Denpasar (Atnews) Metode pembelajaran inovatif GASING (Gampang, Asyik, Menyenangkan) yang dikembangkan oleh Prof. Yohanes Surya, diproyeksikan masuk ke Bali guna membantu upaya peningkatan SDM, mengatasi persoalan kriris mental sampai penanganan isu bunuh diri yang tinggi di Bali. Rabu (15/4)
Metode ini dinilai tidak hanya mampu meningkatkan kemampuan akademik, khususnya matematika, tetapi juga berpotensi menjadi pendekatan alternatif dalam merespons meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan generasi muda.
Metode ini, bukan sekedar belajar tetapi menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi generasi muda dewasa ini.
Demikian terungkap dalam pertemuan strategis melalui zoom meeting antara Prof. Yohanes Surya dan Dr. Ni Kadek Surpi (Dosen, peneliti, Pimpinan Dharma Literary Festival), Jero Jemiwi (Direktur Bali Coaching Institute, Dosen, Peneliti, penggiat Kesehatan mental di Bali).
Rencana ini mengemuka dari rasa peduli Dr. Surpi dan Jero Jemiwi atas kondisi Bali hari ini, atas kasus bunuh diri, krisis mental sampai pada sampah emosi yang dirasakan semakin mengkhawatirkan. Dalam diskusi tersebut, para peserta sepakat bahwa dibutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional dan psikologis siswa.
Prof. Yohanes Surya yang merupakan tokoh sentral bidang Fisika dan Matematika yang telah membuktikan metodenya mampu melatih siswa terpencil Papua berprestasi ditingkat nasional dan internasional ini menyatakan, berbeda dengan metode pembelajaran konvensional, GASING menekankan proses belajar yang menyenangkan dan bebas tekanan.
Pendekatan ini dirancang untuk menghilangkan ketakutan siswa terhadap matematika sekaligus membangun kepercayaan diri sejak tahap awal pembelajaran. Metode ini menggunakan pendekatan multimodal yang membuka enam jalur belajar secara bersamaan, yakni visual, auditori, verbal, kinestetik, emosi, dan sosial. Dengan cara ini, siswa tidak hanya memahami materi secara kognitif, tetapi juga mengalami proses belajar secara menyeluruh.
Pendekatan tersebut terbukti memperkuat daya serap dan memori siswa karena informasi diterima melalui berbagai jalur sekaligus Menariknya, dari proses pembelajaran tersebut, muncul secara alami delapan kompetensi abad 21 (8C), Critical Thinking (Berpikir Kritis), Creativity (Kreativitas), Communication (Komunikasi), Collaboration (Kolaborasi), Computational Logic (Logika Komputasi), Character (Karakter), Culture (Budaya), Compassion (Kasih Sayang). Kompetensi ini bukan diajarkan secara terpisah, melainkan tumbuh sebagai “buah alami” dari desain pembelajaran yang tepat.
Metode GASING juga berpijak pada konsep kecerdasan majemuk, yang meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang beragam. Delapan kecerdasan yang dikembangkan meliputi linguistik, logis-matematis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistik.
Pendekatan ini tidak membatasi siswa pada satu tipe kecerdasan tertentu, melainkan mendorong pengembangan seluruh potensi secara simultan melalui aktivitas belajar yang terintegrasi. Selain berdampak pada peningkatan kemampuan belajar, metode GASING dinilai memiliki relevansi kuat dalam konteks sosial Bali saat ini.
Sejumlah pihak menyoroti meningkatnya tekanan mental yang dialami generasi muda, yang dalam beberapa kasus berujung pada tindakan ekstrem.
Pendekatan GASING yang menekankan rasa aman, kegembiraan, serta pengalaman berhasil sejak awal dinilai mampu membantu mengurangi kecemasan belajar sekaligus berkontribusi pada pemulihan kondisi psikologis siswa.
“Pendidikan tidak bisa lagi hanya berfokus pada nilai, tetapi harus menjadi ruang yang memulihkan dan menguatkan anak,” ujar salah satu peserta diskusi.
Jero Jemiwi yang selama ini dikenal sebagai pemerhati Pendidikan dan bergerak di Selflove Bali menyatakan, apa yang ditawarkan Prof. Yohanes sejalan dengan aspek well-being yang selama ini menjadi basis gerakannya. Kesehatan fisik, Kesehatan psikologis sampai dengan spiritual mampu ditingkatkan dengan metode pembelajaran Gasing ini.
Terlebih sebagaimana disampaikan oleh Prof. Yohanes beliau sudah diundang oleh Pimpinan tertinggi Umat Katolik-Paus ke Vatikan untuk menjadikan metode ini diajarkan di 430.000 sekolah Katolik di dunia. Beliau juga sudah diundang ke berbagai negara karena metode ini dianggap sangat revolusioner.
“ Olehnya, kami berharap Bali tergerak, bersama-sama menyelamatkan generasi muda dari berbagai krisis dan tumbuh menjadi putra-putri Bali yang tidak hanya cerdas tapi bermartabat,” ujar Dosen sekaligus Life Coach ini.
Dr. Surpi yang juga Direktur Dharma Literary Festival-penggerak Literasi di Bali ini menegaskan, diperlukan dharma bhakti dan kerjasama semua pihak demi peningkatan SDM Bali ditengah berbagai himpitan yang sedang dihadapi. Baginya pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi proses membuka potensi manusia secara utuh.
Dengan membuka 6 pintu pembelajaran, mengaktifkan 8 kecerdasan, dan menghasilkan 8 kompetensi masa depan, metode ini menawarkan arah baru bagi transformasi pendidikan Indonesia, dimulai dari Bali.
Terlebih puncak hirarki belajar gasing yakni mencongak menjadi bukti transformasi identitas belajar. Secara mendasar, dari berpikir lambat dan terfragmentasi menuju pemahaman yang cepat, intuitif, dan percaya diri. (Z/002)