Kolaborasi UID Bali Campus dan KADIN: Dorong Lompatan Ekonomi Indonesia Menuju Eksekusi Nyata
Banner Bawah

Kolaborasi UID Bali Campus dan KADIN: Dorong Lompatan Ekonomi Indonesia Menuju Eksekusi Nyata

Admin 2 - atnews

2026-07-05
Bagikan :
Dokumentasi dari - Kolaborasi UID Bali Campus dan KADIN: Dorong Lompatan Ekonomi Indonesia Menuju Eksekusi Nyata
Kolaborasi UID Bali Campus dan KADIN (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) – United In Diversity (UID) Bali Campus kembali menggelar ruang diskusi strategis lintas sektor melalui UID Talk episode ke-28 yang berlangsung di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali. 

Dengan mengusung tema "Indonesia's Economic Outlook: Peluang, Tantangan, dan Arah ke Depan", forum ini menghadirkan Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya Bakrie, sebagai pembicara utama.

Acara yang dihadiri oleh sekitar 120 peserta dari kalangan pengusaha lokal, anggota KADIN Bali, akademisi, hingga mahasiswa ini diawali dengan kuliah umum selama 30 menit oleh Anindya Bakrie. 

Agenda kemudian dilanjutkan dengan sesi talkshow bersama Guru Besar FEB Universitas Udayana, yang juga merupakan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Bali, Prof. Dr. I Nyoman Mahaendra Yasa, S.E., M.Si., yang dipandu oleh Trisno Nugroho, mantan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali periode 2019–2023, selaku moderator. Acara itu juga dihadiri Ketum KADIN Bali Made Ariandi.

Dalam sambutan pembukanya, Presiden UID Foundation, Tantowi Yahya, memberikan apresiasi atas capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang mencatatkan angka 5,61 persen pada kuartal pertama tahun ini. 

Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi dalam tiga belas tahun terakhir. Namun, di sisi lain, Tantowi juga memberikan catatan kritis mengenai struktur ekonomi Bali yang masih sangat bertumpu pada satu sektor tunggal.

"Perekonomian daerah Bali saat ini masih memiliki ketergantungan yang sangat besar pada sektor pariwisata, yakni menyumbang sekitar 56 hingga 60 persen. 

Oleh karena itu, transformasi menuju model bisnis yang tumbuh bersama Bali telah menjadi sebuah keniscayaan, " Sementara itu, Anindya Bakrie dalam paparannya menekankan bahwa narasi investasi global terhadap Indonesia kini telah bergeser secara fundamental. 

Investor internasional tidak lagi sekadar melihat Indonesia dari dokumen di atas kertas mengenai "potensi" alam atau bonus demografi, melainkan dari rekam jejak eksekusi yang riil. 

Di tengah fragmentasi geopolitik dunia, logika pasar telah berubah dari sekadar mencari "harga murah" menjadi mencari "kepercayaan".

"Ada tiga kriteria yang menjadi tolok ukur utama saat ini, yakni ; kemampuan eksekusi proyek secara cepat dan presisi, kepastian regulasi yang konsisten serta dapat diprediksi, dan ketersediaan talenta yang mampu beralih dari pekerja berbasis komoditas menuju peran berbasis inovasi dan teknologi," ujarnya. 

Dari perspektif makroekonomi, Anindya memaparkan performa Indonesia yang solid, termasuk pertumbuhan kuartal pertama 2024 sebesar 5,11 persen—tertinggi di antara negara-negara berekonomi besar—dengan rasio utang terhadap PDB yang sehat di angka 46 persen. 

Indonesia juga ditopang oleh surplus perdagangan bulanan yang konsisten di kisaran 2 miliar dolar AS. Posisi tawar yang kuat ini, ditambah dengan strategi “China Plus One”, membuka peluang besar bagi Indonesia untuk masuk ke rantai pasok teknologi tinggi seperti semikonduktor dan energi hijau.

Lebih lanjut, Anindya menegaskan pentingnya mempercepat transisi dari ekonomi berbasis sumber daya alam (SDA) ke ekonomi berbasis sumber daya manusia (SDM). Hal ini tercermin dari hilirisasi nikel, tembaga, dan bauksit menjadi manufaktur baterai serta kendaraan listrik. 

