Perjalanan para Bhikkhu dari Bali ke Borobudur untuk Perdamaian, Pluralisme dan Spiritualitas
Banner Bawah

Perjalanan para Bhikkhu dari Bali ke Borobudur untuk Perdamaian, Pluralisme dan Spiritualitas

Admin 2 - atnews

2026-05-24
Bagikan :
Dokumentasi dari - Perjalanan para Bhikkhu dari Bali ke Borobudur untuk Perdamaian, Pluralisme dan Spiritualitas
Putu Suasta (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta yang juga Alumnus UGM dan Cornell University menyambut baik dan penuh kebahagiaan sebanyak 56 Bhikkhu yang mengikuti perjalanan Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026.

IWFP 2026 dalam menyambut perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE yang diikuti sebanyak 50 bhikkhu dari Indonesia, Thailand, Laos, dan Malaysia.

Acara itu akan menjadi sejarah besar bagi bangsa Indonesia dan semakin istimewa, oleh karena IWFP 2026 sebuah perjalanan panjang penuh makna yang dimulai dari Bali menuju Candi Borobudur dengan jarak tempuh lebih dari 666 kilometer.

Sebanyak 56 orang Bhikkhu turut ambil bagian dalam kegiatan ini, terdiri dari 43 peserta asal Thailand, 4 peserta dari Malaysia, 3 peserta dari Laos, serta peserta dan pendamping dari Indonesia.

Kegiatan itu yang diinisiasi sebagai gerakan spiritual dan kemanusiaan ini menjadi ruang bersama untuk dalam memperkuat nilai toleransi, persaudaraan, serta harmoni sosial di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Perdamaian lintas negara dan lintas agama kembali digaungkan dari Bali dibuka di Brahmavihara-Arama, Kabupaten Buleleng, Sabtu (9/5/2026).

Acara pembukaan dihadiri Gubernur Bali, I Wayan Koster, Acara pelepasan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting diantaranya Tenaga Ahli Menteri Agama, Dirjen Bimas Buddha Supriyadi, Bupati Buleleng, Wakil Bupati Buleleng, Wakil Bupati Jembrana, Kepala Kanwil dan Kabag TU Kemenag Provinsi Bali, serta jajaran Forkopimda Kabupaten Buleleng serta Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace 2026, Tosin.

Dijadwalkan berlangsung mulai 7 Mei hingga 5 Juni 2026, IWFP diharapkan menjadi magnet wisata religi internasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat harmoni dunia.

Jadwal dan rute perjalanannya terbagi menjadi 7 etape utama yakni: 

1) Etape 1 (7-10 Mei 2026): Dimulai dari Denpasar, melintasi Bedugul, Singaraja (Brahma Vihara Arama), dan berakhir di Gilimanuk.

2) Etape 2 (11 Mei 2026): Penyeberangan dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. 

3) Etape 3 & 4 (12-19 Mei 2026): Perjalanan melintasi wilayah tapal kuda Jawa Timur dari Banyuwangi menuju Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, hingga Jombang. 

4) Etape 5 (20 Mei dan seterusnya): Memasuki perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, melintasi Nganjuk, Madiun, dan Ngawi. 

5) Etape 6 & 7 (Menjelang Akhir Mei 2026): Melanjutkan perjalanan dari Sragen menuju Solo, Klaten, Yogyakarta, Muntilan, dan berakhir di Candi Borobudur. 

Kegiatan yang diinisiasi sebagai gerakan spiritual dan kemanusiaan ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat nilai toleransi, persaudaraan, serta harmoni sosial di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Tidak sekadar seremoni, IWFP 2026 menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya merawat perdamaian melalui tindakan nyata, dialog, dan keteladanan hidup yang menjunjung nilai kemanusiaan universal. 

Selama 20 hari ke depan, para Bhikkhu yang berusia antara 23 hingga 67 tahun ini akan melintasi empat provinsi: Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga berakhir di Yogyakarta pada 28 Mei 2026 mendatang sebelum tiba di Borobudur.

Suasta mengungkapkan perjalanan dari Bali ke Borobudur mengingatkan sejarah Kisah Xuanzang (602–664 M), yang juga dikenal sebagai Hiuen Tsang atau dalam cerita fiksi sebagai Tong Sam Cong.

Kisah nyata perjalanan ziarah biksu Tiongkok abad ke-7 ke India (Bharat) untuk mencari kitab suci Buddha yang asli. 

Perjalanannya yang menempuh waktu 17 tahun (sekitar 629–645 M) menjadi dasar bagi novel klasik Tiongkok, Journey to the West (Perjalanan ke Barat).

Misinya untuk mencari dan menerjemahkan kitab suci agama Buddha demi menyebarkan ajaran yang otentik ke negerinya.

Mengingat Agama Buddha telah lahir pada abad ke-5 SM di wilayah India dan hingga sekarang masih berpengaruh di sebagian wilayah di dunia.

Lahirnya agama Buddha merupakan reaksi alami dari situasi beberapa golongan atas ajaran kaum brahmana. Agama Budha ini diinisiasi dan dipimpin oleh Sidharta Gautama (563-486 SM) yang merupakan anak dari Raja Suddidhana dari Kerajaan Kosala di Kapilawastu, India.

Dikatakan, Kaisar Tang Taizong melarang Xuanzang perjalanan ke luar negeri karena konflik dengan Turki Timur, namun Xuanzang tetap berangkat secara sembunyi-sembunyi.

Rute Darat: Ia berjalan seorang diri melintasi gurun Gobi yang berbahaya, menyusuri jalur sutra, dan melewati pegunungan Tian Shan menuju Asia Tengah dan akhirnya masuk ke wilayah India utara (sekarang Pakistan).

Ia singgah di berbagai kerajaan di Asia Tengah, seperti Turpan dan Kucha. Perjalanannya melewati pegunungan bersalju yang berbahaya sebelum akhirnya tiba di anak benua India (Bharat). 

Xuanzang mengunjungi banyak situs suci Buddha. Tujuan utamanya adalah Universitas Nalanda di Bihar, India, pusat studi Buddha tertinggi saat itu.

Ia belajar di bawah bimbingan guru besar Śīlabhadra selama beberapa tahun. Menguasai bahasa, mempelajari bahasa Sanskerta dan ajaran Yogacara (kesadaran) untuk memahami teks-teks suci dengan mendalam selama lima tahun.

Dengan kemampuannya diakui oleh penguasa India saat itu, Raja Harshavardhana. Kaisar India yang menguasai wilayah India Utara selama empat puluh satu tahun. Pada puncak kejayaannya, kekaisarannya menguasai wilayah Punjab, Rajasthan, Gujarat, Benggala, dan Orissa.

Raja Harshavardhana menyatukan wilayah di bawah Kekaisaran Wardhana, beribu kota di Kannauj. Di akhir masa pemerintahannya, ia menjadi pelindung utama Agama Buddha dan mengadakan majelis Buddhis akbar. Kedekatannya dengan ajaran Buddha tertulis jelas melalui hubungannya dengan Xuanzang.

Raja Harsha menyelenggarakan sebuah majelis keagamaan besar di Kannauj untuk menghormati Xuanzang pada (643 M. Majelis ini dihadiri oleh ribuan biksu, raja-raja bawahan, dan cendekiawan dari berbagai aliran Hindu dan Buddha.

Atas dukungan Raja Harsha, Universitas Nalanda berkembang pesat. Xuanzang menghabiskan waktu bertahun-tahun di sana untuk mempelajari filsafat Buddhis dan mengumpulkan manuskrip suci untuk dibawa kembali ke Tiongkok.

Xuanzang kembali ke Tiongkok pada tahun 645 M dengan membawa lebih dari 600 naskah kitab suci berbahasa Sanskerta, patung, dan relik.

Catatan perjalanannya dituangkan dalam buku Da Tang Xiyu Ji (Catatan Wilayah Barat Dinasti Tang Agung). Buku ini menjadi sumber sejarah penting bagi para sejarawan untuk mengetahui kondisi masyarakat, geografi, dan politik India pada abad ke-7.

Sedangkan penghormatan mengejutkan Cina kuno untuk India. Dimana Cina kuno melihat India dengan penghormatan yang mendalam sebagai pusat spiritual dan filosofis. 

Disebut sebagai Tianzhu yang berarti "Pusat Surga" atau Tanah Buddha (India) dipandang oleh para ilmuwan Cina sebagai surga semi-mitis, suci dengan kebijaksanaan yang sangat besar. 

Nama Tianzhu berasal dari pelafalan bahasa Tionghoa kuno untuk kata Sindhu (bahasa Sanskerta untuk Sungai Indus). Melalui berbagai transliterasi Persia dan bahasa setempat, pelafalan ini berubah menjadi Tianzhu.

Sedangkan Tenjiku adalah nama historis dalam bahasa Jepang untuk wilayah India. Peta tertua benua Jambudvipa yang ada adalah gulungan besar berjudul Go Tenjiku zu (Peta Lima Wilayah Tenjiku) di Kuil Horyuji dekat Nara. 

Peta itu dibuat pada tahun 1364 oleh pendeta Buddha Genjiko Jukai. Peta ini menandai dengan warna merah rute yang ditempuh oleh penjelajah dan biksu legendaris Tiongkok, Hsuan-Tsang.

Sangat penting untuk dicatat bahwa daratan India yang berbentuk oval hampir sepenuhnya memenuhi peta-peta ini, menekankan pentingnya India dalam imajinasi Jepang-Buddhis.

Peta-peta itu mengadopsi pandangan dunia Buddha yang menempatkan India di pusat dunia manusia. Alam yang dapat dihuni ini terbatas hanya pada satu benua yang dikenal sebagai Jambudvipa , yang terdiri dari India (Tenjiku ), Tiongkok (Shintan), dan Jepang (Honcho atau “negara kita”).

Maka dari itu, Dalam literatur klasik Jepang, Tenjiku sering digambarkan sebagai negeri yang jauh, penuh misteri, dan menjadi sumber kebijaksanaan.

Dalam ajaran Buddhism, India memiliki posisi penting sebagai tempat kelahiran Siddhartha Gautama atau Buddha. 

Oleh karena itu, istilah Tenjiku bukan hanya sekadar nama geografis, tetapi juga memiliki konotasi spiritual melambangkan pencarian kebenaran, kekuatan batin, dan perjalanan menuju pencerahan.

Sementara, Cheonchuk merupakan pelafalan Korea untuk kata dalam bahasa Mandarin Tianzhu, yang merupakan nama historis Asia Timur untuk India. 

Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 adalah periode intelektual yang intens aktivitas baik di India dan Cina. 

Dengan pengaruh barat yang dominan atas negara-negara ini mengguncang ide-ide yang berakar dari tradisi dan budaya. 

Dengan demikian, hubungan Nusantara atau Indonesia kuno dengan India juga erat yang mempengaruhi segala bidang kehidupan.

Dalam khazanah arsitektur Nusantara, istilah "candi" merujuk pada bangunan suci peninggalan masa Hindu-Buddha yang berkembang antara abad ke-8 hingga ke-15 Masehi. 

Perlu dicatat bahwa kata "candi" bukanlah istilah yang dipakai oleh pembangunnya; masyarakat kuno lebih sering menyebutnya sebagai "prasada" (istana dewa), "dharmasala" (balai dharma), atau "bhumi" (tanah suci). 

Dalam konteks Indonesia, candi tidak sekadar kuil pemujaan, melainkan berfungsi sebagai pusat ritual, tempat meditasi, makam raja yang didewakan ("devaraja" atau "pendharmaan"), serta representasi fisik kosmologi yang menghubungkan alam manusia, dewata, dan alam baka melalui konsep "mandala".

Secara arsitektural, candi Jawa memiliki karakter yang khas bila dibandingkan dengan bangunan serupa di negara lain. 

Kuil-kuil di India, misalnya, cenderung menekankan vertikalitas menara "shikhara" atau "vimana", ruangan dalam yang gelap ("garbhagriha"), serta pahatan figuratif yang sangat padat. 

Kompleks Angkor di Kamboja lebih luas, menggunakan batu laterit dan pasir, serta terintegrasi dengan sistem hidrologi skala besar yang mencerminkan kekuasaan kosmik raja. 

Sebaliknya, candi Jawa menonjolkan bentuk dasar persegi yang berundak, atap piramida bertingkat (ratna atau stupa), penggunaan batu andesit vulkanik yang dipotong presisi tanpa perekat, serta penataan ruang yang sengaja diselaraskan dengan kontur alam, mata air, dan garis astronomis. 

Selain itu, candi Jawa mencerminkan akulturasi yang sangat cair antara kosmologi India dengan kepercayaan lokal, menghasilkan struktur yang lebih ringkas, simbolis, dan sarat makna spiritual ketimbang monumentalitas belaka.

Salah satunya warisan Nusantara yakni Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Selain Candi Pramabanan yang akan dijadikan Pusat Hindu Nusantara.

Borobodur akan menjadi tempat puncak IWFP 2026. Dimana Candi Borobudur dirintis oleh Wangsa Sailendra pada akhir abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-9, Borobudur merupakan mahakarya arsitektur Buddha Mahayana terbesar di dunia. 

Candi ini tidak didedikasikan untuk satu dewa tertentu, melainkan bagi seluruh jalan pencerahan Buddha. Berfungsi sebagai stupa monumental, Borobudur dirancang sebagai panduan visual Dharma, tempat ziarah spiral yang membentuk mandala tiga dimensi, serta pusat kosmologi yang menggambarkan perjalanan jiwa dari alam nafsu (kamadhatu) menuju nirwana (arupadhatu).

Selain itu, Candi Mendut dan Candi Pawon (Magelang, Jawa Tengah). Kedua candi itu dibangun pada periode yang sama dengan Borobudur, diperkirakan atas dukungan penguasa Mataram Kuno. Candi Mendut dipersembahkan untuk Buddha Vairocana yang diapit oleh Avalokiteshvara dan Vajrapani, berfungsi sebagai pusat pengajaran dan ruang meditasi.

Sementara Candi Pawon, yang lebih kecil dan sederhana, diduga dipersembahkan untuk Kubera (dewa kekayaan) atau sebagai tempat penyucian diri sebelum melanjutkan ziarah ke Borobudur.

Ketiganya sengaja disusun dalam satu poros spiritual yang selaras secara astronomis dan geometris.

Sedangkan Candi Sewu (Klaten, Jawa Tengah). Dibangun sekitar abad ke-8 oleh penguasa Mataram Kuno (kemungkinan Rakai Panangkaran atau di bawah pengaruh Sailendra), kompleks ini terdiri dari 249 candi dengan candi utama yang dipersembahkan untuk Manjushri, bodhisattva kebijaksanaan. Sewu berfungsi sebagai biara Buddha terbesar di Jawa, tempat praktik meditasi, studi sutra, dan aktivitas monastik yang mencerminkan iklim toleransi beragama di era Mataram Kuno.

Keberagaman candi di Jawa bukan sekadar warisan fisik, melainkan cerminan dinamika spiritual, politik, dan budaya yang terus hidup. Dari poros Buddha di Magelang hingga candi kerajaan di Jawa Timur, setiap struktur menyimpan jejak pemikiran kosmologis, toleransi beragama, dan keahlian rekayasa teknologi kontruksi dan bangunan yang masih menginspirasi hingga kini.

Putu Suasta juga teringat pengalamannya menjadi relawan dengan melakukan pelayanan kepada bhiksu, Bhante dan orang suci umat Buddha di Luang Prabang Laos. Termasuk melakukan perjalanan kultural-spiritual ke China, Kamboja,dan Vietnam. 

Luang Prabang merupakan bekas ibu kota kerajaan Laos yang terletak di lembah Sungai Mekong dan Nam Khan. Ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995, kota ini terkenal dengan keindahan yang terjaga berkat perpaduan unik antara arsitektur tradisional Buddha dan bangunan kolonial Prancis.

Terdapat lebih dari 30 wihara Buddha (wat) yang masih aktif, seperti Wat Xieng Thong dengan atap bersusun khas Laos.

Kota itu menyuguhkan ritual pagi Sai Bat (pemberian sedekah kepada para biksu) yang menjadi daya tarik ikonik wisatawan.

Candi Borobudur mengingatkan hubungan India dengan Indonesia.

Sebagaimana dikutip dari investortrust.id, Perdana Menteri (PM) India, Narendra Damodardas Modi mengatakan, India dan Indonesia memiliki ikatan yang sangat kuat, bahkan ikatan kedua negara telah melampaui geopolitik. Banyak hal yang menguatkan hubungan India dan Indonesia, dari epos Ramayana, Bali Jatra, Candi Prambanan, hingga Candi Borobudur.

“Hubungan kita bahkan telah melampaui geopolitik. Kita terikat oleh peradaban sejak ribuan tahun yang lalu. Kita terikat oleh sejarah selama ribuan tahun. Ikatan kita adalah warisan, pengetahuan, dan kepercayaan,” kata PM Modi saat menyampaikan pidato secara daring pada peresmian Kuil Murugan Jakarta di kawasan Daan Mogot, Kalideres, Jakarta Barat, Minggu (2/2/2025).

Menurut PM India, Narendra Modi, hubungan masyarakat Indonesia dan India diikat oleh Dewa Murugan, Dewa Shri Ram, dan Budha. Itu sebabnya, ketika mengunjungi Candi Prambanan dan melipat tangannya, mereka merasakan pengalaman spiritual seperti di Kashi (kota suci agama Hindu di tepi Sungai Gangga, negara bagian Uttar Pradesh, India utara) dan Kedarnath (kota di distrik Rudraprayag, Uttarakhand, India, dikenal terutama karena Kuil Kedarnath-nya).

Modi menjelaskan, ketika orang Bharat (India) mendengar kakawin (puisi kuno) Serat Ramayana, mereka merasakan hal yang sama saat mendengar Valmiki Ramayana (epos karya Valmiki, penulis Ramayana, terlahir dengan nama Ratnakara), Kamba Ramayana (karya Kamba, penyair Tamil abad pertengahan, penulis Ramavataram dan Mahabharata), serta Ramcharitmanas (puisi epik karya orang suci India, Tulsidas).

Modi menambahkan, saat ini Ramleela (drama rakyat berdasarkan epos Hindu kuno) versi Indonesia juga dipentaskan di Ayodhya, India. “Begitu pula ketika kita mendengar kata-kata Om Swastiastu di Bali, kita teringat Swasti Vaachan (mantra Weda pada awal upacara keagamaan) yang dilantunkan pendeta Weda di Bharat,” tutur dia.

Stupa Candi Borobudur di Indonesia, kata PM Modi,  merefleksikan hal yang sama dengan Budha di Sarnath (taman rusa tempat Budha pertama kali mengajarkan Dharma) dan Bodh Gaya (kota di distrik Gaya, negara bagian Bihar, tempat Buddha Gautama mencapai kecerahan).

Narendra Modi mengungkapkan, masyarakat India di Odisha hingga kini masih merayakan Bali Jatra, yaitu perayaan setiap tahun yang dilakukan masyarakat India untuk memperingati perjalanan orang-orang India kuno ke Pulau Bali.

“Bali Jatra adalah selebrasi yang menghubungkan perjalanan maritim kuno antara India dan Indonesia, baik secara komersial maupun kultural,” tegas Modi.

Sementara itu, Ketua Panitia Indonesia Walk for Peace 2026, Tosin, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin untuk menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya hidup damai di tengah keberagaman.

“Indonesia Walk for Peace adalah simbol bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan perpecahan. Dari Bali, kami ingin mengirimkan pesan kepada dunia bahwa perdamaian bisa dimulai dari langkah kecil, dari hati yang terbuka, dan dari kepedulian terhadap sesama,” ujar Tosin.

Gubernur Bali, I Wayan Koster, memberikan apresiasi mendalam terhadap kegiatan yang ia sebut sebagai "perjalanan suci" ini. Baginya, agenda ini sangat selaras dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam menjaga keharmonisan alam beserta isinya.

"Kegiatan ini tidak semata kegiatan fisik keagamaan yang sakral, tapi juga membawa pesan kedamaian yang dipancarkan dari Bali dan akan melintasi empat provinsi. Titiang (saya) yakin seyakin-yakinnya ini akan menjadi perhatian masyarakat dunia," ujar I Wayan Koster.

Ia menegaskan bahwa Bali memiliki komitmen kuat menjaga keharmonisan dan kedamaian sebagai fondasi pembangunan daerah. Ia menyebut kegiatan seperti IWFP menjadi energi positif dalam menjaga citra Bali sebagai pulau toleransi dan peradaban.

Sementara itu, Wakil Menteri Agama RI, Romo R. Muhammad Syafi’i, menekankan bahwa perdamaian merupakan fondasi penting dalam membangun bangsa yang maju dan berkeadaban. Menurutnya, Kementerian Agama terus mendorong penguatan moderasi beragama melalui aksi nyata yang menyentuh masyarakat.

“Indonesia memiliki kekuatan besar karena keberagamannya. Tugas kita bersama adalah memastikan keberagaman itu menjadi sumber persatuan, bukan sumber konflik. Indonesia Walk for Peace menunjukkan bahwa nilai agama harus menghadirkan kasih sayang, ketenangan, dan kepedulian sosial,” ujar Romo Syafi’I pada Sabtu (9/5/2026).

Ia menambahkan bahwa kegiatan lintas negara seperti IWFP menjadi bagian penting diplomasi budaya dan diplomasi spiritual Indonesia di mata dunia. Melalui kegiatan ini, Indonesia dinilai mampu menunjukkan wajah agama yang damai, inklusif, dan membawa manfaat bagi kemanusiaan.

Romo Syafi’i, menekankan bahwa perjalanan jauh ini adalah simbol dari pengendalian diri yang kuat. Ia merefleksikan bahwa inti dari setiap ajaran agama adalah melatih kemampuan mengendalikan hawa nafsu.

"Perang yang paling besar itu adalah perang melawan hawa nafsu. Ketika kita sudah memiliki kekuatan mengendalikan hawa nafsu, ketika itu kita akan lahir sebagai insan yang baik. Melalui Walk for Peace ini, kita menunjukkan bahwa dengan perbedaan yang ada, kita tetap sama sebagai hamba Tuhan dan warga negara Indonesia," tegas Romo Syafi’i.

Ia juga menambahkan bahwa kebersamaan para Bhikkhu yang berasal dari latar belakang berbeda namun mengenakan jubah yang sama menunjukkan bahwa tanpa persatuan, bangsa ini bukan siapa-siapa.

Kementerian Agama memandang kegiatan Indonesia Walk for Peace 2026 sebagai langkah strategis membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat kerukunan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Nilai toleransi, moderasi beragama, dan gotong royong yang tumbuh dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga persatuan bangsa.

Selain memperkuat hubungan antarumat beragama, kegiatan ini juga memberikan pesan edukatif kepada masyarakat bahwa perdamaian tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, empati, dan kepedulian sosial.

Dari Brahmavihara-Arama Buleleng, semangat Indonesia Walk for Peace 2026 menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki modal sosial yang kuat untuk terus merawat persaudaraan dan menghadirkan perdamaian bagi dunia. (GAB/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Enam Arahan Presiden Pada Rakornas Penanggulangan Bencana

Terpopuler

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026