Pemuliaan Sapi, Peternakan Sapi Bali yang Lebih Bertanggung-jawab, Kembangkan Sapi Perah Berbasis Koperasi
Banner Bawah

Pemuliaan Sapi, Peternakan Sapi Bali yang Lebih Bertanggung-jawab, Kembangkan Sapi Perah Berbasis Koperasi

Admin 2 - atnews

2026-05-31
Bagikan :
Dokumentasi dari - Pemuliaan Sapi, Peternakan Sapi Bali yang Lebih Bertanggung-jawab, Kembangkan Sapi Perah Berbasis Koperasi
Intelektual Hindu Jro Gde Sudibya (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Intelektual Hindu Jro Gde Sudibya yang juga Praktisi Pertanian mengatakan, budi daya sapi Bali terus ditumbuh-kembangkan melalui peraturan yang memihak kepentingan para peternak. Ekonomi rente berupa perizinan yang menguntungkan para broker semestinya dihilangkan, sehingga peternak sapi Bali memperoleh keuntungan yang adil. 

Budi daya sapi Bali tetap dalam konteks keyakinan, Sapi adalah simbol kesucian itu sendiri.

"Sehingga peternak diberikan kesadaran, pemeliharaan Sapi lebih fokus untuk peningkatan produktivitas pertanian dan perkebunan, yang kemudian berdampak nyata untuk peningkatan kesejahteraan petani," kata Jro Gde Sudibya yang juga Alumni Universitas Indonesia di Denpasar, Minggu (31/5).

Baginya,  "best practices"  praktek cerdas di lapangan menunjukkan, pemupukan berbasis limbah Sapi yang dikelola secara organik, melalui proses fermentasi, tidak saja meningkatkan produksi pertanian, juga melahirkan aura, vibrasi kesucian di lingkungan kebun. 

Tamsilnya: "sekali mendayung dua pulau tercapai". Dengan peternakan Sapi yang bertanggung-jawab, produksi pertanian naik, sekaligus menjalankan spiritual, sraddha akan kemuliaan Sapi.

Diversifikasi ekonomi Bali perlu dilakukan, antara lain melalui pengembangan industri sapi perah dalam bentuk koperasi.

Maka dari itu, pihaknya mendorong adanya revisi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 10 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Sapi Bali.

Upaya itu agar sapi perah bisa dipelihara di Bali. "Ini perlu direvisi (Perda Bali No. 10/2017-red)," ujarnya.

Selama ini, perusahaan besar yang membangun peternakan sapi perah di Indonesia sebagian besar yakni korporasi Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) yang melakukan ekspansi vertikal untuk mengamankan bahan baku susu segar.

Perusahaan utama yang membangun dan mengelola peternakan sapi perah skala besar di Indonesia:l yakni PT Global Dairi Bersama (Djarum Group) melalui unit bisnis Savoria Group, mereka membangun mega farm sapi perah terintegrasi berskala jumbo di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Mereka juga telah mengoperasikan peternakan serupa di Subang, Jawa Barat, yang memproduksi susu MilkLife.PT Greenfields Indonesia.

 Perusahaan itu memiliki fasilitas peternakan skala besar yang berlokasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Malang dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dengan populasi belasan ribu ekor sapi

PT Nestle Indonesia sebagai perusahaan raksasa yang tidak hanya memproses susu tetapi juga membina dan mendukung pembangunan peternakan sapi perah rakyat berskala industri serta fasilitas Dairy Development di beberapa titik di Jawa Timur, seperti Pasuruan dan sekitarnya.

Ada pula PT Sumber Citarasa Alam (Cimory Group), PT Grimsis Indonesia. Selain perusahaan-perusahaan skala korporat tersebut, industri sapi perah nasional banyak ditopang oleh peternakan rakyat yang bernaung di bawah Koperasi Unit Desa (KUD) seperti KUD Dau dan KUD Batu di Malang, serta PKIS Sekar Tanjung di Pasuruan.

"Djarum perusahaan konglomerasi yang sangat cerdas dan inovatif dalam merespons peluang bisnis," bebernya.

Disamping itu, sistem subak yang diwariskan Rsi Markandya,  juga berangkat dari keyakinan pemuliaan Sapi, sehingga penggunaan limbah Sapi sangat penting dalam perjalanan sejarah Subak.

Sapi atau lembu putih di Desa Taro, Gianyar, diyakini dibawa oleh Maha Rsi Markandeya pada abad ke-8. 

Hewan itu disakralkan, dilestarikan, serta tidak boleh disembelih atau diperjualbelikan. Produknya (seperti susu dan kotoran) hanya digunakan untuk kepentingan upacara keagamaan di Bali.

Sementara itu, regulasi perlindungan Sapi Bali kini tengah menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak. Niat awal untuk menjaga kemurnian ras lokal dinilai justru menjadi bumerang yang memicu krisis depopulasi ekstrem. Di sisi lain, aturan ketat ini menutup rapat peluang ekonomi baru, salah satunya pengembangan komoditas sapi perah yang memiliki pasar sangat menjanjikan di Pulau Dewata.

​Praktisi pertanian, Wayan Supadno, mengkritik keras larangan pemeliharaan sapi perah di Bali yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda). Menurutnya, kebijakan ini membuat Bali rugi sendiri. Saat ini, kebutuhan susu di Bali masih bergantung 100% pada pasokan impor luar daerah, padahal potensi pasar domestik—terutama untuk industri pariwisata dan konsumsi lokal—sangat tinggi.

​"Melarang sapi perah karena dianggap mengancam keaslian Sapi Bali adalah kekeliruan. Faktanya, tanpa adanya sapi perah pun, populasi Sapi Bali di tanah asalnya justru mengalami depopulasi ekstrem dari tahun ke tahun dan berada dalam kondisi kritis," ujar Supadno saat diwawancara Minggu, (31/5). 

​Ia menyamakan ironi ini dengan regulasi pembatasan ketinggian bangunan di Bali. Niatnya menjaga estetika, namun dampaknya justru mempercepat alih fungsi dan menghabiskan lahan-lahan produktif. 

Fenomena berkebalikan justru terjadi di luar daerah; Sapi Bali tumbuh subur dan berkembang biak pesat di pulau-pulau lain di Indonesia, bahkan hingga ke Malaysia. "Sementara di rumahnya sendiri, populasi Sapi Bali kian mengkhawatirkan menuju kepunahan," tambahnya.

​Supadno menegaskan bahwa kehadiran sapi perah sebenarnya sama sekali tidak menjadi masalah dan murni merupakan peluang emas yang terbuang.

Oleh karena itu, ia mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) Bali untuk mengkaji ulang dua Perda tersebut menggunakan pendekatan ekonometrika dan data statistik empiris demi memprediksi serta mengantisipasi masa depan peternakan Bali. (GAB/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Riad Tingkatkan SDM lewat Yoga

Terpopuler

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026