Jro Gde Sudibya Soroti Tantangan Peningkatan Kualitas SDM Hindu
Jro Gde Sudibya Soroti Tantangan Peningkatan Kualitas SDM Hindu
Admin 2 -
atnews
2026-07-03
Bagikan :
Jro Gde Sudibya (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Intelektual Hindu, Penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali Jro Gde Sudibya mengatakan, pendekatan komprehensif dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Hindu.
"Wacana yang terus berulang sebut saja dalam 5 dasa warsa terakhir, tetapi SDM Hindu tidak beranjak banyak," kata Jro Gde Sudibya dalam merespon pendapat Prof I GN Nitya Santhiarsa dan Turah Mangku A A Ngurah agung, SE soal "Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif" di Denpasar, Jumat (3/7).
Diuraikan, setiap masa ada tantangannya, setiap tantangan ada masanya, tugas kita mempersiapkan diri untuk menjawab semua tantangan yang ada. Tanpa sadari, ternyata Hindu berkembang ke arah makin ekslusif, padahal sejak diakui negara sebagai agama resmi di Indonesia, Hindu berusaha bertransformasi menjadi agama yang universal, menyatukan berbagai tradisi Hindu yang etnosentris, seperti bagaimana menyatukan Hindu Bali, Hindu India, Hindu Jawa, Hindu Karo dan lain-lain dalam satu istilah yaitu Agama Hindu atau Hindu Dharma, setelah itu bersama-sama berjuang untuk memajukan kesejahteraan (Jagadhita).
Menurutnya, Majelis umat Hindu (PHDI) kinerjanya sangat terbatas, dalam bahasa Bali "apang kuala ada" berprestasi marginal, pas-pasan, tidak berkontribusi banyak dalam pengembangan SDM.
Lobi politik yang lemah dalam "memperebutkan" sumber daya negara, kalah jauh dengan umat lainnya. Sehingga organisasi keagamaan Hindu jalan di tempat.
Ada upaya orang per orang dengan idealisme dan sumber daya terbatas, tidak lebih dari "sekehe demen" dengan kinerja pengembangan SDM umat seadanya.
Tidak lahir kultur ethos kerja pelayanan yang sangat menonjol dari organisasi agama lainnya.
Bahkan lebih parah lagi, posisi kepemimpinan umat sebagai "anak tangga" untuk merebut posisi kekuasaan.
Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional jelas tercantum model Pasraman adalah model pendidikan Hindu, tetapi nyatanya Pasraman tamsilnya "hidup segan mati tak mau" kontras dengan terus bertumbuhnya model pendidikan agama lainnya.
"Ada yang salah dalam kepemimpinan umat Hindu, rendahnya komitment umat Hindu untuk meningkatkan kualitas SDM saudaranya se - Dharma," ujarnya.
Belum lagi, masyarakat sudah "berkeping", mengalami polarisasi, dulu karena feodalisme, sekarang politik "devide at impere" yang "diproduksikan" kekuasaan, dalam fenomena Dresta Bali vs Sampradaya Asing.
Dengan dwlemikian, persoalan internal umat Hindu yang akut, yang harus diselesaikan oleh para elitenya.
Tidak terjebak dalam wacana klasik, sastra Hindu begitu kaya dan mulia tetapi gagal direalisasikan. Persoalan serius keimanan, kualitas SDM, kekalahan bersaing, di "lari" kan ke rujukan keimanan/sraddha yang tidak berhasil direalisasikan (Z/002)