks Candi Khajuraho di Madhya Pradesh khususnya Candi Kandariya Mahadeva serta dengan kuil-kuil Hindu bergaya Dravida di India Selatan dan kuil-kuil bergaya Nagara di India Utara. Perbandingan ini menunjukkan bahwa arsitektur keagamaan Hindu di Jawa tidak lahir dalam ruang hampa, tetapi merupakan hasil dialog panjang dengan tradisi keagamaan dan arsitektur India yang lebih dahulu matang.
Salah satu titik temu paling mendasar adalah orientasi keagamaan keduanya yang samasama bersifat Trimurti atau Siwais. Candi Prambanan dipersembahkan kepada Trimurti Siwa, Wisnu, dan Brahma dengan penekanan khusus pada Siwa sebagai dewa utama, yang termanifestasi dalam keberadaan candi Siwa sebagai bangunan tertinggi dan tersakral di kompleks tersebut.
Pola ini sejalan dengan banyak kuil Hindu di India, seperti Kandariya Mahadeva di Khajuraho, yang juga didedikasikan kepada Siwa atau dewa-dewa utama dalam panteon Hindu. Kesamaan orientasi teologis ini menandakan adanya penerimaan dan pengolahan ajaran Hindu dari India oleh elite dan masyarakat Jawa kuno, sekaligus memperlihatkan bagaimana gagasan keagamaan lintas samudra diterjemahkan ke dalam bentuk arsitektur monumental.
Kedekatan budaya India–Jawa juga tercermin pada penggunaan sumber teori arsitektur yang sama, yakni Wastuśāstra dan Silpaśāstra. Arsitektur Prambanan mengikuti prinsip-prinsip yang diatur dalam teks-teks tersebut, antara lain pembagian zona dan bagian vertikal bangunan candi yang selaras dengan struktur kosmos menurut pandangan Hindu.
Prinsip serupa digunakan dalam perancangan kuil-kuil di India, baik yang bergaya Nagara di India Utara maupun Dravida di India Selatan. Pola pembagian tubuh bangunan, mulai dari bagian dasar, tubuh, hingga puncak (yang dalam terminologi India dapat dipahami sebagai upapitha stambha sikhara stupi dan variannya), menunjukkan keselarasan konsep yang kuat.
Hal ini mengindikasikan bahwa para perancang candi di Jawa memahami dan mengadaptasi kaidah-kaidah arsitektur sakral India ke dalam konteks lokal, sehingga terbangun sebuah sintesis yang sekaligus Indiawi dan Jawa.
Kesamaan lain yang sangat signifikan adalah penggunaan denah mandala dan kosmologi Gunung Meru sebagai struktur ide yang mengorganisasi ruang. Candi Prambanan dirancang dengan denah yang memosisikan candi utama di pusat sebagai representasi Gunung Mahameru, tempat para dewa bersemayam, sementara candi-candi lain tersusun hierarkis mengelilinginya.
Konsep ini sejalan dengan rancangan mandir di India, di mana garbhagriha ruang suci terdalam dipahami sebagai puncak Meru simbolik di pusat jagat raya miniatur. Dengan demikian, baik Prambanan maupun kuil-kuil India berfungsi sebagai model kosmos, ruang ritual yang memungkinkan manusia menjembatani dunia fana dan dunia ilahi. Di sini terlihat bahwa hubungan budaya India–Jawa bukan sekadar transfer bentuk, tetapi juga adopsi dan reinterpretasi pandangan dunia.
Pada tataran bentuk fisik, Prambanan dan banyak kuil India menampilkan massa bangunan berupa menara tinggi bertingkat yang menekankan gerak vertikal ke langit. Candi Siwa di Prambanan yang menjulang sekitar 47 meter dengan atap bertingkat mengerucut menunjukkan afinitas visual dengan shikhara ramping Kuil Nagara seperti Kandariya Mahadeva di Khajuraho, maupun dengan vimana piramidal bertingkat dalam tradisi Dravida di India Selatan.
Kajian arsitektur menunjukkan adanya kemiripan jelas antara bentuk dasar candi Jawa era Mataram, termasuk Prambanan, dengan kuil-kuil Dravida: denah persegi dengan tambahan pada sisi pintu masuk, kepala candi yang disusun bertingkat, dan penekanan pada siluet vertikal. Ini menjadi bukti bahwa inspirasi India tidak sekadar diadopsi, tetapi diproses menjadi gaya Jawa yang khas.
Selain itu, baik Prambanan maupun kompleks Khajuraho samasama dibangun sebagai kompleks multi-candi di atas pelataran tinggi. Prambanan memiliki tiga pelataran dengan candi utama Trimurti di pelataran dalam, dikelilingi ratusan candi perwara yang tersusun simetris.
Pola serupa tampak pada kompleks Khajuraho dan berbagai kompleks kuil di India, di mana sebuah kuil utama berdiri pada platform/podium, disertai kuil-kuil pendamping yang mengitarinya. Penataan ruang ini bukan hanya menunjukkan kemiripan teknis, tetapi juga kesamaan cara memvisualkan hirarki sakralitas dan struktur sosial-keagamaan di lingkungan candi.
Dimensi sastra dan ikonografi menutup lingkaran hubungan budaya India–Jawa. Dinding Candi Prambanan dipenuhi relief naratif yang mengisahkan epos Ramayana dan Krishnayana, dua karya sastra yang jelas berakar dari tradisi India. Tradisi serupa terlihat di Khajuraho dan banyak kuil India lain yang memahat kisah dewa, makhluk surgawi, penari, musisi, hingga adegan erotik yang dikaitkan dengan Kamasutra.
Batu candi di kedua kawasan ini berperan sebagai “teks” yang memvisualkan ajaran, kosmologi, dan etika Hindu. Di tingkat global, Prambanan dan Monumen Khajuraho kini sama-sama diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dan menjadi pusat ziarah sekaligus destinasi wisata budaya, yang memperkuat pemahaman bahwa jejaring budaya India–Jawa telah melahirkan warisan arsitektur yang bukan hanya penting secara lokal, tetapi juga bernilai universal.
Melalui kesamaan konsep kosmologi, panduan arsitektur suci, pola denah, bentuk vertikal, komposisi kompleks, serta tradisi relief naratif epik India, tampak jelas bahwa Candi Prambanan adalah wujud adaptasi kreatif Jawa atas tipologi kuil Hindu dari India Utara dan Selatan, dan sekaligus menjadi bukti kuat adanya hubungan budaya yang erat dan berlapis antara kedua kawasan tersebut sejak masa lampau.
Kesamaan antara Candi Prambanan dan berbagai kuil Hindu di India baik dari segi kosmologi, tata ruang mandala, arsitektur menara bertingkat, maupun relief naratif epos India membuka implikasi sangat strategis dalam konteks kekinian, terutama untuk pengembangan paket wisata spiritual yang terintegrasi, baik outbound (Jama Nusantara ke India) maupun inbound (peziarah / pelancong India dan mancanegara ke Indonesia).
Keserupaan bentuk, konsep Trimurti/Siwais, serta rujukan bersama pada Wastuśāstra dan epik Ramayana Krishnayana memungkinkan dikonstruksinya “jembatan naratif” yang menghubungkan daratan India dan Tanah Jawa sebagai satu lanskap peradaban Hindu maritim yang berkelanjutan. Dalam konteks industri pariwisata modern, ini dapat diwujudkan menjadi produk wisata spiritual lintas negara yang tidak hanya menjual objek fisik, tetapi juga perjalanan batin, pembelajaran sejarah, dan dialog budaya kontemporer.
Dalam ranah outbound, kesamaan Prambanan dengan Khajuraho, kuil Dravida di India Selatan, dan kuil Nagara di India Utara dapat dikemas menjadi paket “Spiritual Journey: From Prambanan to India’s Sacred Temples”. Jawa dan wisatawan Hindu Nusantara dapat memulai perjalanan dengan sesi orientasi di Yogyakarta–Jawa Tengah: meditasi, pemaparan kosmologi Gunung Meru, pembacaan ringkas Ramayana di kawasan Prambanan, serta pengenalan prinsip Wastuśāstra sebagaimana termanifestasi di candi Jawa.
