Denpasar (Atnews) - Seiring dengan program pemerintah Provinsi Bali yaitu pengembangan pertanian organik, pertanian khususnya tanaman pangan yaitu padi di Subak Timbul, Desa Pupuan Kecamatan Tegallalang, Gianyar terus didorong untuk memperoleh sertifikat organik guna menjaga kelestarian padi lokal, yaitu Padi Mansur dan lingkungan selain memberikan nilai tambah produk. Demikian disampaikan oleh Rektor Dwijendra University, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.MMA.
Saat melakukan pembahasan tindak lanjut pengembangan pertanian organik bersama dengan Konjen Jepang, Miyakawa Katsutoshi, yang didampingi oleh Tim Waseda University, dan juga dibersamai dengan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali dan Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gianyar di kediaman Konjen, Senin, 13 Juli 2026.
Konjen Jepang, Katsutoshi, menekankan agar kegiatan riset tentang peningkatan nilai tambah melalui rantai nilai beras dapat memberikan manfaat ekonomis dan budaya bagi para petani anggota subak dan sekitarnya.
Katsutoshi meminta agar Dinas Pertanian baik di tingkat provinsi dan kabupaten untuk memfasilitasi dan mendukung kegiatan riset yang dilakukan melalui kerjasama antara Waseda University dengan Dwijendra University yang didanai oleh JICA (Japan International Cooperation Agency).
Perolehan sertifikat organik akan difasilitasi oleh Dinas Pertanian melalui Lembaga Sertifikasi Organik "Kertha Bali Sejahtera" ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, SP. M.Agb.
Sedana lebih lanjut menambahkan bahwa para petani melalui unit bisnisnya, Timbul Harmoni agar terus diperkuat kapasitasnya dalam manajemen bisnis untuk peningkatan pendapatan. Selain itu, branding Bali pada kemasan produk Beras Mansur harus terlihat secara jelas, seperti penggunaan aksara Bali (Z/002)