Bedugul (Atnews) - Siang itu, jalan Bedugul menuju Singaraja terasa berbeda. Bukan karena sepi, melainkan karena semua yang melintas seolah menahan diri.
Di sisi jalan, seorang tua berjalan pelan, mebanten. Di kejauhan, relawan anonim menunduk, hening, membawa pesan damai dan menyerahkan bingkisan kepada sang nenek sepuh. Itu terjadi sesaat usai pelepasan rombongan biksu peserta Indonesia Walk for Peace 2026.
Itulah berbagi. Bukan tentang siapa yang di depan, melainkan memberi ruang bagi yang berjalan dalam hening.
Dilepas Wakil Bupati Tabanan
Pelepasan rombongan biksu dilakukan di kawasan Bedugul, Jum'at 8/5/2026. Wakil Bupati Tabanan periode 2025–2030, I Made Dirga, S.Sos. hadir melepas langsung para peserta yang akan berjalan kaki menuju Singaraja, dan selanjutnya ke Candi Borobudur.
Dalam sambutan tertulis Bupati Tabanan yang dibacakan Wakil Bupati, disampaikan apresiasi atas inisiatif IWFP 2026. “Kegiatan ini sejalan dengan semangat Hari Kebangkitan Nasional: bangkit bersama untuk damai. Tabanan bangga menjadi titik awal langkah suci ini,” kata I Made Dirga.
Turut hadir Bagus Ngurah Rai, Koordinator Gugus Kebangsaan Provinsi Bali. Ia memberikan apresiasi dan doa agar kegiatan berjalan lancar. “Semoga setiap langkah para biksu menjadi doa untuk Indonesia. Semoga kita semua belajar memberi jalan untuk yang lebih utama,” ujarnya.
Tiba di Bali, Disambut Bandara I Gusti Ngurah Rai
Rombongan biksu IWFP 2026 tiba di Bali pada Kamis malam 7/5/2026. Kedatangan mereka di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai disambut langsung oleh General Manager Bandara Ngurah Rai. Dari bandara, rombongan bermalam di Denpasar sebelum memulai perjalanan darat dari Bedugul keesokan harinya.
Indonesia Walk for Peace 2026 diikuti puluhan biksu dari Thailand, Myanmar, Malaysia, Kamboja, dan Indonesia. Mereka berjalan kaki ribuan kilometer. Start dari Bali awal Mei 2026, finish di Candi Borobudur pada 31 Mei, bertepatan dengan Hari Waisak 2569 BE.
“Di balik keindahan Bedugul, ada kaki-kaki yang melepuh. Di balik doa yang hening, ada harapan dunia yang lelah perang,” kata Romo Sin, salah satu panitia IWFP 2026.
Berbagi Jalan, Berbagi Makna
“Kalau dulu Hari Kebangkitan Nasional 1908 kita bangkit melawan penjajah, hari ini kita bangkit melawan ego,” tutur Bagus Ngurah Rai.
Tema Harkitnas ke-118 tahun 2026, “Bangkit Bersama: Merawat Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai 1945 untuk Indonesia Emas”, menemukan wujudnya di jalanan. Tidak ada seragam yang sama. Ada jubah biksu, ada kebaya orang tua mebanten, ada rompi relawan. Namun semuanya sepakat: damai lebih penting dari kecepatan.
“a lifetime you better.”
Bagi Ngurah Rai, 69 tahun, momen pelepasan biksu adalah tafsir dari “a lifetime you better.”
“Seumur hidup ini pendek. You better berbagi. You better mengalah untuk yang lebih utama. Pahlawan sejati tidak banyak bicara. Ia cukup menepi, memberi jalan, lalu melanjutkan hidup dengan damai,” ucapnya.
Indonesia Walk for Peace 2026 akan terus bergerak. Melewati Gilimanuk, Banyuwangi, Solo, hingga Magelang. Sebab damai, seperti kata para biksu, tidak butuh suara keras. Damai butuh ruang (KRS/002)