Ringankan Beban Krama, Desa Adat Ungasan Gelar Upacara Nyawa Wedana Utama- Atma Wedana
Ringankan Beban Krama, Desa Adat Ungasan Gelar Upacara Nyawa Wedana Utama- Atma Wedana
Admin 2 -
atnews
2026-05-19
Bagikan :
Upacara Nyawa Wedana Utama- Atma Wedana (ist/atnews)
Badung (Atnews) - Desa Adat Ungasan, Badung menggelar upacara suci Nyawa Wedana Utama- Atma Wedana (Memukur), Metatah, Nilapati Agung, Ngingkup Agung dipusatkan di Wantilan Nusa Bangsal, Banjar Kelod, Desa Adat Ungasan.
Upacara suci dalam rangka meringankan beban krama, digelar hingga Budha Umanis Julungwangi, 3 Juni 2026 dan dipersiapkan sejak Februari 2026 itu, diawali dengan Upacara Melaspas Pengorong dan Mejaya-Jaya serta Dharmatula oleh Pengrajeg atau Yajamana Karya, Ida Ratu Agung Nabe Wayahan Suta Dharna Jaya Giri, Selasa, 19 Mei 2026.
Rangkaian prosesi pembuka yadnya suci ini dihadiri oleh panitia dan semua penanggung jawab Sawa lan Atma Wedana Desa Adat Ungasan yang terdiri atas 56 sawa ngaben, 135 sawa nyekah, dan 65 peserta metatah massal.
Ketua Panitia Sawa Wedana, Atma Wedana, Metatah, Nilapati Agung, Ngingkup Agung Desa Adat Ungasan, I Made Suada, S.AG., M.Si. didampingi Sekretaris/Penyarikan, I Wayan Suwita mengatakan bahwa karya suci ini melibatkan krama banjar adat di wilayah Desa Adat Ungasan, antara lain Banjar Kauh, Banjar Kertha Lestari, Banjar Santhi Karya, Banjar Werdi Kosala, Banjar Wana Giri, Banjar Sari Karya, Banjar Kangin, Banjar Angga Sari, Banjar Kertha Lestari, Banjar Giri Darma, Banjar Bakung Sari, Banjar Langui, Banjar Cengiling, dan lain-lain.
“Untuk peserta metatah sebanyak 65 orang dan tidak dipungut biaya atau gratis. Untuk ngaben krama dikenakan punia Rp1.500.000 dan nyekah dikenakan punia Rp2.000.000,” ucap I Made Suada.
Sebagai perbandingan, jika digelar secara mandiri, biaya yang lumrah dikeluarkan oleh krama adat setempat bisa menyentuh angka ratusan juta rupiah untuk upacara ngaben bahkan menyentuh angka lebih tinggi jika dibarengi dengan upacara nyekah.
“Pengalaman pribadi, saya menghabiskan biaya Rp300 juta untuk upacara ngaben baru-baru ini. Karena tuntas sampai nyekah habis kurang lebih Rp400 juta rupiah. Upacara yang diinisiasi oleh Desa Adat Ungasan di bawah kepemimpinan Jero Disel Astawa ini mampu menjadi solusi nyata meringankan “beban” krama adat kami,” ucap I Made Suada.
Upacara Sawa Wedana, Atma Wedana, Metatah, Nilapati Agung, Ngingkup Agung ini terakhir digelar Desa Adat Ungasan pada 2017 atau 9 tahun silam.
Ke depan, upacara massal serupa akan diagendakan secara berkala setiap 5 tahun sekali.
“2017 terakhir digelar. Tahun ini, 2026. Selanjutnya akan diagendakan 5 tahun sekali. Berarti berikutnya di tahun 2031. Anggaran upacara ini sebesar Rp5 miliar murni dari Desa Adat Ungasan. Ada juga dana punia dari warga dan pengusaha di Desa Ungasan,” jelas I Made Suada.
Menarik diketahui, pada ritual puncak Atma Wedana, Redite Pon Juluwangi, 31 Mei 2026 mendatang, akan dipuput oleh 7 orang sulinggih, yakni Ida Ratu Rsi Agung Nabe Wayahan Suta Dharma Jaya Giri; Ida Peranda Budha; Ida Peranda Kusamba; Ida Pandita Mpu Miyasa Dharma Eka Sari; Ida Bhagawan Magada Prabu Dwijananda; Ida Pedanda Gede Putra Sebali Arimbawa, dan Ida Pandita Mpu Siwa Natha Dharma.
Sementara dalam ritual suci yang rencananya dihadiri Gubernur Bali, Wayan Koster dan Bupati Badung, I Nyoman Adi Arnawa pada Redite, Umanis, Warigadian, 24 Mei 2026, Parikrama Ngaskara, Mapetik, Meras, Pepegat, dan Metapak dipuput 5 sulinggih, yakni Ida Ratu Rsi Agung Nabe Wayahan Suta Dharma Jaya Giri; Ida Peranda Budha; Ida Peranda Kusamba; Ida Pandita Mpu Miyasa Dharma Eka Sari; dan Ida Bhagawan Magada Prabu Dwijananda.
“Karya suci ini digelar atas aspirasi warga adat. Selain krama dari banjar adat di wewidangan Desa Adat Ungasan, turut serta sejumlah warga Tuban, Jimbaran, dan Kedonganan yang Pura Paibonnya berlokasi di Desa Adat Ungasan,” tutup I Made Suada.(z/002)