Tahap berikutnya dilanjutkan ke India dengan kunjungan terkurasi ke Khajuraho, kuil-kuil Dravida, dan kuil Nagara yang relevan, disertai pendalaman tentang bagaimana konsep yang sama diekspresikan secara visual dan ritual di sana. Dengan demikian, wisata outbound tidak sekadar menjadi “tour foto”, tetapi sebuah ziarah intelektual–spiritual yang menguatkan identitas Hindu Nusantara sekaligus memperdalam pemahaman atas akar-akar India-nya.
Sebaliknya, untuk inbound, kedekatan ide dan bentuk antara Prambanan dan kuil-kuil India dapat diposisikan sebagai selling point untuk menarik wisatawan India serta komunitas Hindu global. Narasi yang bisa ditawarkan adalah: “Discover India’s Sacred Architecture in Java”, yakni mengundang wisatawan untuk melihat bagaimana ajaran dan arsitektur Hindu India bertransformasi dalam konteks lokal Jawa.
Paket bisa menggabungkan kunjungan ke Prambanan, candi-candi Hindu lain di Jawa, sesi diskusi dengan pemuka agama dan budayawan Hindu Nusantara, serta pertunjukan Ramayana Ballet sebagai bentuk “hidupnya” tradisi epik India di Jawa masa kini. Pendekatan ini akan membedakan Indonesia dari destinasi lain, karena menghadirkan pengalaman spiritual yang akulturatif—India, tapi juga Jawa; Hindu, tapi mengakar dalam budaya Nusantara.
Implikasi lainnya adalah peluang pengembangan tematik “Jejak Kosmologi Meru” atau “Mandala Maritime Civilization” sebagai brand kawasan, yang mengaitkan situs-situs Hindu Nusantara (Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan) dengan jejaring spiritual dan intelektual India. Hal ini sejalan dengan tren global pariwisata yang semakin mencari kedalaman makna, bukan sekadar konsumsi visual.
Wisata spiritual berbasis kesamaan Prambanan–India juga dapat menjadi kanal diplomasi budaya yang halus, memperkuat hubungan people-to-people Indonesia–India melalui pengalaman bersama di ruang sakral.
Berdasarkan implikasi tersebut, ada beberapa saran bagi para stakeholder pariwisata Indonesia, khususnya warga Hindu Nusantara.
Pertama, pemerintah pusat dan daerah (terutama DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Bali) bersama pelaku usaha perjalanan perlu secara sadar merancang paket wisata spiritual bertema India–Jawa yang kuratif, bukan hanya menambahkan label “spiritual” pada paket konvensional. Diperlukan kurator konten (akademisi, pemuka agama, budayawan) yang mampu menjahit kesamaan kosmologi, arsitektur, dan narasi epik menjadi storyline yang utuh dan mudah dipahami berbagai segmen wisatawan.
Kedua, komunitas dan organisasi Hindu Nusantara dapat memposisikan diri sebagai mitra pengetahuan dan pengelola ritual, misalnya dengan menyediakan panduan rohani, sesi dharma talk, atau program retret singkat yang memanfaatkan ruang candi sebagai laboratorium spiritual sekaligus kultural.
Ketiga, penting membangun standar etika wisata spiritual di kawasan candi: tata busana, perilaku, dokumentasi, dan penggunaan ruang agar kesakralan terjaga sembari tetap inklusif bagi wisatawan non-Hindu. Ini bisa diformalkan dalam pedoman bersama antara pengelola situs, Parisada/organisasi Hindu, serta pelaku tur.
Keempat, di tingkat promosi internasional, Indonesia perlu lebih eksplisit menonjolkan narasi “shared Hindu heritage with India”, tanpa mengaburkan identitas lokal Jawa–Nusantara; hal ini dapat meningkatkan daya tarik di pasar India dan komunitas diaspora Hindu dunia.
Terakhir, bagi warga Hindu Nusantara sendiri, kesamaan Prambanan dan kuil-kuil India hendaknya dimaknai bukan sebagai subordinasi, tetapi sebagai kesempatan untuk menegaskan bahwa Hindu di Nusantara adalah bagian dari jejaring besar peradaban Hindu dunia, dengan kontribusi unik dalam bentuk adaptasi kreatif, toleransi, dan dialog budaya yang panjang.
*) Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR. Guru Besar Bidang Manajemen Bisnis Pariwisata Rektor Universitas Dhyana Pura, Bali.