Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif
Banner Bawah

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Admin 2 - atnews

2026-07-03
Bagikan :
Dokumentasi dari - Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif
Prof I GN Nitya Santhiarsa, (Kiri) dan Turah Mangku A A Ngurah agung, SE, (Kanan)
Oleh Prof I GN Nitya Santhiarsa  dan Turah Mangku A A Ngurah agungSE

Setiap masa ada tantangannya, setiap tantangan ada masanya, tugas kita mempersiapkan diri untuk menjawab semua tantangan yang ada. Tanpa kita sadari, ternyata Hindu berkembang ke arah makin ekslusif, padahal sejak diakui negara sebagai agama resmi di Indonesia, Hindu berusaha bertransformasi menjadi agama yang universal, menyatukan berbagai tradisi Hindu yang etnosentris, seperti bagaimana menyatukan Hindu Bali, Hindu India, Hindu Jawa, Hindu Karo dan lain-lain dalam satu istilah yaitu Agama Hindu atau Hindu Dharma, setelah itu bersama-sama berjuang untuk memajukan kesejahteraan (Jagadhita).

Namun, empat dasa warsa setelah itu, mulai terjadi perpecahan yang serius, mulai ada pihak yang merasa terabaikan yang sebelumnya banyak menikmati manisnya pembangunan, dan terjadilah upaya-upaya untuk memunculkan kembali Hindu yang ekslusif(dalam artian etnosentris) atau menempatkan adat tradisi di atas prinsip Agama Hindu yang universal.

Sepintas, konflik ini tidak berisiko besar, namun kenyataanya, sangat melemahkan ketahanan umat Hindu, yang mana umat Hindu sudah minoritas di negara ini, sumber daya manusianya minim, tidak mempunyai akses ke kekuasaan maupun ke finansial, disisi lain mudah diadu domba, dipecah belah dan dipanasi agar terus berkonflik.

Yang jelas, umat Hindu lah yang menderita, bagai domba kehilangan gembala, para pembina yang seharusnya sibuk memajukan ketahanan agama malah kehabisan energi akibat konflik yang berkepanjangan ( sudah 25 tahun lebih).

Mari kita segera kembali sadar dan bersatu , agar di masa-masa mendatang kemajuan pri kehidupan beragama Hindu bisa diwujudkan, jika Indonesia gemilang di tahun 2045, itu juga karena kegemilangan umat Hindu dalam membangun negara ini.

Langkah apa saja yang bisa kita lakukan di awal perjuangan ini?

Pertama, memajukan sumber daya manusia Hindu

Pasang surut kehidupan beragama sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang ada pada suatu kaum atau umat. Sebagian tanda pasang adalah umat rajin dan antusias melakukan sembahyang bersama di Pura, cukup sering ada seminar bertopik agama dan dihadiri banyak orang, dan banyak orang yang melakukan tirtayatra dan darmayatra.

Sedangkan sebagian tanda surut adalah sedikit umat yang rutin berdanapunia, banyak umat kurang tertarik membeli dan membaca media agama dan jarang melakukan upacara yadnya.

Kita berharap yang terjadi adalah keadaan pasang yaitu ada peningkatan kepedulian umat pada pembinaan dan penguatan pri kehidupan beragama.

Keadaan ini tercipta jika ada cukup sumber daya manusia yang terlibat dalam kegiatan keagamaan, jadi factor manusia sangat dominan datau factor kunci alam upaya meningkatkan gairah atau semangat umat memanifestasikan nilai agama di semua aspek kehidupan.

Siapa saja yang menjadi actor atau pemeran utama dalam hal ini?

Yang pertama, kita perhatikan sector tradisional, dalam hal ini ada peran pinandita (pemangku) dan pandita( sulinggih). Pinandita adalah orang bertugas untuk melayani umat dalam pelaksanaan upacara dan persembahyangan ( masih dalam kewenangan sang ekajati), sedangkan Pandita, dengan tugas yang sama namun untuk upacara yang dalam kewenangan sang dwijati.

Kedua profesi ini, menjadi pilar utama dalam pelaksanaan puja dan yadnya, jika sumber daya dalam sector ini cukup banyak dan memiliki taksu, maka diyakini prikehidupan beragama di kalangan umat akan menguat.

Yang kedua, kita bahas sector modern, yaitu ada peran guru pengajian ( para sarjana agama) dan dosen pengajian ( para pasca sarjana), para guru yang utamanya memberikan ilmu agama kepada peserta didik mulai tingkat sekolah dasar hingga menengah atas, mempunyai peran besar dalam pemberdayaan generasi muda melalui transfer pengetahuan dan pemahaman ilmu agama.

Sedangkan para dosen yang bergelar magister dan doctor, selain mendidik umat dan para sarjana juga berperan besar dalam penelitian dan pengkajian agama, yang tentunya bermuara pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.  

Kedua, mengefektifkan waktu ibadah

Umat Hindu terutama di luar Bali, apakah itu orang Bali perantauan (urban), orang Bali transmigran ataupun umat Hindu etnis se Nusantara, sering mengalami kesulitan dalam beribadah, yang disebabkan oleh:

1. Keterbatasan tempat suci untuk ibadah, baik dari segi jumlah maupun kelengkapan sarana

2. Waktu yang juga terbatas, misal karena jadwal kerja yang padat atau ada kesibukan lain yang juga diprioritaskan

3. Komunikasi , relasi dan interaksi antar umat Hindu jarang terjadi atau masih kurang terjalin Pada kenyataannya, pola waktu ibadah umat Hindu, terutama etnis Bali, tidak berbasis pada kalender Internasional atau Masehi, seperti yang sangat luas digunakan masyarakat umum.

Umat Hindu menggunakan sistem kalender yang berbasis wuku dan sasih(bulan) sedangkan kalender Masehi menggunakan siklus edar Matahari, dimana perbedaan ini menimbulkan masalah tersendiri dalam pola peribadatan uamt Hindu di tengah pergaulan masyarakat umum.

Sebagai misal, umat Hindu ke Pura pada saat Purnama atau Tilem, yang waktunya berbeda hari dan tanggal di setiap bulannya ( bulan Masehi), sehingga umat Hindu tidak pasti bisa beribadah karena bisa saja terbentur dengan kesibukan kerja.

Belum lagi, tidak semua hari raya Hindu, diberikan libur atau cuti nasional. Apakah ada solusi untuk mengatasi permasalahan ini?

Tentu ada! Sebelumnya mari kita kaji dulu, ibadah Agama Hindu itu apa saja, seperti apa yang berjalan selama ini, ibadah dalam Hindu, ada ibadah yang lebih bersifat personal dan ada yang kolekif(sosial), yang personal adalah puja, japa, prartna (doa), mantra (doa spesifik), tapa, brata, yoga dan meditasi. Kemudian yang bersifat sosial adalah suda, dana, gita, tula, duta, yatra, karya dan yadnya.

Ada satu fakta menarik, ternyata umat Hindu belum memiliki waktu ibadah yang rutin mingguan , seperti umat yang lain, Islam setiap Jumat, Yahudi setiap Sabtu dan Nasrani setiap hari Minggu.

Umat beragama lain setiap minggu ada satu hari untuk saling bertemu, berkumpul dan berinteraksi, yang tentunya sangat bermakna dan bermanfaat bagi soliditas dan kerukunan di antara mereka.

Bisa dibandingkan dengan kita, yang hanya sebulan sekali bertemu dalam peribadatan ( atau maksimal dua kali sebulan), jika dibuat rasio, maka kita hanya separuh atau seperempat punya waktu bersama dibandingkan umat lain, tentu ini merupakan suatu kelemahan!

Jadi solusinya bagaimana? Berbasis table di atas, maka cara yang paling efektif adalah :

1. Setiap pengempon Pura, melaksanakan program ibadah Hari Minggu/Redite, yaitu menjalankan ibadah penyucian diri (Sudha) dan penyucian harta ( Dana Artasoca) kemudian dilanjutkan dengan sembahyang bersama, bisa pagi hari , sore hari atau malam hari.

2. Ibadah Sudha adalah ibadah melukat atau pembersihan diri

3. Ibadah Dana Artasoca adalah ibadah pemberian danapunia dari umat kepada yang membutuhkan melalui Badan Artasoca yang dikelola masing-masing Pura

4. Ibadah sembahyang atau puja, bisa ditambahkan dengan Darmatula dan pembacaan Gita

5. Dampak sosial nyata adalah makin kuat jalinan tali silahturahmi antar umat Hindu karrena mereka saling kenal, lebih akrab, lebih berempati satu sama lain, yang akhirnya memperkuat ikatan sosial umat Hindu.

