Banner Bawah

"Perdagangan Ilegal dan Ancaman Habitat Masih Tinggi, Kolaborasi Didorong untuk Selamatkan Penyu di BLSK"

Admin 2 - atnews

2026-04-21
Bagikan :
Dokumentasi dari - "Perdagangan Ilegal dan Ancaman Habitat Masih Tinggi, Kolaborasi Didorong untuk Selamatkan Penyu di BLSK"
Direktur Yayasan Biodiversitas Indonesia Andrianus Sembiring (ist/atnews)

Buleleng (Atnews) - Upaya perlindungan penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil (BLSK) kembali diperkuat melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Identifikasi dan Pemetaan Lokasi Peneluran serta Titik Perdagangan Penyu di BLSK" berlangsung di Gedung Balingkang Confucius Institute, Universitas Pendidikan Ganesha, pada hari Senen(20/4/2026).

Dalam FGD ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga organisasi konservasi, untuk membahas kondisi terkini sekaligus merumuskan langkah strategis penyelamatan penyu di kawasan tersebut.

Kepada awak media, Direktur Yayasan Biodiversitas Indonesia (BIONESIA) Andrianus Sembiring mengatakan, BLSK dikenal sebagai kawasan dengan nilai ekologis tinggi yang menjadi habitat penting bagi penyu, baik sebagai lokasi peneluran, daerah mencari makan (foraging ground), maupun jalur migrasi yang terhubung dengan arus Indonesian Throughflow. Namun, tekanan terhadap populasi penyu masih terus terjadi.

“Ancaman utama yang dihadapi antara lain perdagangan ilegal produk penyu, eksploitasi telur di lokasi peneluran, serta tangkapan sampingan dari aktivitas perikanan. Di sisi lain, keterbatasan data ilmiah terkait distribusi populasi dan aspek genetik penyu menjadi tantangan dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti,” ujarnya.

Melalui diskusi ini, para peserta akan mengidentifikasi lokasi-lokasi penting peneluran penyu, memetakan jalur perdagangan ilegal, serta menyusun rekomendasi awal berbasis data sebagai dasar penguatan strategi konservasi ke depan.

Menurut Andrianus Sembiring, kegiatan yang dilakukan merupakan kolaborasi antara Yayasan Biodiversitas Indonesia (BIONESIA), Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Mataram, Universitas Nusa Cendana, WWF Indonesia, Nautika Foundation, Thrive Conservation dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dengan dukungan dari program Tropical Forest and Coral Reefs Conservation Act (TFCCA).

Diharapkan, hasil dari FGD ini dapat menjadi pijakan awal dalam memperkuat kebijakan dan aksi lapangan untuk melindungi penyu secara berkelanjutan, khususnya di kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang memiliki peran strategis secara ekologis" (WAN/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Musisi Gus Teja Ikuti Tradisi "Siat Api" Penetral Kekuatan Negarif

Terpopuler

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Makan Siang, De Gadjah - Koster Bahas Sampah, PSEL hingga Sekolah Rakyat

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Penutupan Festasada 2026, Tunjukkan Kolaborasi Seni Budaya Kearifan Lokal

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Dharma Santi Nasional 2026; Hindu Indonesia Gaungkan 'Vasudhaiva Kutumbakam', Perkuat Harmoni Bangsa dan Umat Manusia

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti

Pasca Kasus Dugaan Kekerasan Anak Panti Asuhan Ganesha Sevanam, Pemkab Buleleng Akan Merelokasi Anak Panti