Pada Minggu ini (24 - 30 Mei 2026), pemberitaan penuh dengan sumbangan sapi presiden yang berjumlah 1068. Beberapa netizen mengulik Prasasti Kutai dari Raja Mulawarman yang juga menyumbang sapi kepada para Brahmana berjumlah 20 ribu sapi di Waprakeswara.
Karena itu, sumbangan presiden ini memiliki basis sejarah yang kuat, tetapi nilainya tentu berbeda karena perbedaan nilai antar generasi.
Presiden menyumbangkan sapi dalam Hari Raya Idul Adha untuk disemblih yang dagingnya biasanya disumbangkan kepada masyarakat miskin.
Dalam prasasti-prasasti di Jawa, menurut Bambang Noersena, daging sapi bukanlah makanan leluhur orang Jawa. Leluhur orang Jawa justru makan daging babi, tetapi perubahan agama kemudian membuat orang Jawa makan daging sapi.
Secara tradisi, pengorbanan hewan biasanya dilakukan untuk mengganti pengorbanan manusia pada era-era kuno. Karena itu dipilih hewan yang suaranya mirip anak manusia yang memanggil ibunya seperti “embek”.
Suara kambing biasanya mendekati suara itu, tetapi suara sapi juga mendekati suara itu sehingga juga menjadi korban. Karena itu, sumbangan sapi presiden adalah untuk dikorbankan.
Hal ini berbeda dengan sumbangan sapi Raja Mulawarman. Raja ini menyumbangkan sapi kepada para Brahmana untuk dipelihara. Dalam tradisi Hindu, Brahmana hidup dari pertanian dan meminum susu sapi. Karena itu, sapi berperan besar dalam pertanian dan kebutuhan gizi kaum Brahmana.
Peran besar sapi ini yang menyebabkan upacara-upacara Hindu selalu berkaitan dengan sapi, seperti mengaturkan susu (empehan sapi).
Upacara-upacara di Bali, juga berhubungan dengan kehidupan pertanian seperti itu. Upacara-upacara besar biasanya merupakan peragaan dari proses pertanian yang menghasilkan beras untuk kehidupan manusia.
Secara tradisi biasanya puncaknya adalah menumbuk dan memilah beras yang biasanya dilakukan Nyonya Gubernur atau Nyonya Bupati.
Hal ini menunjukkan sumbangan Raja Mulawarman bertujuan untuk membangun pertanian sehingga para Brahmana bisa menghidupi pasramannya secara mandiri.
Sumbangan ini bertujuan untuk kehidupan yang terus berlanjut, atau yang disebutkan pembangunan berkelanjutan. Hal-hal seperti ini harus menjadi renungan bersama dalam pemberian bantuan pada era Indonesia modern ini.
Pada era ini, bantuan (hibah) sering diberikan untuk konsumtif yaitu untuk dibelanjakan atau dihabiskan pada hari itu.
Sebut saja hibah bantuan pembangunan pura. Bantuan seharusnya diberikan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat sehingga jika ekonomi masyarakat meningkat maka mereka akan menyumbang untuk membangun pura.
Hal itu yang dapat dipelajari dari sumbangan sapi Raja Mulawarman kepada para Brahmana, yaitu untuk membangun pertanian kaum Brahmana sehingga mereka bisa hidup mandiri.
*) Prof.Dr. I Gede Sutarya, SST.Par.,M.Ag adalah Guru Besar Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar