Banner Bawah

Desa Adat Banyuasri Jajaki Konservasi Tukik dan Ekowisata Bahari

Admin 2 - atnews

2026-05-04
Bagikan :
Dokumentasi dari - Desa Adat Banyuasri Jajaki Konservasi Tukik dan Ekowisata Bahari
Kawasan Pantai disepanjang pantai Banyuasri (ist/atnews)

Buleleng (Atnews) - Rencana pengembangan destinasi pariwisata berbasis pelestarian lingkungan di kawasan Pantai Banyuasri, meliputi Pantai Pidada, Pantai Camplung, dan Pantai Indah, Desa Adat Banyuasri, mendapat sambutan positif dari berbagai pihak.

Kawasan pesisir ini dikenal sebagai jalur hilir mudik penyu hijau, sehingga dinilai potensial dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari berbasis konservasi, salah satunya melalui pelestarian tukik (anak penyu). 

Pegiat konservasi, Adhy Simatupang, turut menawarkan konsep pengembangan konservasi tukik di bawah naungan desa adat.

Gagasan tersebut disampaikan dalam pertemuan awal bersama prajuru Desa Adat Banyuasri yang digelar di Pantai Camplung, Sabtu (2/5/2026). 

Dalam pemaparannya, Adhy menilai pesisir Buleleng memiliki potensi ekosistem laut yang besar, termasuk sebagai habitat alami penyu untuk bertelur.

Ia menekankan pentingnya diversifikasi ikon wisata bahari di Kabupaten Buleleng. Menurutnya, ketergantungan pada satu daya tarik seperti wisata lumba-lumba berisiko menurun di masa depan, sehingga diperlukan alternatif wisata berkelanjutan berbasis konservasi.

"Jika dikelola dengan baik, ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga menjaga warisan alam bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh adat Desa Banyuasri, Made Agus Parthama, menyebut selain konservasi tukik, kawasan pesisir juga berpotensi dikembangkan sebagai ekowisata bahari. Potensi tersebut meliputi wisata memancing, kano, berenang, dolphin seeing, hingga wisata religi di Pura Segara dan Pura Taman Alit. 

Selain itu, pengembangan wisata kuliner serta pembangunan jogging track dengan panorama pantai dan persawahan juga dinilai menjanjikan.
Ia menambahkan, hingga kini belum terdapat pengelolaan konservasi tukik yang terstruktur dan berbasis komunitas adat di wilayah tersebut. Padahal, kawasan Pantai Camplung memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai pusat pelestarian tukik.

Kelian Desa Adat Banyuasri, Mangku Nyoman Widiasa, menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Didampingi perangkat desa, ia menilai program ini sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat adat.

“Saya menyambut baik program ini selama tidak mengganggu keseimbangan lingkungan dan mampu memberikan nilai tambah bagi desa adat,” ujarnya.
Ia menegaskan, rencana pengembangan ini akan dibahas lebih lanjut dalam paruman desa adat guna memperoleh persetujuan krama.

Dengan letaknya yang strategis dalam jalur potensi wisata Buleleng, kawasan Pantai Banyuasri diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi baru yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara ekologis. (WAN/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Turis Tiongkok Berkurang ke Bali pada Imlek 2019

Terpopuler

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Wali Kota Denpasar Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Bale Kulkul Banjar Panti Gede, Pemecutan Kaja

Wali Kota Denpasar Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Bale Kulkul Banjar Panti Gede, Pemecutan Kaja

Kuliner Pilihan, KEK Kura Kura Bali Gelar Kembali Island Bazaar Edisi Kedua

Kuliner Pilihan, KEK Kura Kura Bali Gelar Kembali Island Bazaar Edisi Kedua

May Day 2026: Komitmen Negara Melindungi Pekerja Hingga ke Tengah Lautan

May Day 2026: Komitmen Negara Melindungi Pekerja Hingga ke Tengah Lautan