Denpasar (Atnews) - PT Satria Trans Jaya (STJ) selaku operator Trans Metro Dewata (TMD) menyerahkan program Corporate Social Responsibility (CSR) Dinas Perhubungan (Dishub) Bali berupa fasilitas penunjang berupa rambu penanda halte.
Upaya itu dalam penguatan layanan transportasi publik Trans Metro Dewata (TMD) melalui penambahan rambu penanda halte. Serah terima rambu dilakukan di depan Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Jumat (22/5).
Rambu-rambu tersebut dipasang di sejumlah titik pemberhentian bus untuk memperjelas lokasi naik dan turun penumpang sekaligus menertibkan area halte agar tidak disalahgunakan sebagai lahan parkir.
Sementara itu, Kadishub Bali I Kadek Mudarta, mengatakan pemasangan rambu penting untuk memperjelas titik pemberhentian bus Trans Metro Dewata, baik bagi penumpang maupun pengguna jalan lainnya. Kata dia, rambu tersebut menjadi penanda agar masyarakat mengetahui lokasi menunggu bus, sekaligus memastikan area tersebut tidak digunakan untuk parkir kendaraan.
“Ini menjadi penanda bagi penumpang untuk menunggu bus yang akan datang. Dan juga bagi pengendara lain untuk mengetahui bahwa di sini adalah tempat pemberhentian bus TMD, sehingga jalan ini tidak dipakai untuk parkir,” kata Mudarta ditemui di lokasi.
Ia menjelaskan, bus TMD selama ini sudah berhenti di sejumlah titik seperti di kawasan Lapangan Puputan Margarana dan di depan Kantor Gubernur Bali, namun belum seluruhnya dilengkapi penanda resmi.
Melalui bantuan CSR PT Satria Trans Jaya, saat ini telah dipasang 13 rambu di sejumlah titik, terutama di kawasan Renon, termasuk di depan Kantor Gubernur Bali dan depan Samsat Denpasar.
Mudarta menyebut, secara keseluruhan terdapat sekitar 300 hingga 400 titik pemberhentian bus TMD yang tersebar di wilayah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Namun hingga saat ini masih terdapat sekitar 80 titik yang belum memiliki penanda fisik. Sehingga, atas dipasangnya 13 rambu baru ini, pihaknya menyatakan apresiasi atas dukungan PT STJ dalam mendukung peningkatan pelayanan publik.
Ia menegaskan, meskipun informasi titik pemberhentian sudah tersedia di aplikasi TMD, keberadaan rambu fisik tetap penting sebagai penanda langsung di lapangan, terutama bagi masyarakat yang baru pertama kali menggunakan layanan tersebut.
“Terutama masyarakat yang pertama kali menggunakan. Jadi kalau masyarakat yang sudah sering naik, mereka sudah tahu. Di aplikasi TMD sendiri juga sudah ada, tetapi di aplikasi kan tidak secara eksak menyebut titiknya. Makanya tetap perlu rambu secara fisik sebagai pengenal fisik,” jelasnya.
Seiring dengan penguatan penanda halte tersebut, Mudarta menegaskan pemerintah juga terus melanjutkan pengembangan fasilitas transportasi publik lainnya. Tahun ini, rencananya akan dibangun dua halte baru masing-masing di depan Duta Plaza Jalan Dewi Sartika dan di depan Denpasar Cineplex.
“Tentu, kita sampai saat ini belum semua titik henti ada rambu maupun ada halte. Kita akan berusaha untuk tahun ini kita ada membuat dua halte baru. Di depan Duta Plaza di Jalan Dewi Sartika satu, sama di depan Denpasar Cineplex satu. Selain yang berupa halte, kita akan menambahkan lagi beberapa rambu seperti ini,” imbuhnya.
Di sisi lain, halte yang sudah ada juga tetap dilakukan pemeliharaan seperti pengecatan, perbaikan railing, hingga pengelasan fasilitas yang rusak. Disinggung terkait usulan penambahan CCTV di area halte untuk meningkatkan keamanan, Mudarta menyebutkan aspirasi tersebut sudah masuk dari masyarakat. Namun realisasinya masih terkendala keterbatasan anggaran.
“Usulan-usulan memang sampai saat ini sudah dimasukkan. Sudah kita terima juga dari masyarakat. Namun memang dengan keterbatasan fiskal yang kita miliki saat ini, untuk CCTV memang belum dapat kita penuhi saat ini. Tetapi itu adalah sebuah ide yang baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Satria Trans Jaya, I Ketut Eddy Dharmaputra, mengatakan pihaknya mendukung penuh penguatan layanan transportasi umum di Bali melalui penyediaan rambu tersebut.
“Ini kami dari Trans Metro Dewata tentunya sangat mendukung pelayanan angkutan umum, sehingga kami berpartisipasi memberikan beberapa rambu-rambu ini. Dan tidak menutup kemungkinan juga nantinya juga kami akan terus memberikan suatu dukungan, sehingga TMD ini lebih dikenal dalam pelayanannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan rambu diharapkan dapat memperjelas titik naik dan turun penumpang sehingga layanan TMD lebih mudah dipahami masyarakat. Sejalan dengan itu, Eddy menilai semakin kuatnya identitas halte di lapangan akan berdampak pada peningkatan pengguna TMD.
Menurutnya, dukungan infrastruktur seperti rambu menjadi faktor penting dalam memperkuat aksesibilitas layanan transportasi publik. Namun, ia menegaskan dukungan tersebut tidak cukup hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga perlu diperkuat dengan pengembangan jaringan layanan.
Eddy juga menekankan perlunya sinergi dengan pemerintah kabupaten/kota, seperti Denpasar dan Badung, dalam pengembangan sistem pengumpan atau feeder. Kata dia, keberadaan feeder akan memperkuat konektivitas antartrayek sehingga layanan transportasi publik tidak hanya berhenti pada titik halte, tetapi berlanjut hingga ke tujuan akhir penumpang. “Begitu orang turun di rambu satu itu, dia begitu turun, ada juga angkutan ke arah yang akan dituju oleh penumpang. Harapannya ada feeder,” tandasnya.
Dari sisi data, Mudarta menambahlkan bahwa rata-rata penumpang TMD yang melakukan tapping tap pada tahun sebelumnya berada di angka sekitar 4.760-an per hari. Dan untuk di tahun ini, sempat terjadi straggle pada Februari hingga Maret menjadi sekitar 4.500-an akibat faktor musim hujan.
Meski begitu, setelah dilakukan perbaikan rute serta penambahan titik henti, jumlah tersebut kembali meningkat. Pada bulan Mei ini, rata-rata penumpang yang melakukan tapping tap tercatat sudah berada di atas 5.000-an per hari. “Jadi bulan Mei rata-rata orang yang nge-tap per hari itu di atas 5.000,” pungkas Mudarta.
Peningkatan ini sekaligus menunjukkan penguatan layanan, termasuk penambahan rambu dan perbaikan rute, memiliki dampak terhadap minat masyarakat menggunakan transportasi publik di Bali. Ke depan, Mudarta juga berharap ada peningkatan sinergitas terutama dengan pemerintah kabupaten/kota untuk penyediaan sistem pengumpan (feeder) agar konektivitas TMD semakin optimal. (Z/002)