Transformasi BPR Kanti Menuju Community Bank: 28 Tahun Made Arya Amitaba Memimpin Ala ‘Lawar Leadership’
Transformasi BPR Kanti Menuju Community Bank: 28 Tahun Made Arya Amitaba Memimpin Ala ‘Lawar Leadership’
Admin -
atnews
2026-05-29
Bagikan :
Made Arya Amitaba (Artaya/Atnews)
Gianyar (Atnews) - PT.BPR Sukawati Pancakanti dikenal BPR Kanti akan melakukan transformasi yang bertepatan dengan Peringatan Hari Lahir Pancasila.
Pada kesempatan, sebuah momentum penting dalam perjalanan transformasi kepemimpinan berbasis budaya akan ditandai melalui dua agenda strategis yang dilaksanakan secara bersamaan, yaitu peluncuran buku Lawar Leadership: Inspirasi Kepemimpinan Peramu Lawar dalam Melakukan Transformasi Budaya Perusahaan serta peluncuran Corporate Culture Transformation BPR Kanti menuju Community Bank.
Langkah besar ini menjadi puncak refleksi kepemimpinan Made Arya Amitaba yang telah 28 tahun menakhodai BPR Kanti dengan mengadopsi filosofi lokal. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali kehilangan akar nilai, BPR Kanti memilih menegaskan kembali bahwa masa depan yang kuat harus ditopang oleh karakter, integritas, budaya, serta kepemimpinan yang berjiwa pengabdian.
Buku setebal 18 bab karya Made Arya Amitaba, KS Arsana, dan Ketut Susila Dharma ini menghadirkan perspektif baru dengan mengangkat lawar—kuliner tradisional Bali—sebagai metafora kepemimpinan masa depan. Sebagaimana seorang peramu lawar menyatukan berbagai bahan (bumbu, daging, dan sayur) dengan penuh ketelitian dan keseimbangan, seorang pemimpin juga dituntut mampu meramu keberagaman manusia, nilai, karakter, kompetensi, dan visi menjadi kekuatan kolektif yang utuh.
"Kepemimpinan sejati bukan hanya kemampuan mengelola organisasi, melainkan kemampuan merawat kehidupan. Kemampuan menjaga harmoni. Kemampuan memuliakan manusia. Kemampuan menghadirkan makna di tengah perubahan," tegas Dirut BPR Kanti Amitaba ketika press conference lepada awak media di Gianyar, Jumat (29/5).
Ruh dari kepemimpinan ala "Peramu Lawar" ini bersandar pada lima nilai luhur Bali yakni: ngayah sebagai spirit pelayanan tulus, menyama Braya sebagai fondasi persaudaraan, Integritas sebagai base genep (bumbu utama) kepemimpinan, harmoni dalam keberagaman, dan Kepemimpinan berbasis rasa, keteladanan, dan kebijaksanaan.
Lebih dari sekadar teori, buku ini merupakan refleksi pengalaman nyata transformasi budaya yang dijalankan dalam praktik kepemimpinan.
Buku ini lahir dari pengalaman nyata Made Arya Amitaba, sosok pemimpin yang berhasil mentransformasikan budaya kerja melalui pendekatan kepemimpinan berbasis nilai, baik dalam dunia profesional maupun dalam pengabdiannya di Desa Adat.
Melalui filosofi ngayahin pengayah, buku ini mengajak para pemimpin untuk memahami bahwa kemuliaan kepemimpinan tidak diukur dari tingginya jabatan, melainkan dari ketulusan melayani mereka yang telah melayani masyarakat. Karena sesungguhnya, pemimpin besar bukanlah mereka yang paling berkuasa. Pemimpin besar adalah mereka yang paling mampu menghadirkan manfaat. Bukan mereka yang paling banyak dihormati. Melainkan mereka yang paling tulus mengabdi.
"Pesan utama buku ini sangat kuat: Pemimpin sejati bukanlah mereka yang sekadar mengarahkan, tetapi mereka yang mampu meracik kehidupan bersama dengan rasa, nilai, dan kebijaksanaan." Bersamaan dengan peluncuran buku, BPR Kanti secara resmi memulai Corporate Culture Transformation. Transformasi ini menandai lompatan paradigma dari sekadar lembaga keuangan komersial menjadi institusi yang hidup bersama masyarakat sebagai community bank, khususnya di lingkungan Desa Adat. BPR Kanti berkomitmen menjadi institusi yang mendengar denyut kebutuhan masyarakat setempat, bertumbuh bersama komunitas, dan hadir sebagai solusi kehidupan. Ia meyakini bahwa keberhasilan keuangan tidak boleh hanya diukur dari angka-angka di atas kertas. "Keberhasilan lembaga keuangan tidak cukup diukur dari pertumbuhan aset dan laba semata. Keberhasilan sejati harus diukur dari sejauh mana institusi mampu menciptakan manfaat, memperkuat kepercayaan, dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat." Untuk mengawal transformasi ini, BPR Kanti menanamkan fondasi nilai organisasi baru yang disingkat KANTI: Kepedulian, Akuntabilitas, Nilai tambah, Transparansi, Inovasi.
Nilai tersebut diperkuat oleh budaya kerja DKKB (Disiplin, Komunikasi, Kolaborasi, Belajar Berkelanjutan) yang menjadi kompas moral dan fondasi perilaku seluruh insan BPR Kanti demi mewujudkan institusi yang kokoh secara sosial, budaya, moral, dan spiritual.
Peluncuran gagasan Lawar Leadership dan transformasi BPR Kanti ini dinilai sangat relevan dalam menjawab tantangan disrupsi, modernisasi, dan perubahan sosial lintas generasi yang dihadapi Desa Adat di Bali saat ini. Desa Adat masa depan membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga kesucian nilai budaya sekaligus mengelola kelembagaan dan ekonomi secara profesional.
Kepemimpinan masa depan ditegaskan harus mampu mengambil peran penting. Keberhasilan Desa Adat tidak hanya ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki.
Tetapi sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang menggerakkannya. Pemimpin Desa Adat masa depan harus menjadi 'peramu kehidupan'. Mampu meramu nilai, manusia, budaya, dan visi kolektif sebagaimana seorang peramu lawar menjaga harmoni rasa agar tetap utuh dan bermakna.
Buku yang ditujukan bagi para pemimpin Desa Adat, akademisi, praktisi, dan pelaku usaha ini tidak hanya dicetak dalam bentuk hard-copy. Ke depannya, bekerja sama dengan iBlooming, buku ini akan diterbitkan secara digital (digital-book) dalam berbagai bahasa.
Langkah ini diambil untuk mengenalkan kearifan lokal Bali—baik keunikan kuliner lawar maupun inspirasi kepemimpinannya—ke panggung universal di berbagai penjuru dunia.
Momentum 1 Juni 2026 menjadi penanda bahwa Corporate Culture Transformation BPR Kanti merupakan manifestasi nyata dari Lawar Leadership. Ini membuktikan bahwa budaya lokal bukanlah simbol romantisme masa lalu, melainkan sumber energi masa depan yang mampu melahirkan tata kelola modern yang humanis.
"Membangun Desa Adat yang mandiri dan sejahtera dimulai dari kepemimpinan yang mampu meracik nilai, rasa, pelayanan, keteladanan, spiritualitas, dan transformasi dalam harmoni pengabdian.
Karena pada akhirnya, masa depan tidak diwariskan oleh mereka yang paling kuat. Masa depan diwariskan oleh mereka yang paling setia menjaga nilai, " tutup Arya Amitaba. (GAB/SUK/001)