Peringati 50 tahun pengabdian 1964–2014, berdiri di Kawasan Monumen Perjuangan Bangsal Kuta Utara
Di tengah hiruk-pikuk kawasan Kuta Utara, berdiri sebuah monumen yang menyimpan jejak panjang pengabdian mahasiswa Bali kepada bangsa dan negara. Monumen itu adalah Monumen Resimen Mahasiswa (Menwa) Ugrasena yang berada di Kawasan Monumen Perjuangan Bangsal, Jalan Raya Padang Luwih, Pertigaan Gaji, Dalung, Sempidi, Badung.
Bagi sebagian orang, monumen itu mungkin hanya bangunan biasa. Namun bagi keluarga besar Menwa Bali, monumen tersebut adalah simbol sumpah pengabdian, disiplin, dan semangat bela negara yang diwariskan lintas generasi sejak 1964.
Nama Ugrasena sendiri bukan sekadar sandi organisasi. Nama itu diambil dari nama seorang raja di Bali yang dikenal arif dan berwibawa. Nama tersebut diberikan langsung oleh Rektor Universitas Udayana, Prof. Ida Bagus Mantra, saat Menwa Ugrasena lahir di Bali pada 29 September 1964. Sementara Wayan Bawa tercatat sebagai komandan pertama Menwa Ugrasena.
Semangat itulah yang terus dijaga hingga kini. Monumen Menwa Ugrasena dibangun sebagai penanda peringatan 50 tahun pengabdian Menwa kepada nusa dan bangsa, dari 1964 hingga 2014. Setengah abad perjalanan itu menjadi saksi bagaimana mahasiswa tidak hanya hadir di ruang akademik, tetapi juga berdiri di garis pengabdian ketika negara memanggil.
“Monumen ini tonggak. Bahwa Menwa Ugrasena sudah 50 tahun hadir. Dari 1964 sampai 2014, dan akan terus sampai kapan pun,” ujar Bagus Ngurah Rai, Ketua Korps Menwa Indonesia Provinsi Bali periode 2015–2025.
Ia menyampaikan hal tersebut didampingi Sekretaris Made Dharma Putra dan Ketua BPO Korps Sukawan Andika.
Menurut Bagus Ngurah Rai, pembangunan monumen tersebut merupakan salah satu program hasil Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Menwa Ugrasena Bali yang dilaksanakan di Makorem 163/Wira Satya Denpasar pada Sabtu, 4 April 2015. Rakerda itu menjadi momentum konsolidasi organisasi pasca peringatan 50 tahun Menwa Ugrasena.
Selain membahas pembangunan monumen, forum tersebut juga merumuskan penguatan kaderisasi dan semangat bela negara di lingkungan kampus.
Dalam perjalanan Menwa, ada satu kalimat yang hingga kini terus diingat para anggota: “Mahasiswa boleh lulus, Menwa tidak pernah pensiun.” Kalimat itu pertama kali disampaikan Budiono, Ketua Umum Korps Menwa Indonesia, saat melantik Bagus Ngurah Rai sebagai Ketua Korps Menwa Indonesia Provinsi Bali yang disaksikan langsung Pangdam IX/Udayana beserta jajaran.
Kalimat tersebut kemudian menjadi roh yang melekat pada Monumen Menwa Ugrasena. Sebuah penegasan bahwa meskipun masa kuliah berakhir, semangat bela negara tidak pernah selesai.
“Menwa bukan organisasi ekstra kampus biasa. Kami dididik disiplin militer, tapi jiwa kami sipil. Tugas kami menjembatani kampus dan barak, buku dan senjata, pena dan peluru,” tegas Bagus Ngurah Rai.
Keberadaan Monumen Menwa Ugrasena yang menyatu dengan Kawasan Monumen Perjuangan Bangsal juga memiliki makna tersendiri. Di kawasan itu, nama-nama pejuang Bali diabadikan sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Kehadiran monumen Menwa menegaskan bahwa mahasiswa juga menjadi bagian dari mata rantai perjuangan tersebut.
Setiap tanggal 29 September, kawasan Pertigaan Gaji Dalung selalu menjadi titik berkumpul keluarga besar Menwa Ugrasena dalam peringatan hari ulang tahun organisasi. Baret ungu, pakaian dinas lapangan, dan Sang Saka Merah Putih kembali berdiri tegak menghadap monumen, mengulang sumpah pengabdian kepada bangsa dan negara.
Bagi Menwa Ugrasena, menjaga sejarah berarti menjaga api perjuangan agar tidak padam. Sebab ketika ingatan hilang, sejarah perlahan dilupakan. Dan Menwa Ugrasena memilih untuk terus menjaga bara itu tetap menyala, dari generasi ke generasi.
*) Krisna Andika, Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Udayana