Denpasar (Atnews) - United In Diversity (UID) Bali Campus, Kura Kura Bali SEZ - United In Diversity Foundation menggelar UID Talk episode ke-28 bertajuk "Indonesia's Economic Outlook: Peluang, Tantangan, dan Arah ke Depan" di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Denpasar, Sabtu (4/7).
Dengan menghadirkan Anindya Bakrie, Ketua Umum KADIN Indonesia, sebagai pembicara utama.
Anindya Bakrie membawakan kuliah umum selama 30 menit, dilanjutkan dengan sesi talkshow bersama Prof. Dr. I Nyoman Mahaendra Yasa, S.E., M.Si., Guru Besar Ekonomi Regional dan Ketimpangan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, dengan Trisno Nugroho, mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali (2019–2023), sebagai moderator. Hadir pula Ketua Umum KADIN Bali Made Ariandi.
Acara itu dihadiri sekitar 120 peserta yang terdiri dari pengusaha lokal, anggota KADIN Bali, akademisi, hingga mahasiswa.
Acara dibuka oleh Tantowi Yahya, Presiden United In Diversity Foundation, yang dalam sambutannya menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini sebesar 5,61 persen, tertinggi dalam tiga belas tahun terakhir, sekaligus mengingatkan besarnya ketergantungan Bali pada sektor pariwisata yang menyumbang sekitar 56 hingga 60 persen dari perekonomian daerah, sehingga transformasi menuju model bisnis yang tumbuh bersama Bali menjadi keniscayaan.
Ia menegaskan bahwa United In Diversity hadir sebagai ruang pertemuan lintas sektor bagi pelaku bisnis, pemerintah, akademisi, dan generasi muda untuk saling mendengar dan menantang cara pandang masing-masing, semangat yang menjadi landasan penyelenggaraan UID Talk.
Dalam paparannya, Anindya Bakrie menyampaikan bahwa narasi investasi global terhadap Indonesia telah memasuki babak baru.
Jika sebelumnya Indonesia banyak dijual berdasarkan "potensi", seperti bonus demografi dan kekayaan sumber daya alam, kini investor global menilai Indonesia dari kemampuan eksekusi nyata.
Ia menyebut tiga kriteria yang kini menjadi tolok ukur utama investor, yakni kemampuan eksekusi proyek secara cepat dan presisi, kepastian regulasi yang konsisten dan dapat diprediksi, serta ketersediaan talenta yang mampu beralih dari pekerja berbasis komoditas menuju peran berbasis inovasi dan teknologi.
Ia menegaskan bahwa dunia kini bergerak dari logika "harga murah" menuju "kepercayaan", di tengah lanskap geopolitik yang semakin terfragmentasi.
Dari sisi makroekonomi, Anindya Bakrie memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2024 tercatat sebesar 5,11 persen, tertinggi di antara negara-negara berekonomi besar, dengan rasio utang terhadap PDB yang terjaga di angka 46 persen. Ia menyebut Indonesia perlu mencapai pertumbuhan pada kisaran 5,5 hingga 6 persen dalam periode 2026 hingga 2027 untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Dengan strategi "China Plus One", Indonesia disebut memiliki posisi tawar yang kuat, ditopang surplus perdagangan bulanan sekitar 2 miliar dolar AS, yang membuka ruang negosiasi lebih besar untuk masuk ke rantai pasok teknologi tinggi seperti semikonduktor dan energi hijau.
Anindya Bakrie juga menekankan pentingnya pergeseran dari ekonomi berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis sumber daya manusia.
Ia mencontohkan transisi energi melalui hilirisasi nikel, tembaga, dan bauksit menuju manufaktur baterai dan kendaraan listrik, serta potensi Indonesia dalam revolusi digital dan AI, khususnya lewat keunggulan energi hijau dari hydro dan geothermal yang dibutuhkan pusat data global.
Ia menyebut Indonesia sudah menjadi bagian dari rantai pasok global, mulai dari komponen pesawat Boeing hingga produk seperti Uniqlo, Starbucks, dan Milo, dan tantangan ke depan adalah meningkatkan nilai tambah dari posisi tersebut.
Sementara itu, Prof. Nyoman Mahaendra Yasa menyoroti tantangan spesifik yang dihadapi Bali melalui gagasan "Bali Berubah untuk Melompat". Ia mengingatkan bahwa ekonomi Bali sempat terkontraksi hingga minus 9,7 persen saat pandemi Covid-19, jauh lebih dalam dibanding rata-rata nasional, akibat ketergantungan pada satu sektor yakni pariwisata.
Untuk mencegah kerentanan serupa terulang, disusun peta jalan jangka panjang lewat Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, dengan fokus pada pariwisata berkualitas yang mengutamakan nilai dibanding volume kunjungan, penguatan ekonomi digital dan kreatif, pertanian organik, ekonomi biru, serta energi hijau, dengan tetap menjaga tiga aset utama Bali yakni alam, krama, dan budaya.
Diskusi turut menyinggung sejumlah tantangan sistemik yang perlu diatasi, mulai dari korupsi yang dinilai menggerus daya saing sektor swasta, kesenjangan antara target kebijakan tingkat tinggi dengan realitas eksekusi di lapangan, hingga ancaman degradasi lingkungan seperti abrasi pantai di Bali yang di beberapa titik telah menyusut drastis.
Anindya Bakrie menutup sesi dengan menegaskan bahwa Indonesia perlu menjadikan stabilitas dan netralitas geopolitik sebagai keunggulan, beralih dari orientasi ekspor sumber daya alam menuju ekspor inovasi dan produk bernilai tinggi, serta membangun kepastian regulasi yang bersih dari korupsi agar mampu menarik investasi jangka panjang dan keluar dari jebakan pendapatan menengah menuju visi Indonesia Emas 2045.
Melalui program UID Talk, UID berkomitmen untuk terus melaksanakan diskusi-diskusi strategis lintas sektor, membahas isu-isu penting bagi masa depan Indonesia, sekaligus menjadi ruang belajar dan berdiskusi bagi masyarakat luas, khususnya generasi muda Bali. (Z/002)