Demikianlah solusi yang ditawarkan, semoga pemikiran ini mendapat perhatian dan dicermati sungguh sungguh terutama oleh PHDI seluruh Nusantara serta para pengempon Pura ( terutama yang berada di luar Bali) sehingga umat Hindu makin kuat dan tangguh dalam menghadapi beragam persoalan hidup.

Ketiga, mempermudah akses peribadatan

Hubungan manusia dengan Tuhan yang harmonis (Sadhana) adalah salah satu pilar kehidupan yang menopang upaya manusia menuju Jagadhita dan Moksa. Inti dari sadhana adalah bakti, yaitu manusia memuja, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan, serta selalu ingat kepada Beliau.

Terkait dengan pemujaan kepada Tuhan, umat Hindu membangun bangunan khusus seperti Pura ( untuk umat Hindu etnis Bali), Candi ( untuk umat Hindu etnis Jawa), Kuil dan Mandira ( untuk umat Hindu etnis India).

Bangunan suci ini umumnya untuk persembahyangan bersama dan upacara yang tentunya melibatkan banyak orang, bagaimana dengan kegiatan sembahyang yang lebih private seperti perorangan, kelompok dan keluarga?

Mengapa tempat sembahyang berukuran kecil mempunyai peran yang penting di masa depan? Khusus di Bali, sejak dulu setiap rumah atau kantor memiliki tempat sembahyang di pojok timur laut, yang dinamakan Pemerajan ( ada pelinggih ) atau tugu padmasana.

Ciri utamanya adalah tempat ini dikelilingi pembatas dan terbuka tanpa atap, dengan demikian ada kelemahannya yaitu rentan terhadap cuaca. Di masa depan umat Hindu, dimanapun berada, sangat membutuhkan tempat pemujaan yang lebih praktis, seperti terbuka untuk semua umat Hindu, tanpa ada kewajiban untuk piodalan atau patoyan atau upacara lainnya, serta aman dan nyaman, tidak masalah siang hari yang panas ,atau hujan turun. Solusinya adalah Dewalaya atau Alaya!

Dewalaya atau Alaya adalah tempat suci untuk pemujaan kepada Tuhan (Dewata), dalam hal ini Dewalaya lebih fleksibel dalam bentuk, bagian dan ukuran dibandingkan dengan Pura, Candi dan Mandir.

Jadi yang diutamakan adalah fungsi, bukan ukuran, dan yang jelas tempat ini adalah tertutup. Dewalaya ada empat macam berdasarkan ukuran :

1. Rumah atau Gedong Dewalaya, ini adalah ukuran yang paling besar, tempat suci berupa rumah atau gedong(bale) yang bisa terdiri dari beberapa ruangan

2. Ruang atau Rong Dewalaya, berukuran lebih kecil dari Gedong, bisa jadi bagian dari Gedong, seperti kamar atau ruangan dalam sebuah rumah. Jadi hanya satu ruangan atau kamar yang difungsikan untuk Dewalaya dalam sebuah bangunan

3. Ruang Terpartisi Dewalaya, dimana sebuah ruangan atau rong dibagi atau dibatasi oleh partisi(pembagi) baik partisi portable, partisi rak atau partisi parsial.

Partisi ini berisi ornament atau symbol religi sebagai tanda atau batas untuk menegaskan fungsi Dewalaya dalam ruangan.

Ruang Terpartisi ini bisa ditambahkan fasilitas altar ( meja persembahan) dan alas seperti matras untuk menunjang posisi sembahyang.

4. Sudut atau Pojok Dewalaya, ini adalah yang ukuran paling kecil, hanya memanfaatkan sudut atau pojok ruangan( sisi Timur Laut), dimana sebuah Pelangkiran ( replika Gunung) terpasang di dinding, kalau tidak ada bisa diganti dengan meja altar yang menyudut posisinya.

Keberadaan Dewalaya sangat penting di masa depan, dimana umat Hindu membutuhkan fasilitas sembahyang yang seragam tanpa dibatasi oleh tradisi etnis.

Kemudian umat Hindu sangat mudah mengakses tempat puja ini, kapanpun, bahkan ketika sibuk bekerja, dan cukup aman dan nyaman selama bersembahyang. Dewalaya bisa digunakan juga untuk meditasi dan yoga, sebagaimana Zendo di Jepang.

Satu hal yang krusial, ketika negara melibatkan dari urusan beribadah, muncul peraturan seperti di setiap Gedung public, SPBU dan rest area jalan TOL disyaratkan harus ada sarana Mushola atau Mesjid untuk umat Islam sembahyang, karena umat yang lain tidak ada kewajiban sembahyang lima kali sehari, maka umat yang lain tidak difaslitasi dengan adil.

Berdasarkan fakta ini, maka kita sebagai umat Hindu, warga negara Indonesia, berkewajiban untuk meminta kepada Pemerintah wajib menyediakan pula fasilitas yang serupa, yaitu Dewalaya tipe Rumah/Gedong dan /atau Dewalaya tipe Ruang di setiap Gedung public, SPBU dan rest area.

Demikian hasil pemikiran ini, kita selalu memuja Tuhan Yang Maha Esa, dan kita selalu membutuhkan Dewalaya, serta mari kita bersatu dan bersama memajukan ke-Hindu-an dalam kehidupan!
 
Keempat, mewujudkan kekuatan media Hindu

Agama itu mempunyai ajaran atau pedoman tentang hidup yang baik dan benar yang wajib diketahui dan diamalkan oleh umat yang meyakininya, yang mana ajaran itu tertulis dalam pustaka suci.

Sakah satu agama terbesar di dunia, Agama Hindu, semua ajarannya termuat dalam Pustaka Suci Weda, yaitu Weda Sruti dan Weda Smerti.

Sesungguhnya Weda terdiri dari banyak pustaka, baik itu di kelompok Sruti maupun di kelompok Smerti. Namun jika disederhanakan, pustaka suci Weda bisa diwakili oleh dua pustaka, yaitu Bhagawadgita( Sruti) dan Sarasamuccaya (Smerti).

Pada kondsi ideal, minimal setiap keluarga memiliki pustaka xuci tersebut, sehingga pendidikan agama sudah bisa dimulai sejak usia dini, melalui pendidikan berbasis Guru Rupaka, para putra dan putri belajar agama dalam suasana atau atmosfir yang menyenangkan dan penuh kasih.

Pola pendidikan ini adalah memadukan tahap Grhasta orang tua melingkupi tahap Brahmacari anak-anak. Pola ini dimulai saat pasangan menikah, dimana suami istri diberikan pustaka suci Bhagawadgita dan Sarasamuccaya sebagai hadiah perkawinan yang utama oleh keluarga atau orang tua masing-masing.

Pustaka suci ini nantinya sebagai asset utama untuk mendidik anak-anaknya kelak dalam dlingkungan keluarga yang sukhinah.

Kedua pustaka suci ini bisa kita sebut sebagai Media, sarana atau wadah ajaran agama yang menjadi sumber informasi dan pengetahuan agama. Namun tentu ada kendala, terutama dari segi Bahasa, karena pustaka suci berbahasa Sansekerta, meski ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia namun tetap ada kesulitan dalam pemahamannya.

Bagaimana solusi untuk membumikan ajaran Weda ke setiap anggota keluarga, yang umumnya awam terhadap ajaran agama.

Menurut penulis, solusinya sebagai berikut :

1. Perlu ada Pusat Bahasa Sansekerta di tiap kota, sebagai pusat pembelajaran dasar atau awal Weda (Weda tertulis dalam Bahasa Sansekerta)

2. Proses pembelajaran dalam Pusat Bahasa Sansekerta, pertama, belajar tata Bahasa Sansekerta, kemudian belajar membaca Huruf Dewanegari, belajar membaca dan melantunkan teks Wedat, menerjemahkan dan menafsirkan teks ke Bahasa Indonesia,

3. Percetakkan Pustaka Suci dan Gerakan Bagi Seribu Weda

4. Pembuatan web dan penyediaan pustaka suci elektronik

5. Acara Rekor Dunia (Roll Terbesar Sruti dan Smerti) pada Venue khusus Demikianlah fungsi penting Media dalam mendukung Misi Hindu ke seluruh dunia, dengan media, ajaran Hindu bisa disampaikan secara luas merata ke seluruh umat dimanapun berada.

Inilah empat langkah perjuangan yang sepatutnya kita upayakan bersama sebagai upaya awal menjaga kondisi persatuan dan kerukunan di internal umat Hindu sekaligus memulai memajukan kesejahteraan umat se-Dharma.

*) Prof I GN Nitya Santhiarsa - Turah mangku A A Ngurah agung, SE

Baca Artikel Menarik Lainnya : BPBD Bali Beraksi : Gempa meluluh lantahkan, Komisioner KPU Disandera Kelompok Bersenjata

Terpopuler

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Melalui Regulasi Adaptif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan

OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Melalui Regulasi Adaptif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan