Thudong, Potensi Indonesia Menjadi Pusat Pilgrimage Buddha
Banner Bawah

Thudong, Potensi Indonesia Menjadi Pusat Pilgrimage Buddha

Admin - atnews

2026-05-29
Bagikan :
Dokumentasi dari - Thudong, Potensi Indonesia Menjadi Pusat Pilgrimage Buddha
Prof. I Gede Sutarya (ist/Atnews)
Oleh Prof. I Gede Sutarya
 
Thudong, perjalanan keagamaan menuju Candi Borobudur dari Bali pada Vaisakh, 31 Mei 2026 ini menjadi perhatian media. Perjalanan ini mempromosikan Bali dan Jawa Tengah sebagai Destinasi Pilgrimage (Wisata Ziarah). 

Perjalanan serupa pernah dilakukan dari Bangkok, Thailand ke Borobudur, Indonesia tahun 2025. Hal ini membuktikan Indonesia telah menjadi pusat perhatian aktivitas keagamaan Buddha seluruh dunia.

Pemerintah Indonesia seharusnya menyambut baik Pilgrimage Buddha ini, sebab umat Buddha merupakan potensi pasar wisata Indonesia. World Population Review (2026) mencatat sekitar 320 Juta umat Buddha di seluruh dunia, dengan populasi terbesar di China, Thailand, Myanmar, Jepang, Kamboja, Vietnam, Srilanka, dan Korea Selatan. 

China, Thailand, Jepang dan Korea Selatan merupakan pasar-pasar paling potensial untuk pariwisata pilgrimage ke Indonesia.
Henro Organization (2026) mencatat 150 Juta umat Buddha melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk tujuan pilgrimage. 

Mereka tercatat terbanyak melakukan kunjungan ke India dan Nepal sebagai tempat lahirnya Agama Buddha. 

Perjalanan juga dilakukan ke Jepang dan Indonesia. Jumlah ini merupakan potensi pasar yang bisa digarap pemerintah Indonesia untuk Destinasi Pilgrimage Borobudur dan sekitarnya.

Hal itu bisa digarap melalui pengorganisasian Thudong setiap tahunnya dari Bangkok atau Bali. Jika awalnya di Bali maka itu bisa digarap dengan kunjungan ke situs-situs Buddha di Bali seperti Pura Pagulingan, Tampak Siring-Gianyar. Penyebaran Buddha di Bali tampaknya berpusat pada sekitar Pejeng, Gianyar. Pusat ini bisa dijadikan awal perjalanan ke Jawa Tengah.

Pada puncak acara di Jawa Tengah, hendaknya dibuat festival keagamaan bekerjasama dengan berbagai organisasi Buddha dunia. Apabila perlu dilengkapi dengan konferensi Internasional tentang peninggalan-peninggalan Buddha di Indonesia. 

Hal ini juga bisa dilengkapi dengan kegiatan-kegiatan healing yang berbasis Buddha seperti meditasi dan teknik-teknik healing lainnya. Buddha Indonesia bisa memberikan peran dengan mengembangkan teknik meditasi Sanghyang Kamahayanikan dalam puncak acara itu.

Kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk menunjukkan Borobudur adalah pusat Buddha dunia di luar India, sebab merupakan peninggalan candi terbesar Buddha di dunia. Foto-foto Vaisakh di Borobudur dengan purnama yang indah akan melengkapi acara ini. Selain itu, perbukitan di sekitar Borobudur juga menyimpan keindahan spiritual yang terpendam.

Perkembangan ini juga akan menjadi pemicu bagi perkembangan destinasi-destinasi baru di Indonesia, seperti Jambi misalnya. Jambi memiliki peninggalan Buddha terbesar, yang disebutkan sebagai pusat pendidikan terbesar di dunia. Orang-orang China tercatat belajar di pusat pendidikan ini. Karena itu, jika situs Jambi berhasil terangkat seperti Borobudur maka akan memperkaya Destinasi Pilgrimage Buddha Indonesia.

Sejarah Sriwijaya merupakan magnet yang besar bagi pilgrimage tersebut. Sriwijaya yang masih menyimpan banyak misteri ini menyimpan cerita di seluruh Asia Tenggara dan India Timur-Selatan.

Prasasti di Kamboja misalnya menyebut Ci Canasa sebagai pendiri kerajaan-kerajaan Khmer. Ci Canasa merupakan perbedaan penyebutan dari Sri Jayanasa yang disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit.

Catatan-catatan di India juga menyimpan memori Sriwijaya dalam pembangunan Nalanda University. Catatan ini membuktikan kebesaran Sriwijaya sampai ke India. 

Kerajaan ini juga terlibat kerjasama dan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan India. Contohnya kerjasama dengan Dinasti Pandya pada sekitar abad ke-7 Masehi melalui penyebaran Dinasti Varma, kemudian permusuhan Sriwijaya dengan Chola pada abad ke-11 Masehi, sampai penemuan nama Raja Sriwijaya yang menggunakan nama Chula Cudamani Warmadewa. Hal ini membuktikan Sriwijaya adalah kerajaan yang menguasai peta-peta dunia.

Keberadaan Sriwijaya ini merupakan sejarah tentang pilgrimage keagamaan dan perdagangan rempah-rempah dunia pada zamannya. Pilgrimage ini merupakan potensi wisata yang bisa dibangun Indonesia, dengan menyambung perjalanan masa lalu dari Indonesia, China, India, Timur Tengah sampai Eropa melalui jalur laut atau jalur darat (Jalur Sutra). Sambungan ini kini bisa menjadi Wisata Pilgrimage.

Poin-poin penting sejarah ini tinggal dibuatkan peringatannya di Indonesia. Momen Vaisakh adalah pintu masuk untuk menjadikan Indonesia sebagai Destinasi Pilgrimage Buddha. Momen berikutnya seperti Tahun Baru Saka misalnya bisa menjadi momen pembukaan situs-situs Sriwijaya di Sumatra untuk menjadi Destinasi Pilgrimage Buddha.

*) Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag adalah Guru Besar Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Spiritual dan Religious, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar).

Baca Artikel Menarik Lainnya : Millenial Road Safety Festival, Pedagang Nasi Goreng Mendapat Hadiah MobilĀ 

Terpopuler

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026