"Selain itu, potensi energi hijau dari hydro dan geothermal Indonesia sangat strategis untuk memasok kebutuhan pusat data (data center) global dalam revolusi digital dan AI. Saat ini, Indonesia bahkan telah menjadi bagian dari rantai pasok global untuk merek-merek besar seperti Boeing, Uniqlo, Starbucks, dan Milo," tambah Anindya.

Menanggapi dinamika ekonomi tersebut, Prof. Nyoman Mahaendra Yasa membawa fokus diskusi pada tantangan spesifik yang dihadapi oleh Pulau Dewata. 

Pengalaman pahit pandemi Covid-19, di mana ekonomi Bali sempat hancur dan terkontraksi hingga minus 9,7 persen (jauh lebih dalam dari rata-rata nasional), menjadi pelajaran berharga akan bahayanya ketergantungan pada satu sektor ekonomi saja.

"Untuk mencegah kerentanan ekonomi serupa terulang kembali di masa depan, kita telah menyusun peta jalan jangka panjang melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun dengan gagasan 'Bali Berubah untuk Melompat'. 

Fokus kita ke depan adalah menggeser arah pariwisata menuju pariwisata berkualitas yang mengutamakan nilai (value) ketimbang sekadar volume kunjungan.

Selain itu, kita harus memperkuat sektor ekonomi digital dan kreatif, pertanian organik, ekonomi biru, serta energi hijau, dengan tetap menjaga tiga aset utama Bali yang tidak ternilai, yaitu alam, krama (manusia), dan budayanya," bubarnya.

Selain membahas peluang, forum UID Talk ke-28 ini secara transparan membedah sejumlah tantangan sistemik yang masih menjegal langkah Indonesia. 

Persoalan korupsi dinilai menjadi benalu utama yang menggerus daya saing sektor swasta. Di samping itu, terdapat kesenjangan yang lebar antara target kebijakan tingkat tinggi di ibu kota dengan realitas eksekusi riil di lapangan, serta ancaman nyata degradasi lingkungan seperti abrasi pantai di beberapa titik kritis di Bali.

Sebagai penutup sesi, Anindya Bakrie kembali menegaskan peta jalan yang harus ditempuh Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) menuju visi besar Indonesia Emas 2045. Indonesia harus mampu mempertahankan stabilitas dan netralitas geopolitiknya sebagai keunggulan komparatif.

Ia menggarisbawahi bahwa kunci masa depan bangsa terletak pada keberhasilan mengalihkan orientasi dari ekspor bahan mentah menuju ekspor inovasi dan produk bernilai tambah tinggi, yang didukung penuh oleh penegakan kepastian regulasi yang bersih dari praktik korupsi guna menjaring investasi jangka panjang. 

Sedangkan, Ketum KADIN Bali Ariandi mengajak seluruh pengusaha agar membayar pajak dengan kejujuran.

Upaya itu sebagai bentuk nyata dalam mendukung membangun bangsa. Semakin besar pajak yang dibayarkan, pertanda semakin sukses dalam finansial.

Mengingat kemajuan bangsa, besar dipengaruhi oleh peran dan kontribusi para pengusahanya.

Untuk itu, KADIN Bali terus mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha muda.

Menurutnya, Bali tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Namun Bali mempunyai SDM. Maka SDM Bali agar memiliki daya saing global dan siap menjadi pengusaha muda.

Kesiapan SDM tersebut akan menentukan kemajuan daerah dan negara. Sedangkan KADIN sendiri menjadi mitra strategis pemerintah untuk menaikkan dunia usaha sesuai Undang-undang Nomor 1 Tahun 1987. 

KADIN mendapatkan kesempatan untuk menaungi seluruh dunia usaha dari asosiasi yang banyak hadir di Bali. Serta memiliki praktisi usaha berbagai bidang baik pendidikan, pertanian, pertanian, impor/ekspor hingga pariwisata.

Meskipun KADIN tidak mampu memberikam modal langsung usaha. Namun KADIN memiliki mitra lembaga dan organisasi, siap melalukan koordinasi dan kerja sama. (GAB/SUK/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Ketum Dharma Pertiwi Kunjungi Museum Mahatma Gandhi di India

Terpopuler

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Melalui Regulasi Adaptif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan

OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Melalui Regulasi Adaptif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan