Denpasar (Atnews) - Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali Agung Bagus Pratiksa Linggih dikenal Ajus Linggih menyambut baik usulan Pemerintah Pusat menjadikan Bali sebagai International Financial Center (IFC) atau pusat keuangan internasional.
Namun pihaknya menyayangkan rencana lokasinya di kawasan ekonomi khusus (KEK) Kura Kura Bali.
"Saya menerima baik usulan pusat keuangan internasional di Bali. Tapi, saya menyayangkan rencana lokasinya," kata Ajus Linggih yang juga Ketua HIPMI Bali di Denpasar, Sabtu (16/5).
Sebelumnya, KEK Kura Kura Bali menerima kunjungan strategis Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Dewan Nasional KEK, Airlangga Hartarto, bersama Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO BPI Danantara Rosan Roeslani, serta COO BPI Danantara Dony Oskaria pada Jumat (1/5).
Peninjauan para menteri tersebut merupakan kelanjutan dari arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pembentukan Special Financial Center (pusat keuangan khusus) di Bali, yang mengacu pada model Dubai International Financial Centre (DIFC), dengan tujuan menarik arus investasi ke Indonesia.
Di tengah perubahan lanskap geopolitik global, Bali kini semakin relevan sebagai destinasi bagi modal internasional yang mencari stabilitas dan kepastian hukum.
Dalam kunjungannya, Menko Airlangga meninjau langsung kesiapan KEK Kura Kura Bali sebagai salah satu kawasan potensial untuk lokasi pusat keuangan khusus tersebut.
Menurut Ajus Linggih, seharusnya pemerintah pusat hadir sebagai solusi pemerataan, bukan memperparah ketimpangan.
"Kalau memang ini penting, tunjukkan dengan membangun infrastruktur di daerah yang kurang dan utamakan peningkatan SDM Bali," bebernya.
Jika pembangunan KEK Keuangan di Bali Selatan pihaknya kurang setuju karena masyarakat Bali akan termarjinalkan.
Sementara itu, Pemerhati Perduli Bali I Gusti Viraguna Bagoes Oka mengharapkan Pemerintah Pusat dan Pemda Bali agar memiliki fasilitas standar internasional, baik sistem, infrastruktur dan penanganan masalah lokal Pulau Dewata.
Sebagaimana beberapa IFC menyediakan berbagai layanan keuangan secara global, seperti London, Singapura, Hong Kong, New York, dan Dubai.
Viraguna juga mengungkap tantangan Bali jika dijadikan IFC meniru Dubai atau Singapura. Saat ini, Dubai International Financial Centre (DIFC) telah menjadi pusat keuangan global terkemuka bagi kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan (MEASA).
DIFC juga menjembatani perekonomian antara perusahaan-perusahaan di Asia, Eropa dan Amerika.
Sebagaimana diungkapkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kawasan tersebut akan dirancang sebagai IFC dengan sistem hukum dan insentif khusus guna menarik aliran modal asing ke Indonesia.
Purbaya menyebut kawasan finansial itu akan dibangun di lahan sekitar 100 hektare dengan konsep yang memberikan fleksibilitas bagi investor global untuk menempatkan dananya di Indonesia.
Seharusnya, pemerintah agar menyiapkan sistem seleksi terhadap transaksi keuangan IFC KEK Kura Kura yang jelas dan terukur.
"Sistem itu menjadi panglima utama. Upaya itu agar investasi atau uang masuk bukan berasal dari narkoba (drug), kejatahan hasil korupsi, pencucian uang dan lainnya," kata Viraguna yang juga Mantan Kepala BI Bali dan Ketua ILUNI FISIP Universitas Indonesia (UI) di Denpasar, Rabu (13/5).
Ditegaskan infrastruktur pendukung agar benar-benar memiliki standard dunia seperti Dubai dan Singapore.
Memiliki infrastruktur yang baik teknologi, kantor modern, komunikasi berkualitas tinggi, koneksi penerbangan internasional yang baik, perumahan dan transportasi lokal yang layak, akses ke tenaga kerja terampil.
Dengan fasilitas transportasi, peningkatan infrastruktur dan pelayanan airport (bandara) yang melayani kegiatan selama 24 jam.
Begitu juga soal penanganan macet dan sampah. Dimana saat ini, Bali masih karut-marut dalam menangani sampah yang merusak citra pariwisata dan nilai-nilai luhur peradaban Pulau Dewata.
Jika tantangan itu gagal diantisipasi, khawatir masyarakat lokal terus mengalami tekanan dari pendatang dan orang asing (WNA).
Biaya hidup orang lokal akan meningkat, persaingan semakin kompetitif. Stabilitas keamanan akan memberikan pengaruh besar, disamping pendukung lainnya. (GAB/002)